M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Semester I 2026 Penuh Gejolak, Begini Tips Investasi dari MAMI untuk Saat Ini

Semester I 2026 Penuh Gejolak, Begini Tips Investasi dari MAMI untuk Saat Ini
Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - Makroekonomi dalam negeri di sepanjang semester I 2026 belum dapat memberikan keyakinan pada investor untuk berinvestasi.

Freddy Tedja Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), memberikan saran dan prospek investasi di tengah gejolak yang terjadi.

Kondisi makroekonomi Indonesia pada kuartal I-2026, terlihat aktivitas domestik Indonesia masih relatif tangguh.

Hal ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, yaitu faktor musiman Hari Raya. Belanja pemerintah yang besar, investasi, serta peningkatan skala program-program sosial turut menyokong ekonomi dalam negeri. 

Namun, untuk kuartal kedua dan secara keseluruhan tahun 2026, menuru Freddy, tantangan dan keterbatasan semakin meningkat seiring kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), kenaikan inflasi, pelemahan rupiah, dan likuiditas yang lebih ketat.

Hal ini tercermin dari data-data ekonomi terkini. Inflasi tahun berjalan sampai akhir Juni mencapai 1,79%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 1,38%.   

Baca Juga: ORI030 Berikan Passive Income Pasti 7% Setahun, Bisa Dibeli Mulai 6 Juli 2026

Kenaikan harga-harga ini memang terbukti pada kontraksi penjualan ritel dua bulan berturut-turut di April (-3,7%) dan Mei (-3,2%). Turunnya penjualan ritel akan berdampak pada PMI manufaktur, seperti yang terlihat pada penurunan indeks bulan Juni ke 46,9, level terendah sejak Juni 2025. 

Semuanya sejalan dengan penurunan gradual Indeks Keyakinan Konsumen di semua komponen baik ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan iklim usaha ke depan.

Di satu sisi, pemerintah memang tidak tinggal diam dan merespons dengan stimulus semester kedua 2026 sebesar Rp 26,34 triliun, yang terdiri dari bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi. 

Freddy mengatakan, stimulus tersebut dapat membantu menjaga daya beli, tetapi kita harus menunggu efektivitasnya, di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas yang membatasi ruang pemberian stimulus lanjutan yang lebih besar.

Prospek obligasi

Dengan kenaikan suku bunga BI yang sangat agresif, Freddy mengatakan hal ini memberikan sentimen negatif bagi pasar obligasi.

Padahal, per akhir Juni selisih imbal hasil SBN dan UST tenor 10 tahun tercatat sebesar 273 bps, lebih lebar dari rata-rata satu tahun sekitar 220 bps, dan lebih menarik dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lain yang bahkan peringkat kreditnya lebih rendah dari Indonesia.

Baca Juga: Investasi Masa Tua, Ini 4 Manfaat Latihan Beban untuk Wanita

Artinya, secara valuasi sebenarnya obligasi Indonesia saat ini sangat atraktif. "Tetapi masih ada ketidakpastian yang masih ditunggu investor, yaitu stabilitas Rupiah, arah BI Rate, dan konsistensi & komitmen disiplin fiskal," ujar Freddy. 

Namun, saat ini, setidaknya ada faktor harapan baik untuk stabilitas rupiah, inflasi, dan arah BI Rate, yaitu redanya tensi geopolitik dan normalisasi harga minyak dunia. Mengenai disiplin fiskal, ini yang masih harus terus dikomunikasikan dan dibuktikan oleh pemerintah.

Prospek saham 

Mirip pasar obligasi, kalau dilihat dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia sangat menarik. Ratio forward P/E MSCI Indonesia per akhir Juni sebesar 8,7 kali, sementara rata-rata 5 tahun terakhirnya 13,2 kali. 

Namun, di sisi lain, valuasi murah juga dapat mencerminkan pandangan pasar yang belum memiliki keyakinan terhadap outlook jangka pendek pasar saham.

Selain pembenahan dan transformasi pasar saham yang sudah dimulai sejak awal tahun, pasar masih membutuhkan katalis lebih lanjut seperti arah kebijakan ekonomi yang jelas, konsisten, dan dipersepsikan tidak ‘destruktif’, serta adanya sinyal perbaikan pada perekonomian riil seperti konsumsi dan daya beli. 

"Kita harapkan serangkaian re-kalibrasi kebijakan yang banyak diumumkan pemerintah sejak Juni kemarin dapat diterima investor dengan positif, dan pembenahan pasar saham yang menjadi isu dari lembaga-lembaga internasional pembuat indeks juga dapat berjalan konsisten," kata Freddy. 

Baca Juga: Dana Darurat atau Investasi? Begini Cara Menentukan Pilihan yang Tepat

Saran bagi investor

Freddy bilang, pemerintah mulai menata ulang arah kebijakan, BI berupaya menopang rupiah, dan valuasi aset domestik baik pasar saham maupun obligasi saat ini sudah  menarik, tetapi pasar belum sepenuhnya yakin, masih perlu melihat konsistensinya. 

Dalam kondisi ini kuncinya ada dua, yaitu seleksi dan disiplin alokasi. Seleksi diperlukan karena tidak semua aset yang murah otomatis menarik. Sementara disiplin alokasi dan ‘kesabaran akumulasi’ penting agar investor dapat membangun posisi secara terukur di tengah volatilitas yang masih tinggi. 

Untuk obligasi, naiknya imbal hasil memberi peluang akumulasi selektif, terutama jika stabilitas rupiah terjaga. Sementara di pasar saham, kualitas emiten lebih penting daripada sekadar valuasi murah. 

Untuk eksposur Asia, rantai pasok AI dan semikonduktor tetap menjadi tema struktural yang menarik. Tentu saja semua pilihan ini harus disesuaikan dengan profil risiko investor, dan pemantauan berkala. 

MAMI memproyeksikan indikator makroekomi 2026, sebagai berikut:

  • Defisitneraca berjalan (% PDB): 1,3–1,6
  • Inflasi (%): 2,9–3,2
  • BI Rate (%): 5,75–6,25
  • Pertumbuhan PDB (%): 5,0–5,2
  • USD/IDR : 17.200–17.500

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

5 Cara Mengatasi Badan Lemas saat Diet agar Tetap Bertenaga Sepanjang Hari

Ingin diet berhasil tanpa tersiksa rasa lemas? Terapkan cara mengatasi badan lemas berikut ini agar tubuh tetap bugar dan berenergi.

Kenali Amylophagia: Ini 5 Dampak Buruk Makan Tepung Terigu Mentah untuk Kesehatan

Ketahui alasan medis mengapa makan tepung terigu dalam kondisi mentah sangat berbahaya bagi saluran pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.

Ada 6 Tokenized Stocks Baru dari Tokocrypto, Cek yuk

Tokenized stocks memberikan eksposur terhadap underlying asset dan bukan merupakan kepemilikan langsung atas saham atau ETF yang mendasarinya.

Rekomendasi Pilihan Obat Influenza Tipe A yang Efektif Percepat Proses Penyembuhan

Kenali berbagai rekomendasi obat influenza tipe A mulai dari antivirus hingga pereda gejala untuk bantu tubuh pulih lebih cepat.

IHSG Berbalik Naik ke 6.036 pada Jumat (2/10), Cek Saham Top Gainers

IHSG pada Jumat ditutup menguat meskipun asing mencatat jual bersih alias net sell Rp 1,17 triliun. 

Update Harga Buyback Emas Hari Ini: UBS Naik, Antam Masih Tertinggi Rp 2.38 Juta

Emas UBS mencatat kenaikan harga buyback paling besar hari ini, sementara Antam turun, tetapi masih yang tertinggi.

Bank Indonesia Kurangi Intervensi Spot, Efektif Menjaga Rupiah?

Bank Indonesia menggeser strategi intervensi di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar, sekaligus menghemat cadangan devisa.

5 Hal yang Sebaiknya Dihindari biar Eksterior Rumah Lebih Tahan Lama

Ingin eksterior rumah Anda tetap keren dan tidak cepat ketinggalan zaman? Kenali 5 hal ini yang sebaiknya dihindari sejak awal.​

5 Kesalahan Dekorasi Ini Bikin Rumah Mahal Terlihat Murahan, Begini Penampakannya

Ini 5 kesalahan dekorasi yang bisa membuat rumah mahal terlihat murahan. Cek gorden, lampu, sakelar, dekorasi, dan aroma rumah.

Kebutuhan Keluarga Berubah, Konsep Hunian Multigenerasi Mulai Dilirik

LippoLand mengembangkan konsep Brentwood Villas sebagai hunian untuk keluarga multigenerasi dengan pembagian ruang yang sesuai kebutuhan.