MOMSMONEY.ID - Bank Indonesia melakukan pergeseran strategi intervensi dalam rangka menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar. Porsi intervensi BI melalui pasar spot kini sekitar 30% dari total intervensi valas, dan akan lebih banyak menggunakan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
Pengurangan intervensi spot merupakan upaya yang dilakukan BI untuk menjaga cadangan devisa sekaligus meredam volatilitas rupiah. Maklum, ketika permintaan terhadap dollar AS meningkat dan BI intervensi spot secara signifikan, maka dapat menguras cadangan devisa.
Saat BI mengungkapkan perubahan strategi intervensi itu pada 28 September 2026, rupiah sempat melemah dengan tembus level psikologis Rp 18.000 per dollar AS, walau ditutup melandai. Hingga Jumat (2/10), kurs rupiah masih di tepi level psikologis, yakni Rp 17.882 per dollar AS.
Apakah strategi bank sentral ini akan efektif menopang rupiah, atau justru berisiko memicu fluktuasi berkepanjangan?
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, mengatakan, penurunan porsi intervensi spot menjadi sekitar 30% belum membuktikan bahwa total intervensi BI berkurang. Namun, perubahan strategi tersebut membawa risiko persepsi pasar.
Menurutnya, pasar dapat menafsirkannya sebagai berkurangnya kesiapan BI menjaga rupiah. Jika persepsi ini mendorong pembelian dollar lebih cepat, tekanan kurs justru meningkat. Efisiensi intervensi harus diukur bersama efektivitasnya menjaga kepercayaan pasar.
Baca Juga: Apa yang Membuat Nilai Rupiah Naik Turun? Ini Penyebabnya di Tahun 2026
Rizal menyebut, DNDF dan NDF dapat meredam tekanan ekspektasi serta menyediakan lindung nilai, tetapi, itu tidak menggantikan kebutuhan dollar untuk pembayaran impor dan utang. Strategi ini efektif apabila didukung likuiditas pasar dan intervensi spot yang fleksibel. Jika tekanan berasal dari kekurangan pasokan devisa, dominasi instrumen derivatif saja tidak cukup.
"BI perlu menyesuaikan instrumen dengan sumber tekanan agar penghematan cadangan devisa tidak dibayar dengan depresiasi rupiah berkepanjangan," kata Rizal, Selasa (29/9).
Sementara, Yusuf Rendy Manilet, Ekonom dan Peneliti Strategic Research Manager di CORE, menilai, pengurangan porsi intervensi BI di pasar spot turut memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Sebab, ketika penjualan dollar secara langsung dikurangi, pasokan valuta asing di pasar menjadi lebih terbatas dan pelaku pasar cenderung menguji seberapa jauh BI akan mempertahankan level tertentu.
Namun, strategi BI tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga cadangan devisa agar tidak terkuras untuk mempertahankan angka kurs tertentu. Bank sentral pada dasarnya lebih berkepentingan meredam volatilitas yang berlebihan daripada menetapkan nilai tukar pada satu level tetap.
Baca Juga: Bisnis Anda Terancam? Rupiah Anjlok, Ini 4 Strategi Pengusaha biar Tetap Bertahan
Yusuf sepakat bahwa pergeseran intervensi ke DNDF dan NDF dapat membantu mengendalikan ekspektasi di pasar berjangka. Melalui instrumen tersebut, BI dapat menyediakan lindung nilai dan mengurangi dorongan spekulatif tanpa terus menjual dollar tunai dalam jumlah besar.
"Namun, instrumen derivatif tidak sepenuhnya menggantikan fungsi intervensi spot. Pasar tetap membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan dollar riil dapat dipenuhi dan BI siap bertindak ketika pergerakan kurs mulai tidak teratur," ungkapnya, Selasa (29/9).
Efektivitas strategi BI ini, menurut Yusuf, sangat bergantung pada komunikasi. Jika pasar memahami bahwa pengurangan intervensi spot merupakan langkah pengelolaan cadangan yang terukur, tekanan dapat dikendalikan.
Sebaliknya, komunikasi yang kurang jelas dapat menimbulkan anggapan bahwa BI sedang mengurangi pertahanan rupiah. Persepsi tersebut bisa mendorong importir mempercepat pembelian dollar, eksportir menunda konversi devisa, dan investor memperbesar lindung nilai. "Perilaku semacam itu dapat memperkuat tekanan meskipun kondisi fundamental tidak berubah," tukas Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News