MOMSMONEY.ID - Profesi tarot reader kini tidak hanya sekadar aktivitas spiritual atau hobi, tetapi juga mulai dilihat sebagai peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan di era digital.
Praktisi Tarot Ruang Hening Graham Wiratama mengatakan, semakin banyak orang yang tertarik mempelajari tarot karena melihat potensi monetisasi dari kemampuan membaca kartu tersebut.
Menurutnya, sebagian besar peserta yang belajar tarot di Ruang Hening bahkan menjadikan tarot sebagai side job untuk menambah income.
“Rata-rata setelah belajar akhirnya menjadikan itu sebagai salah satu alternatif untuk dapat income, walaupun tidak full jadi tarot reader karena beberapa masih punya pekerjaan utama,” ujarnya belum lama ini.
Graham menyebutkan, dalam praktiknya jasa tarot reading memiliki dua model pembayaran, yakni berdasarkan jumlah pertanyaan (by question) atau berdasarkan durasi (by duration).
Baca Juga: Tak Sekadar Bisa Baca Kartu, Ini Pentingnya Sertifikasi bagi Praktisi Tarot
Dari sisi pendapatan, tarif ini kemudian berkembang seiring pengalaman dan permintaan pasar, termasuk melalui platform media sosial seperti TikTok.
Ia mengungkapkan, beberapa praktisi bahkan mampu meraih pendapatan hingga hampir dua digit per bulan. Kondisi ini membuat profesi tarot reader semakin dilirik, terutama oleh kalangan muda.
“Beberapa teman tarot reader pendapatannya sudah hampir 2 digit per bulan, jadi makanya banyak yang melihat ini sebagai peluang,” katanya.
Meski demikian, ia menilai tidak semua peserta yang belajar akan melanjutkan menjadi praktisi aktif. Banyak yang berhenti di tengah jalan karena keterbatasan waktu hingga biaya, sementara sebagian lainnya tetap menjadikan tarot sebagai keterampilan tambahan.
Baca Juga: Makan Porsi Kecil Kunci Gula Darah Stabil dan Berat Badan Terkendali, Ini Manfaatnya
Tarot reader tak harus Indigo atau punya sixth sense
Graham menegaskan, anggapan tarot reader harus memiliki kemampuan indigo atau sixth sense tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, kemampuan membaca tarot dapat dipelajari karena memiliki dasar teori yang jelas.
“Semua orang bisa baca tarot karena teorinya ada, bukunya ada. Jadi tidak harus punya sixth sense,” katanya.
Ia menambahkan, setiap orang pada dasarnya memiliki intuisi, namun tingkat kepekaannya berbeda-beda. Karena itu, yang membedakan seorang tarot reader bukan kemampuan supranatural, melainkan sejauh mana mereka memahami teori dan melatih intuisi tersebut.
Graham juga menilai stigma bahwa tarot harus berkaitan dengan kemampuan khusus justru berkembang di kalangan praktisi itu sendiri, yang membuat profesi ini tampak eksklusif.
Padahal, menurutnya, pengalaman di komunitas internasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca tarot juga bisa diuji secara metodologis dan dipelajari secara sistematis.
Baca Juga: 6 Tontonan Kisah Obsesi Ini Ungkap Sisi Gelap Ambisi Manusia
Graham menyebutkan, Ruang Hening mulai membuka kelas pembelajaran tarot secara aktif sejak tahun lalu. Sebelumnya, komunitas tersebut lebih banyak berfokus pada penyediaan layanan tarot reading untuk klien atau member.
Saat ini, biaya kelas tarot di Ruang Hening dibanderol mulai Rp795.000 untuk kelas dasar secara online, sementara kelas offline di Jakarta mencapai Rp1.050.000. Untuk tingkat lanjutan (intermediate), biaya bundling sekitar Rp1,65 juta, termasuk kartu tarot dan akses bimbingan lanjutan melalui grup diskusi.
Menurut Graham, sebagian peserta mampu mengembalikan modal pelatihan hingga tiga hingga empat kali lipat setelah mulai membuka praktik jasa pembacaan tarot.
Dalam sistem pelatihan, peserta juga mendapatkan sertifikat sebagai bukti telah mengikuti kelas, meski masih berupa certificate of attendance. Hal ini karena secara regulasi, sertifikasi tarot resmi di Indonesia belum tersedia di bawah lembaga seperti BNSP.
“Kami juga sedang berusaha ke arah sana agar ke depan bisa ada sertifikasi resmi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam praktik profesional, kebutuhan pendekatan tarot juga berbeda tergantung skala layanan. Untuk pembacaan individu, intuisi sering digunakan, namun untuk kebutuhan acara besar atau klien korporasi, pendekatan berbasis teori dinilai lebih stabil dan efisien.
Menurutnya, kombinasi antara teori, konseling, dan intuisi menjadi faktor penting agar seorang tarot reader dapat berkembang secara profesional sekaligus menangani lebih banyak klien.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News