MOMSMONEY.ID - Nilai akademik bukan satu-satunya kemampuan yang dibutuhkan anak untuk menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI). Hasil PISA 2025 menunjukkan sejumlah kemampuan lain yang juga penting dalam proses belajar.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencatat sejumlah perkembangan dalam kemampuan murid Indonesia melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2025.
Skor sains Indonesia naik 6 poin menjadi 389 dari 383 pada PISA 2022. Skor membaca juga meningkat 6 poin menjadi 365 dari sebelumnya 359. Sementara itu, skor matematika Indonesia berada di angka 364.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Toni Toharudin mengatakan, performa pendidikan Indonesia relatif stabil di tengah tren penurunan skor negara-negara OECD.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” jelas Toni dalam keterangan resmi, Selasa (8/9).
Baca Juga: Moms, Ini 3 Fondasi Penting untuk Mendukung Anak Lebih Siap Belajar dan Eksplorasi
Namun, ada hal lain dari hasil PISA 2025 yang menarik untuk diperhatikan orang tua. Data tersebut tidak hanya menggambarkan capaian akademik murid, tetapi juga sejumlah kemampuan yang berkaitan dengan proses belajar dan menghadapi informasi.
OECD mencatat murid usia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan atau curiosity yang termasuk salah satu yang tertinggi. Murid Indonesia juga telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri.
Selain itu, murid Indonesia menunjukkan capaian yang lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan pada mata pelajaran yang lebih konvensional.
Kemampuan lain yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi adalah kemampuan menilai informasi. Hasil PISA 2025 menunjukkan murid Indonesia lebih sering terlibat dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan AI dibanding murid di banyak negara lain di dunia.
Lantas, kemampuan apa saja yang dapat menjadi perhatian orang tua dalam mendampingi proses belajar anak? Berikut beberapa di antaranya.
1. Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu menjadi salah satu kemampuan yang terlihat menonjol dalam hasil PISA 2025. Karena itu, proses belajar anak tidak harus selalu berpusat pada kemampuan menghafal jawaban.
Orang tua dapat memberi ruang bagi anak untuk bertanya, mencari tahu alasan di balik suatu hal, dan mengeksplorasi topik yang menarik perhatian mereka.
Kebiasaan tersebut sejalan dengan temuan PISA yang menunjukkan tingkat keingintahuan murid Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi.
Baca Juga: Tak Cuma Kejar Nilai, Sekolah Juga Fokus Kembangkan Karakter dan Berpikir Kritis Anak
2. Kemampuan belajar mandiri
PISA 2025 juga menunjukkan, murid Indonesia telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri. Kemampuan ini dapat terus diasah dengan memberikan ruang kepada anak untuk mencoba memahami atau menyelesaikan sesuatu sendiri.
Orang tua dapat mendampingi proses tersebut tanpa selalu memberikan jawaban sejak awal. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk mencoba, mencari tahu, dan belajar dari proses yang dijalaninya.
3. Kemampuan memecahkan masalah
Kemampuan pemecahan masalah komputasional juga menjadi salah satu temuan dalam PISA 2025. Murid Indonesia menunjukkan capaian yang lebih baik dalam kemampuan tersebut dibandingkan pada mata pelajaran yang lebih konvensional.
Kemampuan memecahkan masalah dapat dikembangkan melalui pengalaman belajar yang membuat anak tidak hanya menerima jawaban, tetapi juga mencari cara untuk menemukan solusi atas suatu persoalan.
4. Kemampuan menilai informasi AI
Ketika anak semakin dekat dengan teknologi, kemampuan membedakan informasi yang dapat dipercaya menjadi semakin penting. Hasil PISA 2025 menunjukkan murid Indonesia lebih sering terlibat dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan AI dibandingkan murid di banyak negara lain.
Orang tua dapat mendampingi anak ketika menggunakan AI dan informasi digital dengan mengajak mereka mempertanyakan serta menilai kredibilitas informasi yang diperoleh, bukan sekadar menerima jawaban yang tersedia.
Baca Juga: Bukan Cuma Jago AI, Ini Keterampilan yang Perlu Dimiliki Anak
Keempat kemampuan tersebut tidak berarti menggantikan pentingnya kemampuan akademik. Justru, hasil PISA 2025 menunjukkan kemampuan sains dan membaca murid Indonesia juga mengalami peningkatan.
Kemendikdasmen kemudian menetapkan sejumlah strategi untuk menindaklanjuti hasil PISA 2025, termasuk penguatan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter murid.
Peran keluarga juga menjadi bagian dari strategi tersebut melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan penguatan kemitraan orang tua dalam pembelajaran mendalam.
Dengan demikian, mendampingi anak belajar tidak hanya soal membantu menyelesaikan tugas sekolah. Memberikan ruang untuk bertanya, mencoba, memecahkan masalah, belajar secara mandiri, serta menilai informasi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar anak sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News