M O M S M O N E Y I D
Santai

Pentingnya Peran Masyarakat Adat Turunkan Pengetahuan Dalam Menajaga Alam

Pentingnya Peran Masyarakat Adat Turunkan Pengetahuan Dalam Menajaga Alam
Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - Ternyata, ketika satu bahasa lokal hilang, yang ikut menghilang bukan hanya kata-kata. Pengetahuan tentang jenis padi, tanaman obat, aturan menjaga hutan, hingga ritual yang mengatur hubungan manusia dengan alam juga dapat ikut punah.

Working Group ICCAs Indonesia (WGII) mengingatkan bahwa Indonesia tidak hanya menghadapi ancaman hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga krisis biokultural yang dapat menghapus peradaban yang selama ratusan tahun menjadi dasar Masyarakat Adat dalam menjaga alam.

Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, mengatakan ancaman tersebut lebih besar daripada sekadar hilangnya spesies atau hutan. “Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas. Karena, yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung,” kata Cindy dalam keterangan tertulis, Senin (29/6). 

Menurut dia, Indonesia merupakan negara megabiodiversitas yang memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan, savana, pesisir, hingga perairan, serta berbagai satwa dan tumbuhan endemik. Namun, Indonesia juga merupakan negara megabiokultural yang menyimpan hubungan panjang antara manusia dan alam.

“Konsep megabiodiversitas umumnya mengacu pada sesuatu yang tangible, yang bisa dihitung secara fisik. Kenyataannya, aspek fisik tidak mungkin berdiri sendiri tanpa relasi,” ujarnya. Ada keterkaitan antara alam dan budaya, antara alam dan manusia. Ketika bicara soal biokultural, berarti kita bicara tentang relasi, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih besar. 

Baca Juga: Emil Salim: Pembangunan Tak Boleh Melihat Alam Sebagai Obyek

Cindy mengatakan, ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, alam akan dipandang semata-mata sebagai objek yang hanya berfungsi memenuhi kebutuhan manusia.

“Ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, alam hanya akan dipandang sebagai objek. Ketika alam hanya dilihat sebagai supply untuk kebutuhan manusia, maka eksploitasi dan destruksi menjadi sesuatu yang dianggap wajar,” katanya.

Menurut Cindy, hubungan antara manusia dan alam dapat dilihat dari keberadaan berbagai jenis padi lokal di komunitas adat. Setiap jenis padi memiliki nama lokal dan fungsi yang berbeda. Ada padi untuk konsumsi sehari-hari dan ada pula yang digunakan untuk kebutuhan ritual tertentu.

“Ada jenis padi lokal yang tidak bisa digantikan, karena fungsinya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga spiritual dan ekologis,” ujarnya.

Ia mengingatkan, ketika padi lokal hilang, ritual yang berkaitan dengannya juga akan ikut hilang.

“Ketika padi lokal hilang, ritual yang terkait dengannya juga hilang. Ketika ritual hilang, cara masyarakat melihat sumber daya alam ikut berubah. Padi akan dipandang hanya sebagai komoditas untuk dijual. Ketika ritual hilang, hubungan antara manusia dan alam juga hilang. Peradaban yang terkait dengan alam juga akan ikut hilang,” kata Cindy.

Baca Juga: 5 Manfaat Mendaki Gunung untuk Kesehatan Mental, Rahasia Sembuh Lewat Alam

Matinya Regenerasi Pengetahuan

Berbagai komunitas adat di Indonesia selama ini telah membangun praktik pengelolaan alam yang lahir dari proses observasi panjang dan disesuaikan dengan kondisi bentang alam masing-masing.

Di komunitas Kasepuhan, misalnya, dikenal konsep leuweung titipan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, mulai dari kawasan sakral yang menjadi sumber air dan menyimpan keanekaragaman hayati penting, kawasan yang menjaga tanaman dan obat tradisional, hingga wilayah yang dapat dimanfaatkan secara terbatas sesuai aturan adat.

Praktik menjaga benih lokal juga dilakukan melalui lumbung di Komunitas Kasepuhan dan Baduy. Masyarakat memiliki cara untuk memastikan padi lokal dan benih tetap terjaga dalam waktu lama, termasuk menggunakan tumbuhan tertentu sebagai bahan pengawet alami.

Namun, menurut Cindy, krisis biokultural juga dapat terjadi dalam praktik konservasi modern ketika Masyarakat Adat kehilangan akses terhadap wilayah yang selama ini menjadi sumber pengetahuan mereka. Ketika wilayah adat menjadi kawasan konservasi, masyarakat dapat kehilangan akses terhadap jenis kayu tertentu untuk membangun rumah adat maupun terhadap obat-obatan tradisional yang selama ini digunakan oleh leluhur.

“Salah satu bentuk krisis biokultural hari ini adalah matinya regenerasi pengetahuan dari para tetua adat kepada generasi muda. Warisan biokultural bukan konsep abstrak. Kita perlu mengembalikan perspektif pengelolaan sumber daya alam berdasarkan praktik yang sudah lama hidup dalam keseharian Masyarakat Adat,” ujarnya.

Menjelang Konferensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati atau  CBD COP17 di Armenia pada Oktober tahun ini, perhatian dunia juga tertuju pada upaya menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati pada 2030.

Di Indonesia, lebih dari satu juta hektare wilayah ICCAs (Indigenous Peoples and Local Community Conserved Territories and Areas) yang telah didokumentasikan oleh Working Group ICCAs Indonesia (WGII) menunjukkan bahwa Masyarakat Adat dan komunitas lokal masih menjaga, melindungi, dan mengelola wilayahnya berbasis kearifan lokal dan pengetahuan tradisional.

Di tengah upaya global menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati pada 2030, tantangannya bukan hanya menjaga spesies dan kawasan, tetapi juga memastikan pengetahuan yang hidup bersama alam tidak ikut hilang. Sebab, ketika bahasa, ritual, dan praktik yang diwariskan selama ratusan tahun itu terputus, yang hilang bukan hanya bagian dari identitas budaya, melainkan juga cara manusia memahami dan hidup bersama alam.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Rilis Teaser Terbaru, Film Memburu Pemangsa Angkat Sisi Gelap Kejahatan terhadap Anak

Sinemaku Pictures merilis official teaser poster & teaser trailer terbaru film Memburu Pemangsa karya sutradara Umay Shahab.

Promo Alfamart Kebutuhan Dapur 16-31 Agustus 2026, Beli 1 Gratis 1 Bumbu Kaldu Sedaap

Manfaatkan promo Alfamart Kebutuhan Dapur periode 16-31 Agustus 2026 untuk belanja kebutuhan dapur dengan lebih hemat.

Promo Alfamart Serba Gratis 16-31 Agustus 2026, Fox’s-Lasegar Twist Beli 1 Gratis 1

Manfaatkan Promo Alfamart Serba Gratis Periode 16-31 Agustus 2026 untuk belanja Beli 1 Gratis 1 dan Beli 2 Gratis 1.

Suka Kulineran? Kesadaran Jaga Kolesterol Perlu Dimulai Sejak Masih Muda

Kulineran tetap seru, begini cara anak muda menikmati makanan favorit tanpa abaikan kolesterol.         

Xiaomi 18 vs Xiaomi 17: Peningkatan Kamera Leica 200MP pada Hasil Foto

Kamera utama Xiaomi 18 melompat jauh ke sensor Leica 200MP. Ketahui peningkatan tajam zoom periskop dan foto malamnya dibanding seri terdahulu.

Selain Depresi, Ini 6 Alasan Penyebab Kenapa Anda Merasa Malas Mandi

Bukan hanya Anda, tetapi ada banyak orang lain yang juga malas mandi karena alasan tertentu. Apa sih, penyebabnya?

6 Buah Ini Sebaiknya Dihindari Penderita Asam Urat, Tinggi Purin dan Fruktosa

Berikut ini adalah beberapa buah yang sebaiknya dihindari oleh penderita asam urat karena tinggi fruktosa dan purin.

Poco M8x 5G Disokong Baterai 7.900 mAh dan Vapor Chamber seluas 12.439 mm²

Poco M8x 5G dibekali baterai jumbo 7.900 mAh. Uji performa dan sistem pendingin vapor chamber seluas 12.439 mm² terungkap di sini.

7 Daftar Buah Superfood yang Wajib Dikonsumsi Rutin Setiap Hari

Beberapa jenis buah bahkan dianggap sebagai superfood karena berbagai manfaatnya.​ Intip daftar buah superfood di sini.

Harga Emas Dunia Memantul Usai Anjlok, Prospek Kenaikan Berlanjut?

Harga emas dunia sedikit naik setelah anjlok hampir 2% pada sesi sebelumnya. Namun, prospek kenaikan masih terbatas.