MOMSMONEY.ID - Memiliki kekayaan ratusan miliar rupiah sebelum usia 50 tahun mungkin terdengar seperti titik akhir perjalanan finansial.
Nyatanya, semakin besar aset yang dimiliki, keputusan untuk berhenti bekerja justru bisa menjadi semakin rumit. Kasus seorang pekerja berusia akhir 40-an yang memiliki kekayaan bersih sekitar Rp 247,5 miliar menunjukkan bahwa pensiun dini bukan sekadar soal punya uang banyak.
Melansir dari Yahoo Finance, ia masih memperoleh pendapatan sekitar Rp 41,25 miliar hingga Rp 49,5 miliar per tahun, tetapi mulai merasa jenuh dengan kehidupan korporat dan ingin mencari aktivitas yang lebih menantang.
“Portofolio senilai Rp 247,5 miliar dengan tingkat penarikan 3% menghasilkan sekitar Rp 7,43 miliar per tahun,” dikutip dari Yahoo Finance.
Baca Juga: Money Dysmorphia: Saldo ratusan Juta Tapi Tetap Merasa Miskin, Ini Faktanya
Portofolio besar belum tentu berarti bebas finansial
Dalam kasus tersebut, kebutuhan rumah tangga mencapai sekitar Rp 5,36 miliar per tahun. Jika portofolio Rp 247,5 miliar digunakan sebagai dasar perhitungan dan penarikan dibatasi 3% setiap tahun, dana yang dihasilkan sekitar Rp 7,43 miliar.
Secara sederhana, angka tersebut memang lebih tinggi daripada kebutuhan tahunan. Tetapi ada hal yang tidak boleh dilewatkan, yaitu pajak, inflasi, biaya investasi, perubahan kebutuhan keluarga, serta kemungkinan pasar mengalami penurunan.
Artinya, punya aset besar memang memberikan ruang gerak lebih luas, tetapi tetap membutuhkan strategi agar uang tidak habis terlalu cepat.
Menunggu lima tahun bisa mengubah perhitungan
Salah satu skenario yang muncul adalah tetap bekerja selama lima tahun sambil membiarkan portofolio berkembang. Dengan asumsi imbal hasil rata rata 5% per tahun dan tidak ada penarikan, Rp 247,5 miliar secara matematis dapat berkembang menjadi sekitar Rp 316 miliar.
Angka tersebut tentu hanya simulasi, bukan jaminan hasil investasi. Kondisi pasar sebenarnya bisa membuat pertumbuhan lebih rendah ataupun lebih tinggi.
Menariknya, orang tersebut juga masih memperoleh penghasilan puluhan miliar rupiah setiap tahun. Jika kebutuhan hidup tetap dibiayai dari pendapatan pekerjaan, portofolio memiliki kesempatan untuk terus berkembang tanpa banyak ditarik.
Pensiun dini bukan cuma soal angka
Ada satu sisi yang sering terlupakan ketika membahas pensiun dini, yaitu kehidupan setelah tidak bekerja. Seseorang yang sudah terbiasa dengan jadwal padat, tanggung jawab besar, dan lingkungan profesional bisa saja merasa kehilangan rutinitas ketika semuanya tiba tiba berhenti.
Dalam kasus ini, masalah utamanya bukan kelelahan berat, melainkan rasa bosan. Karena itu, berhenti total bukan satu satunya pilihan.
Mengurangi jam kerja, mengambil proyek tertentu, menjadi konsultan, atau berpindah ke pekerjaan yang lebih fleksibel dapat menjadi alternatif. Cara tersebut memungkinkan seseorang mendapatkan suasana baru tanpa langsung kehilangan seluruh penghasilan.
Rencana keuangan perlu melihat puluhan tahun ke depan
Pensiun pada usia akhir 40 an berarti dana berpotensi digunakan selama beberapa dekade. Karena itu, perhitungan tidak cukup hanya memakai kebutuhan saat ini. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Menghitung pengeluaran tahunan secara realistis.
- Memisahkan kebutuhan keluarga dan gaya hidup.
- Memperhitungkan inflasi serta pajak.
- Menyiapkan dana untuk kondisi pasar yang buruk.
- Menghitung kebutuhan pendidikan dan kesehatan keluarga.
- Menentukan sumber aktivitas atau penghasilan setelah pensiun.
Baca Juga: 5 Tujuan Kebebasan Finansial yang Dikejar Orang Kaya dan Jarang Banget Dibahas
Jadi, apakah Rp247,5 miliar sudah cukup?
Kasus ini menunjukkan bahwa kekayaan Rp247,5 miliar secara matematis dapat memberikan ruang yang besar untuk membiayai pengeluaran tahunan sekitar Rp5,36 miliar. Namun, keputusan pensiun tetap tidak bisa ditentukan hanya dari nominal kekayaan.
Jadi, pelajarannya cukup sederhana yaitu semakin dini ingin berhenti bekerja, semakin panjang pula masa yang harus dibiayai dari aset.
Karena itu, bukan hanya jumlah uang yang perlu disiapkan, tetapi juga strategi penggunaan aset dan gambaran kehidupan setelah pensiun.
Sebelum mengambil keputusan besar, simulasi keuangan berdasarkan kondisi pribadi dan konsultasi dengan profesional yang memiliki kompetensi sesuai dan tetap penting dilakukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News