MOMSMONEY.ID - Rabu (12/8), rupiah berada di Rp 17.878. per dollar AS. Bulan lalu, rupiah berada di Rp 18.065 per dollar AS. Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) melihat rupiah sudah bergerak stabil, dalam arti pelemahan tidak lagi berlangsung secara akseleratif.
Namun, Laras Febriany Portfolio Manager, Fixed Income MAMI, menilai, stabilitas ini perlu dilihat dengan hati-hati karena dinamika global masih sangat dinamis.
Selain itu, posisi posisi cadangan devisa Indonesia yang berperan sebagai bantalan juga masih relatif rendah dibandingkan posisi sebelumnya. Posisi neraca transaksi berjalan pun serupa, diperkirakan kondisi defisit akan terus terjadi sampai akhir tahun walaupun sepertinya periode tersulit telah terlewati di kuartal kedua lalu.
Bagi pasar obligasi, stabilitas rupiah sangat penting karena menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing dalam masuk kembali ke pasar SBN. Jika rupiah dapat bergerak lebih stabil, maka premi risiko dapat menurun dan daya tarik obligasi Indonesia akan kembali meningkat.
"Kami berharap, kondisi stabilitas ini dapat konsisten berlanjut," kata Laras dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8).
Selain pergerakan rupiah, langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) juga memengaruhi kinerja pasar obligasi. Setelah kenaikan agresif sebayak 1% di Mei–Juni, BI pada Juli lalu mulai mengerem pengetatan dengan mempertahankan BI Rate di level 5,75%.
Manulife melihat hal tersebut sebagai langkah agresif BI menunjukkan prioritas kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Sinyal lain yang Laras perhatikan adalah stabilisasi imbal hasil SRBI dan penerbitannya yang lebih terkendali, tidak lagi terlalu agresif. Hal ini dapat diartikan bahwa BI sudah lebih nyaman dengan kebijakan pengetatan dan dampak yang terjadi dalam mengupayakan stabilitas rupiah.
Baca Juga: ORI030 Berikan Passive Income Pasti 7% Setahun, Bisa Dibeli Mulai 6 Juli 2026
Walaupun demikian, pasar masih akan mencermati kesinambungan kebijakan, terutama terkait pergantian Gubernur BI. Bagi pasar obligasi, kredibilitas dan konsistensi kebijakan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Ruang pengetatan tambahan juga sudah mulai terbatas, dan dapat membuat BI menghadapi kondisi yang dilematik jika ke depannya rupiah mendapat tekanan pelemahan lanjutan.
Faktor lain yang mendukung daya tarik pasar obligasi juga datang dari valuasi yang semakin kompetitif. Dibanding negara-negara berperingkat setara, imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang ditawarkan Indonesia–dan selisihnya dengan obligasi negara Amerika Serikat (UST) tenor yang sama–secara relatif sangat menarik.
Hal ini tercermin dari arus dana investor asing di bulan Juni – Juli yang mulai kembali masuk ke pasar SBN. Ini menunjukkan, pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memiliki kompensasi risiko yang lebih menarik.
Namun Laras tetap menekankan bahwa daya tarik valuasi perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang berkesinambungan, karena faktor seperti harga energi, arah kebijakan BI, kondisi fiskal, dan sentimen global masih dapat membebani sentimen investasi.
Namun, tetap ada risiko yang harus investor perhatikan untuk pasar obligasi. Pertama, risiko eksternal dari volatilitas harga minyak dan hubungannya dengan potensi inflasi. Jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dan neraca eksternal dapat meningkat.
Yang kedua, juga masih dari eksternal yaitu iklim suku bunga global, terutama jika The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama dari ekspektasi pasar.
Yang ketiga adalah risiko domestik terkait konsistensi kebijakan, kredibilitas dan independensi BI, kedisiplinan fiskal, dan outlook sovereign rating. Keempat, kita juga tidak boleh mengabaikan perkembangan review MSCI.
Baca Juga: Saham & Obligasi Sama-Sama Atraktif, Reksadana Campuran Layak Dilirik
Walaupun isu ini lebih terkait pasar saham, dampaknya terhadap sentimen investor asing terhadap Indonesia secara keseluruhan tetap perlu dicermati.
"Kami harapkan, perpanjangan interim freeze MSCI hingga November memberi waktu bagi regulator untuk terus melanjutkan pembenahan, dan transformasi pasar modal yang lebih transparan dapat menjadi faktor positif bagi persepsi investor terhadap keseluruhan pasar modal Indonesia," jelas Laras.
Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, MAMI mengedepankan pengelolaan portofolio yang aktif, selektif, dan disiplin terhadap risiko. Valuasi obligasi Indonesia memang sudah semakin menarik, tetapi kami tidak melihat ini sebagai satu-satunya alasan untuk menjadi terlalu agresif tanpa mempertimbangkan volatilitas.
Pengelolaan portofolio tetap dilakukan secara adaptif, menyesuaikan perkembangan rupiah, arah kebijakan BI dan The Fed, postur fiskal, pergerakan UST, dan minat investor asing.
Alokasi aset investasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, mempertimbangkan semua potensi dan risiko masing-masing kelas aset serta memanfaatkan momentum pasar.
Diversifikasi menjadi kunci penting dalam menjaga tingkat risiko investasi. Dalam hal pengelolaan kelas aset obligasi, strategi investasi difokuskan pada positioning di kurva imbal hasil, pemilihan efek, serta manajemen durasi yang dinamis, guna mengoptimalkan potensi imbal hasil dengan risiko yang terkendali.
Dalam menghadapi volatilitas jangka pendek di tengah ketidakpastian baik dari sisi global maupun domestik, reksadana obligasi yang memiliki karakteristik defensif dapat menjadi salah satu opsi bagi investor.
Reksadana obligasi juga unggul dari segi fleksibilitas dalam melakukan pencairan atau pembelian kapan saja dengan harga unit yang jelas.
Lini reksadana obligasi MAMI juga memiliki fitur pembagian hasil investasi (PHI) seperti dividen yang dapat dimanfaatkan investor untuk mendapat pendapatan reguler atau untuk reinvestasi ke kelas aset lain tanpa melakukan pencairan reksadana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News