M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Ini Tips Investasi dari MAMI di Tengah Dinamika Pasar Global dan Domestik yang Tinggi

Ini Tips Investasi dari MAMI di Tengah Dinamika Pasar Global dan Domestik yang Tinggi
Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - Dinamika pasar global maupun domestik sangat tinggi di Februari 2026 lalu. Simak tips investasi dari Mami di tengah kondisi yang dinamis saat ini.

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), menyampaikan pandangannya mengenai prospek kinerja pasar obliagsi ke depan. 

Dia melihat, dari sisi global, terdapat perubahan kebijakan tarif Amerika Serikat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif resiprokal. Selain itu, di akhir bulan lalu, pasar juga dikejutkan oleh pecahnya konflik AS–Iran yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak. 

Sementara di sisi domestik, lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan outlook rating Indonesia dari stabil menjadi negatif, menyoroti bauran kebijakan pemerintah dan postur fiskal.

Walau demikian, kinerja pasar obligasi relatif stabil dengan indeks acuan obligasi BINDO mencatat kinerja positif 0,40%, meskipun imbal hasil SBN 10 tahun naik dari 6,33% ke 6,42% hingga akhir Februari.  

"Sayangnya, eskalasi konflik Iran terus membayangi pasar yang menyebabkan imbal hasil SBN 10Y kembali meningkat ke kisaran 6,60% per 6 Maret," kata Ezra dalam keterangan tertulis Selasa (24/3). 

Mengenai dampak konflik Iran terhadap Indonesia, Ezra melihat, bagi Indonesia, kenaikan harga minyak secara persisten dapat berdampak pada fiskal dan inflasi mengingat Indonesia net importir minyak. 

Baca Juga: Badai Geopolitik, Begini Saran Strategi Investasi Bitcoin cs

APBN 2026 mengasumsikan harga minyak di US$ 70 per barel, dan diperkirakan setiap kenaikan 10% di atas asumsi tersebut akan memperlebar defisit fiskal sekitar 0,1% PDB. 

Sedang dampak terhadap inflasi akan tergantung pada kebijakan subsidi BBM pemerintah. Jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi Pertalite dan solar, maka diperkirakan setiap 10% kenaikan harga BBM bersubsidi berpotensi mendorong inflasi sekitar 0,3 ppt.

Namun, menurut Ezra, ekonomi Indonesia menunjukkan momentum pemulihan yang solid. Pertumbuhan PDB mencapai 5,39% YoY di kuartal IV 2025, tertinggi sejak 2022.

Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor, mencatat pertumbuhan 5,11% YoY, tertinggi sejak kuartal II 2023, didukung akselerasi belanja pemerintah serta stimulus fiskal sebesar IDR46 triliun di kuartal tersebut.

Momentum pemulihan ekonomi diperkirakan terus terjadi di 2026 didukung oleh akselerasi belanja pemerintah, groundbreaking proyek hilirisasi Danantara senilai Rp 110 triliun, serta stimulus Hari Raya sebesar Rp 12,8 triliun untuk diskon transportasi dan bantuan pangan.

Di tengah kondisi ini, pengelolaan risiko menjadi faktor krusial dalam manajemen portofolio untuk mengantisipasi kondisi tidak terduga seperti yang terjadi saat ini. 

Strategi investasi dari MAMI adalah berada pada posisi underweight durasi dibanding benchmark mempertimbangkan sentimen risk-off dari kondisi geopolitik saat ini. 

Baca Juga: Begini Cara Menjaga Nilai Aset Tetap Aman dari Inflasi di Tahun 2026

"Kami memperkirakan, kurva imbal hasil dapat mengalami steepening seiring masih adanya ekspektasi penurunan suku bunga, sehingga kami tetap mengunggulkan obligasi tenor pendek," kata Ezra. 

Untuk portofolio yang berinvestasi pada obligasi korporasi, dengan spread di pasar yang masih ketat, MAMI memilih untuk menunggu hingga terlihat premi risiko yang lebih menarik.

"Kami akan terus memantau perkembangan kondisi geopolitik dan akan bergerak lebih agresif apabila koreksi pasar telah mencapai tingkat imbal hasil ekuilibrium yang baru," ujar Ezra. 

Dalam kondisi yang dinamis, investor sebaiknya mempertahankan diversifikasi investasi dengan alokasi pada kelas aset yang likuid, defensif, namun tetap memiliki potensi upside.

Penting juga untuk stay invested, karena secara historis sentimen pasar dapat berbalik sangat cepat saat terjadi eskalasi geopolitik. Dengan tetap berinvestasi, investor memiliki peluang menangkap potensi pemulihan pasar ketika kondisi membaik.

Produk reksadana dapat menjadi pilihan menarik karena menerapkan prinsip diversifikasi, memiliki variasi kelas aset yang bisa disesuaikan dengan profil risiko investor, dan dikelola oleh manajer investasi profesional untuk mengoptimalkan peluang pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Kris+ Rayakan Ulang Tahun, Tebar Promo dan Reward

Pengguna Kris+ berkesempatan mendapatkan hingga delapan miles per dolar Singapura, voucher diskon 50%, serta hadiah  selama Oktober 2026.

Rupiah Bertahan di Rp 18.000 atau Tembus Rp 18.200, Ini 5 Indikator Penentu

Analis EBC Financial Group mencermati lima indikator penentu arah rupiah, mulai dari harga minyak, arus modal asing hingga intervensi BI.  

Ini Tip Pengobatan dan Pencegahan Agar Suara Yang Hilang Kembali Bergema

Suara hilang bagi pekerja yang mengandalkan pita suara tentu menjadi persoalan, berikut ini langkah pengobatan dan pencegahannya.

5 Cara Mengatasi Badan Lemas saat Diet agar Tetap Bertenaga Sepanjang Hari

Ingin diet berhasil tanpa tersiksa rasa lemas? Terapkan cara mengatasi badan lemas berikut ini agar tubuh tetap bugar dan berenergi.

Kenali Amylophagia: Ini 5 Dampak Buruk Makan Tepung Terigu Mentah untuk Kesehatan

Ketahui alasan medis mengapa makan tepung terigu dalam kondisi mentah sangat berbahaya bagi saluran pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.

Ada 6 Tokenized Stocks Baru dari Tokocrypto, Cek yuk

Tokenized stocks memberikan eksposur terhadap underlying asset dan bukan merupakan kepemilikan langsung atas saham atau ETF yang mendasarinya.

Rekomendasi Pilihan Obat Influenza Tipe A yang Efektif Percepat Proses Penyembuhan

Kenali berbagai rekomendasi obat influenza tipe A mulai dari antivirus hingga pereda gejala untuk bantu tubuh pulih lebih cepat.

IHSG Berbalik Naik ke 6.036 pada Jumat (2/10), Cek Saham Top Gainers

IHSG pada Jumat ditutup menguat meskipun asing mencatat jual bersih alias net sell Rp 1,17 triliun. 

Update Harga Buyback Emas Hari Ini: UBS Naik, Antam Masih Tertinggi Rp 2.38 Juta

Emas UBS mencatat kenaikan harga buyback paling besar hari ini, sementara Antam turun, tetapi masih yang tertinggi.

Bank Indonesia Kurangi Intervensi Spot, Efektif Menjaga Rupiah?

Bank Indonesia menggeser strategi intervensi di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar, sekaligus menghemat cadangan devisa.