MOMSMONEY.ID - Ubah pendapatan biasa menjadi aset jangka panjang lewat 7 cara sederhana, dari mengelola uang, investasi, utang, bisnis hingga dana darurat.
Membangun kekayaan tidak selalu harus dimulai dari penghasilan yang besar. Justru, cara seseorang menggunakan sisa pendapatan setelah kebutuhan bulanan terpenuhi bisa menentukan apakah uang tersebut habis atau berubah menjadi aset.
Melansir dari New Trader U, Steve Burns menjelaskan bahwa orang yang membangun kekayaan cenderung mengarahkan sebagian pendapatannya untuk memiliki aset dan sumber penghasilan masa depan.
Bagi Anda, konsep ini tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, tujuan, serta kemampuan menghadapi risiko. Jadi, bukan soal berapa besar gaji yang diterima, melainkan bagaimana sebagian pendapatan tersebut dikelola secara konsisten.
“Pendapatan biasa dapat menjadi kekayaan jangka panjang ketika digunakan berulang kali untuk membeli kepemilikan, fleksibilitas, dan aset penghasil pendapatan,” ujar Steve Burns, founder New Trader U sekaligus trader dan edukator pasar keuangan.
Baca Juga: Tips Memisahkan Modal Jualan Online dan Uang Belanja Dapur biar Tetap Stabil
Ubah pendapatan lebih menjadi modal
Ketika penghasilan meningkat, keinginan untuk ikut menaikkan gaya hidup biasanya ikut muncul. Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja, tetapi sebagian pendapatan tambahan bisa dialihkan terlebih dahulu menjadi modal.
Modal tersebut dapat digunakan untuk investasi atau mengembangkan sumber penghasilan lain. Bentuknya bisa berbeda-beda, seperti reksa dana, saham, surat berharga, usaha, atau aset produktif lainnya.
Intinya, jangan sampai seluruh kenaikan pendapatan langsung berubah menjadi kenaikan pengeluaran.
Pahami utang sebelum mengambilnya
Utang tidak selalu memiliki tujuan yang sama. Pinjaman untuk kebutuhan konsumtif dapat membebani arus kas, sedangkan pembiayaan yang digunakan untuk aset atau kegiatan produktif memiliki perhitungan berbeda.
Meski begitu, utang produktif bukan berarti bebas risiko. Sebelum meminjam, hitung kemampuan membayar cicilan, bunga, biaya tambahan, dan kemungkinan pendapatan turun.
Jangan hanya menghitung keuntungan ketika semuanya berjalan sesuai rencana. Siapkan juga skenario ketika aset tidak menghasilkan sesuai harapan.
Kenali aset yang bisa menghasilkan pendapatan
Properti tidak hanya dapat digunakan sebagai tempat tinggal. Aset tersebut juga dapat menghasilkan pendapatan jika disewakan, tetapi perhitungannya harus lebih lengkap daripada sekadar membandingkan harga beli dengan uang sewa.
Ada biaya perawatan, pajak, asuransi, renovasi, masa properti kosong, hingga cicilan apabila pembelian menggunakan pembiayaan.
Karena itu, properti bukan aset yang otomatis menghasilkan uang. Pengelolaannya tetap membutuhkan waktu, biaya, dan perhitungan yang matang.
Bangun bisnis yang tidak bergantung sepenuhnya pada pemilik
Pendapatan dari pekerjaan biasanya sangat bergantung pada waktu dan tenaga seseorang. Sementara itu, bisnis yang mempunyai pelanggan, sistem kerja, karyawan, dan proses operasional yang jelas dapat memiliki sumber pendapatan yang lebih terstruktur.
Tidak harus langsung membangun perusahaan besar. Usaha jasa, produk digital, bisnis lokal, atau model usaha dengan pelanggan berulang juga dapat menjadi titik awal.
Yang penting, sebelum menanamkan modal, pahami terlebih dahulu pemasukan, biaya, jumlah pelanggan, arus kas, serta risiko usaha tersebut.
Baca Juga: 12 Kesalahan Mengatur Uang yang Sering Terjadi dan Cara Menghindarinya
Jangan abaikan pajak dan biaya investasi
Hasil investasi bukan hanya tentang berapa besar keuntungan yang terlihat di atas kertas. Pajak dan biaya transaksi juga dapat mengurangi hasil bersih yang diterima.
Karena aturan pajak setiap negara berbeda, contoh rekening investasi dari luar negeri tidak bisa langsung diterapkan di Indonesia. Investor perlu memahami ketentuan pajak dan biaya yang berkaitan dengan instrumen yang dipilih.
Perencanaan pajak juga sebaiknya tidak menjadi alasan untuk membeli aset yang sebenarnya tidak sesuai tujuan keuangan.
Tetap punya uang tunai
Memiliki aset memang penting, tetapi seluruh uang sebaiknya tidak ditempatkan dalam aset yang sulit dicairkan.
Dana darurat dapat digunakan ketika terjadi pengeluaran mendadak, seperti kehilangan penghasilan, perbaikan kendaraan, kebutuhan keluarga, atau keperluan penting lainnya.
Setelah kebutuhan dana darurat terpenuhi, sebagian uang yang tetap likuid juga dapat menjadi cadangan ketika muncul peluang keuangan. Dengan begitu, seseorang tidak harus buru-buru menjual aset hanya karena membutuhkan uang.
Gunakan uang untuk menghemat waktu
Ketika aset dan aktivitas keuangan semakin banyak, pekerjaan administratif juga bisa bertambah. Pembukuan, administrasi pajak, hingga pengelolaan aset dapat menyita waktu.
Menggunakan jasa profesional bisa menjadi pilihan apabila biaya tersebut sepadan dengan manfaat yang diperoleh. Namun, seseorang tetap perlu memahami kondisi keuangannya dan tidak menyerahkan seluruh keputusan begitu saja.
Bagi yang baru mulai, menghemat waktu bisa dilakukan dengan cara sederhana, misalnya membuat transfer tabungan otomatis, memisahkan rekening, mencatat pengeluaran, dan melakukan evaluasi keuangan secara berkala.
Cara sederhana memulai membangun aset
Tidak perlu menunggu punya gaji besar untuk mulai membangun aset. Langkah awalnya justru bisa dibuat sederhana:
- Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran.
- Pisahkan kebutuhan utama dari pengeluaran yang bisa dikurangi.
- Siapkan dana darurat.
- Kelola utang konsumtif dengan disiplin.
- Tentukan tujuan keuangan berdasarkan jangka waktu.
- Pelajari investasi sebelum menempatkan uang.
- Sisihkan pendapatan secara rutin.
- Evaluasi aset dan kondisi keuangan secara berkala.
Mengubah pendapatan biasa menjadi aset bukan proses yang terjadi dalam semalam. Sebagian uang perlu disisihkan secara konsisten untuk membangun kepemilikan, menjaga likuiditas, dan menciptakan sumber pendapatan di masa depan.
Tidak semua strategi cocok untuk setiap orang. Investasi, properti, bisnis, dan instrumen keuangan memiliki risiko serta karakteristik masing-masing.
Karena itu, keputusan sebaiknya dibuat berdasarkan tujuan, kondisi keuangan, dan kemampuan menghadapi risiko, bukan sekadar mengikuti strategi orang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News