M O M S M O N E Y I D
Santai

8% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau 2025, Di Mana Saja?

8% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau 2025, Di Mana Saja?
Reporter: SS. Kurniawan  |  Editor: S.S. Kurniawan


MOMSMONEY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebutkan, baru 8% zona musim di Indonesia masuk musim kemarau per 10 Mei 2025 lalu.

BMKG pun mengingatkan, musim kemarau biasanya diiringi peningkatan suhu dan memburuknya kualitas udara. 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, risiko kekeringan dan polusi udara, terutama partikulat halus PM 2.5, semakin tinggi karena curah hujan yang minim dan pergerakan angin yang stagnan. 

BMKG kini memantau kualitas udara dan menyajikannya secara real-time melalui aplikasi Info BMKG, yang dapat diakses masyarakat untuk mengambil tindakan mitigasi sejak dini.

"Tantangan ini tidak bisa dihadapi oleh satu lembaga atau sektor saja," kata Dwikorita, dilansir dari situs resmi BMKG, Selasa (13/5).

Butuh kolaborasi lintas kementerian, lembaga, akademisi, komunitas, dan dunia usaha untuk memperkuat sistem peringatan dini dan ketahanan kesehatan nasional. 

Dwikorita juga menyampaikan kesiapan BMKG untuk terus berbagi data dan teknologi yang dimilikinya kepada semua pihak yang ingin berkolaborasi.

"Kita sedang berpacu dengan waktu. Semakin cepat kita bertindak, semakin besar peluang kita menyelamatkan masyarakat dari dampak paling buruk perubahan iklim. Kolaborasi adalah satu-satunya jalan," tegasnya.

Baca Juga: Indonesia Masuk Musim Kemarau 2025, BMKG Ingatkan Risiko Ini

Berikut wilayah yang sudah mengalami musim kemarau:

  • Sebagian kecil Aceh
  • Sebagian kecil Sumatra Utara
  • Sebagian kecil Banten
  • Sebagian kecil Jawa Barat
  • Sebagian kecil Jawa Tengah
  • Sebagian kecil Jawa Timur
  • Sebagian kecil Bali
  • Sebagian kecil Nusa Tenggara Barat
  • Sebagian kecil Nusa Tenggara Timur
  • Sebagian kecil Sulawesi Barat
  • Sebagian kecil Sulawesi Tengah
  • Sebagian kecil Papua Barat

Sementara daerah kurang hujan dengan kategori panjang sampai akhir April lalu ada Probolinggo, Jawa Timur, yakni selama 27 hari.

Sebelumnya, BMKG menyatakan, awal musim kemarau tahun 2025 telah terjadi mulai April dan akan berlangsung secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG memperkirakan, musim kemarau tahun 2025 akan berlangsung lebih singkat dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia.

 Hal ini berdasarkan pemantauan dan analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan BMKG hingga pertengahan April 2025.

"Awal musim kemarau di Indonesia diprediksi tidak terjadi secara serempak," ungkap Dwikorita dalam siaran pers pertengahan April lalu.

Baca Juga: Transisi Menuju Musim Kemarau, Hujan Meningkat di Selatan Indonesia

Pada April 2025, sebanyak 115 zona musim (ZOM) akan memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan meningkat pada Mei dan Juni, seiring meluasnya wilayah yang terdampak. 

"Termasuk sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua," ujar Dwikorita.

Fenomena iklim global seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam fase netral. 

Ini menandakan, tidak ada gangguan iklim besar dari Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia hingga semester kedua tahun ini. 

Tapi, Dwikorita mengungkapkan, suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung lebih hangat dari normal dan bisa bertahan hingga September, yang dapat memengaruhi cuaca lokal di Indonesia.

Dia menyebutkan, puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025. 

BMKG memprediksikan, wilayah-wilayah seperti Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku mengalami puncak kekeringan pada Agustus.

Terkait sifat musim kemarau 2025, sekitar 60% wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26% wilayah mengalami kemarau lebih basah dari normal, dan 14% wilayah lainnya lebih kering dari biasanya.

"Durasi kemarau diprediksi lebih pendek dari biasanya di sebagian besar wilayah, meskipun terdapat 26% wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan," sebut Dwikorita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Bitcoin Ambles Hampir 6%, Sinyal Bearish atau Volatilitas Jangka Pendek?

Kebijakan Federal Reserves menahan tingkat suku bunga, menyebabkan harga Bitcoin (BTC) ambles.      

Bitcoin cs Tiarap karena Sikap The Fed, Investor Disarankan Lakukan Ini!

Di balik keputusan suku bunga The Fed pada rapat akhir Januari 2026, memunculkan sinyal ketidakpastian baru.

14 Khasiat Konsumsi Terong untuk Kesehatan Tubuh yang Tak Banyak Diketahui

Ada beberapa khasiat konsumsi terong untuk kesehatan tubuh yang tak banyak diketahui. Cek di sini, yuk!

14 Manfaat Olahraga secara Rutin bagi Kesehatan Tubuh dan Mental

Ternyata ini manfaat olahraga secara rutin bagi kesehatan tubuh dan mental. Apa saja?               

7 Khasiat Konsumsi Tomat bagi Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Yuk, ketahui sejumlah khasiat konsumsi tomat bagi kesehatan tubuh yang jarang diketahui berikut ini!

Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (31/1) Jabodetabek Hujan Lebat Turun Merata

Peringatan dini BMKG cuaca besok Sabtu (31/1) dan Minggu (1/2) di Jabodetabek hujan sangat lebat dan lebat di wilayah berikut ini.

14 Menu Terbaik untuk Sarapan agar Berat Badan Turun

Intip beberapa menu terbaik untuk sarapan agar berat badan turun berikut ini, yuk! Tertarik mencobanya?

8 Rutinitas Malam yang Meningkatkan Energi di Keesokan Harinya

Coba beberapa rutinitas malam yang meningkatkan energi di keesokan harinya berikut ini, yuk!        

Tayang 5 Februari, Film CAPER Angkat Cerita Soal Dinamika Orang Terjerat Pinjol

Film Check Out Sekarang, Pay Later atau CAPER yang mengusung drama komedi yang akan tayang di bioskop mulai 5 Februari 2026. 

Anak Susah Makan? Coba Metode Lahap ala Gerakan Lahap Makan SUN

​Lewat Gerakan Lahap Makan, SUN mengajak ibu memahami waktu, variasi menu, dan cara pemberian makan yang tepat untuk anak susah makan.