MOMSMONEY.ID - Tuberkulosis atau TB masih menjadi salah satu penyakit menular dengan jumlah kasus tinggi di Indonesia. Namun, di balik tingginya angka kasus tersebut, masih banyak anggapan keliru yang dipercaya masyarakat.
Ketua Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB) Prof. Erlina Burhan meluruskan sejumlah kesalahpahaman tersebut, agar masyarakat lebih memahami penyakit TB dan tidak lagi memberikan stigma kepada penyintas.
1. Sudah tidak batuk berarti TB sudah sembuh
Faktanya pengobatan tetap harus diselesaikan hingga tuntas. Prof. Erlina menjelaskan banyak pasien menghentikan pengobatan setelah dua bulan karena gejala seperti batuk, batuk darah, demam, dan penurunan berat badan sudah hilang.
Padahal, kondisi tersebut bukan berarti seluruh bakteri penyebab TB telah mati.
“Kalau pengobatan tidak selesai, sebagian kuman masih tersisa. Karena obat dihentikan, kuman yang tersisa bisa berubah menjadi lebih kuat atau menjadi resisten terhadap obat,” ujar Prof. Erlina di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Ia menyebutkan, pengobatan TB umumnya berlangsung selama enam bulan sehingga pasien harus disiplin menjalani terapi hingga selesai untuk mencegah resistensi obat.
Baca Juga: Tidak Ada Work Life Balance, Kenali Tanda Tempat Kerja Anda Toxic
2. TBC hanya menyerang orang miskin atau tinggal di lingkungan kumuh
Faktanya siapa pun bisa terkena TB. Menurut Prof. Erlina, memang lingkungan padat dan minim ventilasi dapat meningkatkan risiko penularan. Namun, bukan berarti TB hanya menyerang masyarakat di kawasan kumuh.
Ia mencontohkan, penderita diabetes juga memiliki risiko lebih tinggi terkena TB karena sistem kekebalan tubuhnya menurun, terlepas dari kondisi ekonomi mereka.
“Ini tidak selalu benar bahwa TB dikaitkan dengan kemiskinan atau tempat yang kotor. Memang ada benarnya, tetapi tidak absolut,” katanya.
Baca Juga: Jangan Takut Kepanasan! Ini 7 Penyakit Akibat Kurang Sinar Matahari termasuk Kanker
3. TB menular lewat piring, gelas, atau sendok
Faktanya TB menular melalui udara. Prof. Erlina menegaskan, bakteri TB menyebar melalui droplet yang keluar saat penderita batuk, kemudian terhirup oleh orang lain.
Di ruangan yang lembap, minim sinar matahari, dan ventilasinya buruk, bakteri TB dapat bertahan lebih lama sehingga risiko penularan meningkat.
“Jangan lagi ada yang mengatakan kalau penderita TB harus dipisahkan piring, gelas, atau sendoknya. TB tidak menular lewat alat makan, tetapi lewat udara,” ujarnya.
Baca Juga: Daftar Buah yang Wajib Dihindari Penderita Diabetes, Pisang Termasuk
4. Berhenti minum obat tidak masalah asalkan sudah merasa sehat
Faktanya menghentikan pengobatan dapat memicu TB kebal obat.
Selain merasa sembuh, pasien juga kerap menghentikan terapi karena bosan menjalani pengobatan selama enam bulan, kurang mendapat edukasi, mengalami efek samping obat, atau takut diketahui mengidap TB akibat stigma masyarakat.
Menurut Prof. Erlina, tenaga kesehatan perlu memberikan edukasi bahwa efek samping seperti mual, muntah, atau gatal bukan alasan untuk menghentikan pengobatan. Pasien sebaiknya kembali ke fasilitas kesehatan agar mendapat penanganan.
Ia berharap, masyarakat tidak lagi memberikan stigma kepada penderita TB. Sebaliknya, masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, berat badan turun, demam terutama pada malam hari, maupun batuk berdarah, lalu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News