MOMSMONEY.ID - Kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September 2026 menandai babak baru pasar obligasi global. Setelah lebih dari tiga tahun tidak menaikkan suku bunga, bank sentral Amerika Serikat (AS) pada September akhirnya mengerek bunga acuan 25 bps menjadi 3,75%-4,00%.
Federal Reserve memperketat kebijakan moneternya di tengah inflasi yang masih tinggi dan ekonomi yang tetap kuat.
Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), mengatakan, perubahan proyeksi suku bunga netral jangka panjang The Fed dari 3% menjadi 3,2% menonfirmasi bahwa era suku bunga rendah telah berlalu.
Buntutnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST) tenor 10 tahun pun melonjak ke 5,11% pada akhir September, tertinggi sejak 2007.
“Saat ini, kita memasuki rezim di mana suku bunga yang lebih tinggi mulai menjadi the new normal dan bukan sekadar siklus sementara,” kata Syuhada dalam ulasan Seeking Alpha edisi Oktober 2026, yang dirilis 15 Oktober 2026.
Akibat kombinasi tekanan inflasi dan penguatan dollar AS, tren kenaikan bunga menular ke banyak negara, mulai dari zon Euro, Jepang, Korea Selatan hingga Afrika Selatan.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Sepekan Menuju Koreksi 2%, Yield Obligasi AS jadi Beban
Di Indonesia, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate setelah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin pada paro pertama 2026. Menurut Syuhada, langkah antisipatif tersebut membuat BI memiliki ruang untuk menahan suku bunga sambil mengandalkan bauran kebijakan lain untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.
Inflasi Indonesia yang di kisaran 3,2% masih dalam rentang sasaran BI, yakni 2,5% plus minus 1%. Namun, risiko kenaikan harga pangan akibat El Niño membuat ruang penurunan suku bunga belum terlihat dalam waktu dekat. Di sisi lain, ruang kenaikan BI Rate secara agresif juga sudah terbatas.
Sinkronisasi kenaikan suku bunga, menurut Syuhada, membuat investor obligasi harus semakin lincah mencari 'tempat berlindung" dari tekanan kenaikan imbal hasil global. Di sinilah pentingnya seleksi pasar dan pengelolaan aktif portofolio.
Imbas ke obligasi domestik
Di pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 107 basis poin sepanjang tahun hingga akhir September 2026. Namun, kenaikan dalam 30 hari terakhir periode tersebut hanya 14 basis poin, termasuk salah satu yang terendah di kawasan.
Syuhada menilai perlambatan kenaikan imbal hasil tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar obligasi Indonesia mulai mereda. Sebagian kekhawatiran dan risiko domestik, telah tercermin dalam imbal hasil yang diminta investor.
Pada akhir September, imbal hasil SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,2%, sangat kompetitif jika dibandingkan terutama dibandingkan dengan negara-negara yang menawarkan imbal hasil lebih rendah dibandingkan UST.
Baca Juga: Valuasi Obligasi Menarik, Investor Disarankan Tetap Jaga Daya Tahan Portofolio
Dari sisi selisih imbal hasil atau spread SBN terhadap US Treasury sekitar 200 basis poin, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis satu tahun terakhir yang di kisaran 230 basis poin. Artinya obligasi Indonesia saat ini mulai menawarkan keseimbangan yang menarik antara tingkat imbal hasil yang tinggi dan persepsi risiko yang tidak lagi terus memburuk.
Meski menawarkan imbal hasil yang kompetitif, pasar obligasi Indonesia tetap menghadapi risiko. Syuhada menyoroti dua faktor utama, yakni ketahanan eksternal Indonesia dan arah imbal hasil US Treasury.
Surplus perdagangan yang menipis akibat kenaikan impor minyak, menyebabkan ketahanan eksternal semakin bergantung pada arus modal asing. Arus dana asing juga terkait dengan pergerakan rupiah yang dipengaruhi kebijakan global, terutama arah suku bunga The Fed.
Adapun, kenaikan imbal hasil UST saat ini telah mencerminkan sebagian besar risiko kenaikan suku bunga global, bahkan berpotensi melampaui tingkat yang semestinya atau overshoot. Meski demikian, perkembangan inflasi AS, kebijakan fiskal, permintaan pasar terhadap UST, serta perubahan ekspektasi suku bunga The Fed tetap menjadi perhatian.
"Jika imbal hasil US Treasury bertahan tinggi lebih lama, kata Syuhada, tekanan dapat merambat ke pasar obligasi domestik melalui kenaikan premi risiko, volatilitas arus dana asing, dan tekanan terhadap rupiah," beber Syuhada.
Baca Juga: Bitcoin Solid Meski The Fed Menaikkan Suku Bunga, Ada Apa?
Maka, pengelolaan durasi dan pemilihan tenor harus selektif dan terukur, bukan sekadar agresif menambah eksposur tanpa perhitungan.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, strategi pengelolaan portofolio obligasi penting karena kenaikan imbal hasil dapat menekan harga obligasi yang telah beredar. Di sisi lain, terbuka peluang memperoleh pendapatan kupon lebih besar maupun potensi kenaikan harga apabila arah suku bunga berbalik turun.
Menurut Syuhada, untuk reksadana obligasi berdurasi pendek, MAMI fokus mengoptimalkan pendapatan dengan menjaga sensitivitas portofolio terhadap perubahan suku bunga tetap terkendali. Sementara, pada reksadana berdurasi menengah hingga panjang, diprioritaskan obligasi tenor pendek hingga menengah, termasuk sekitar tujuh tahun, yang menawarkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil relatif lebih baik.
Jika The Fed tetap bersikap hawkish hingga akhir tahun dan imbal hasil US Treasury terus meningkat, MAMI akan mengevaluasi kondisi tersebut sebagai peluang untuk menambah eksposur obligasi secara bertahap dan selektif. Besarnya penambahan akan menyesuaikan perkembangan inflasi, likuiditas pasar, nilai tukar, serta daya tarik imbal hasil antar tenor.
Dengan pendekatan itu, kata Syuhada, portofolio diarahkan untuk menangkap tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, sekaligus menjaga ketahanan terhadap perubahan kondisi pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News