MOMSMONEY.ID - Aksi jual investor asing masih membayangi pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, investor asing kembali mencatatkan nilai jual bersih (net sell) jumbo di sejumlah saham berkapitalisasi besar
Pada Jumat lalu, nilai jual asing tercatat sebesar Rp 1,07 triliun. Ini menjadikan net sell asing sepanjang pekan lalu sebesar Rp 2,14 triliun, dan sebesar Rp 51,42 triliun dana asing sudah keluar sepanjang tahun ini (year to date).
Berikut saham-saham yang paling banyak dijual dan dibeli asing pada Jumat lalu (dalam Rp miliar), mengutip BRI Danareka Sekuritas.
| Net Buy | Net Sell |
| MDKA 173,62 TINS 80,92 INCO 73,23 PTRO 36,85 BIPI 18,76 | BBCA (322,37) BMRI (287,86) TPIA (156,40) AMMN (156,32) TLKM (152,17) |
Saham perbankan masih menjadi sasaran utama aksi jual asing. BBCA mencatat net sell terbesar mencapai Rp322,37 miliar, disusul BMRI Rp 287,86 miliar. Selain itu, investor asing juga ramai melepas TPIA Rp 156,40 miliar, AMMN Rp 156,32 miliar, serta TLKM Rp 152,17 miliar.
Di sisi lain, saham yang paling banyak diborong investor asing dipimpin oleh MDKA dengan nilai net buy sebesar Rp 173,62 miliar. Selanjutnya ada TINS Rp 80,92 miliar, INCO Rp 73,23 miliar, PTRO Rp 36,85 miliar, dan BIPI Rp 18,76 miliar.
Meski mengalami aksi jual besar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jumat lalu ditutup positif naik 1,1% ke level 6.162 karena sudah berada dalam posisi jenuh jual.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound, Cermati Saham AKRA, BBTN, dan INCO dari Mirae (25/5)
Sementara itu, berikut posisi saham paling banyak dibeli dan dijual asing selama sepekan lalu.
| Net Buy | Net Sell |
| MDKA 688,45 BUMI 455,04 ADRO 314,56 INCO 238,17 MBMA 229,82 | BBCA 1.007 AMMN 625,76 ANTM 589,18 BREN 516,64 TPIA 438,69 |
Selama sepekan lalu, BBCA menjadi saham paling banyak dijual asing, dengan total Rp 1 triliun. Kemudian disusul AMMN Rp 625,76 miliar, ANTM Rp 589,18 miliar, BREN Rp 516,64 miliar, serta TPIA Rp 438,69 miliar. Selama sepekan, IHSG tercatat turun 8,35%.
Pergerakan dana asing menunjukkan investor global masih cenderung selektif di tengah tingginya volatilitas pasar. Menariknya, sebagian dana asing mulai beralih ke saham komoditas dan mineral yang dinilai masih memiliki prospek relatif kuat, terutama di tengah dinamika harga energi dan logam global.
Namun demikian, mengikuti pergerakan asing tidak selalu menjamin keuntungan bagi investor ritel. Jika ingin mengikuti jejak asing, perhatikan juga strategi jangka pendek, kebutuhan likuiditas, maupun faktor global lain, serta profil risiko Anda masing-masing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News