MOMSMONEY.ID - Di tengah banyaknya informasi mengenai makanan sehat, masyarakat perlu lebih cermat dalam menilai kandungan pangan yang dikonsumsi sehari-hari. Pasalnya, anggapan bahwa suatu bahan selalu baik atau buruk bagi kesehatan belum tentu menggambarkan kualitas sebuah produk pangan secara keseluruhan.
World Health Organization (WHO) melalui panduan pola makan sehat menekankan empat prinsip utama, yakni kecukupan gizi (adequacy), keseimbangan (balance), moderasi (moderation), dan keberagaman (diversity). Prinsip tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi masyarakat dalam memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, dr. Diana Sunardi, menekankan bahwa orang tua perlu membiasakan diri membaca informasi nilai gizi dan komposisi produk sebelum menentukan pilihan pangan untuk keluarga.
Menurut Diana, penilaian terhadap suatu produk tidak cukup hanya dengan melihat satu bahan yang tercantum dalam komposisinya. Masyarakat juga perlu mempertimbangkan keseluruhan kandungan gizi, porsi konsumsi, serta peran produk tersebut dalam pola makan sehari-hari.
"Ketika mengkonsumsi makanan, ada baiknya memperhatikan isi piringku. Itu berisi keragaman pangan dan pastikan juga apa yang dimakan memenuhi semua komponen gizi. Mulai dari protein nabati dan hewani," ujar dr. Diana dalam seminar World Food Day 2026 bertema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”, Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) di Karawaci, Tangerang, Kamis (15/10).
Karena itu, pemahaman terhadap komposisi produk secara utuh dapat membantu masyarakat menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana ketika menilai makanan.
Baca Juga: Kabut Masih Selimuti Sejumlah Daerah, Cek Prakiraan Cuaca Jawa Timur Jumat (16/10)
Diana menjelaskan, setiap bahan pangan memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda. Karbohidrat, misalnya, merupakan salah satu zat gizi makro yang berperan sebagai sumber energi utama bagi tubuh.
Jenis karbohidrat yang berbeda juga dapat memiliki karakteristik tersendiri, baik dalam proses metabolisme maupun dalam pengolahan pangan. Kombinasi bahan dalam produk pangan perlu disesuaikan dengan tujuan formulasi, kebutuhan gizi, serta ketentuan yang berlaku.
Selain kandungan gizinya, bahan baku juga memiliki fungsi teknologi yang memengaruhi kualitas produk. Fungsi tersebut dapat berkaitan dengan tekstur, rasa, kestabilan, kelarutan, hingga pengalaman saat produk dikonsumsi.
Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), Julia R. Wijaya, menjelaskan bahwa formulasi produk pangan tidak sesederhana mengganti satu bahan dengan bahan lain yang memiliki fungsi serupa.
Ia mencontohkan penggunaan gula dan pemanis buatan. Pemanis buatan dapat memberikan rasa manis, tetapi tidak selalu dapat menggantikan seluruh fungsi gula dalam suatu produk. Dalam formulasi tertentu, gula juga berkontribusi terhadap karakteristik fisik, seperti tekstur dan kekentalan atau body produk.
Oleh sebab itu, bahan lain mungkin diperlukan untuk membantu memenuhi fungsi yang tidak dapat digantikan oleh pemanis saja.
Salah satu bahan yang digunakan dalam formulasi pangan adalah maltodekstrin. Menurut Julia, bahan ini merupakan karbohidrat hasil pengolahan pati yang memiliki struktur berbeda dari gula sederhana dan bukan merupakan gula tambahan dalam pengertian yang sama dengan gula yang lazim ditambahkan sebagai pemanis.
Baca Juga: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (16/10), Hujan Lebat Mengguyur 13 Provinsi Ini
Dalam produk pangan tertentu, maltodekstrin dapat digunakan untuk membantu membentuk tekstur, menjaga karakteristik produk, meningkatkan kelarutan, serta menjadi bahan pembawa (carrier) vitamin dan mineral.
Penggunaannya dapat ditemukan dalam beragam produk, termasuk minuman, susu pertumbuhan, dan pangan fungsional. Namun, fungsi serta komposisi setiap produk dapat berbeda, sehingga konsumen tetap perlu memeriksa informasi pada label masing-masing produk.
Cara Lebih Bijak Memilih Produk Pangan untuk Keluarga
Peningkatan literasi pangan menjadi salah satu langkah penting agar masyarakat dapat memahami produk yang dikonsumsi secara lebih menyeluruh.
Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan konsumen ketika memilih produk pangan.
Pertama, baca daftar komposisi dan informasi nilai gizi. Jangan hanya terpaku pada satu bahan, klaim pemasaran, atau istilah tertentu yang tercantum pada kemasan. Menurut Diana kesalahan pertama yang kerap terjadi adalah hanya membaca sepintas informasi gizi atau sampel makanannya.
"Kebanyakan yang dibaca ini makanan hebat mampu meningkatkan kesehatan dan lainnya. Komposisi dan presentase gizi juga penting," tukasnya.
Kedua, perhatikan porsi konsumsi. Kandungan zat gizi perlu dilihat bersama takaran saji dan jumlah produk yang dikonsumsi agar dapat dipahami secara lebih proporsional.
Ketiga, sesuaikan pilihan dengan kebutuhan keluarga. Kebutuhan gizi anak, orang dewasa, dan anggota keluarga dengan kondisi tertentu dapat berbeda. Untuk anak pada masa pertumbuhan, orang tua perlu memastikan asupan yang sesuai dengan tahap usia dan kebutuhannya.
Keempat, gunakan sumber informasi yang kredibel. Informasi mengenai bahan pangan sebaiknya merujuk pada sumber ilmiah, tenaga kesehatan yang kompeten, serta ketentuan otoritas pangan yang berlaku.
Julia menegaskan bahwa pemahaman mengenai struktur, sifat, dan fungsi bahan pangan dapat membantu masyarakat menilai produk secara lebih komprehensif. Dengan memahami bagaimana berbagai bahan berinteraksi dalam suatu formulasi, konsumen diharapkan tidak lagi menilai kualitas pangan hanya berdasarkan keberadaan satu jenis bahan.
Baca Juga: Ini Peran Ibu dalam Mendukung Perjalanan Hidup Yura Yunita hingga Menjadi Musisi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News