MOMSMONEY.ID - Bagi sebagian orang, menikmati waktu santai sambil menonton film dan menyantap camilan memang terasa menyenangkan. Bahkan, keinginan ngemil terkadang tetap muncul meski perut sebenarnya sudah kenyang.
Ternyata, keinginan makan tidak selalu berkaitan dengan rasa lapar. Ada peran hormon dan zat kimia di otak yang ikut memengaruhi perilaku makan.
Dokter spesialis kesehatan jiwa dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ menjelaskan, hormon tertentu membantu mengatur rasa lapar dan kenyang. Namun, fungsi hormon tersebut bisa dipengaruhi berbagai kondisi, termasuk penggunaan obat-obatan psikiatri tertentu.
Selain itu, seseorang juga bisa makan bukan karena lapar, melainkan ingin mendapatkan perasaan nyaman atau senang.
Baca Juga: Angka Timbangan Turun Belum Tentu Diet Berhasil, Perhatikan Hal Ini
Putri menjelaskan, saat stres atau lelah, otak dapat mencari sensasi penghargaan melalui makanan. Proses ini dikenal sebagai hedonic eating, yaitu perilaku makan untuk mendapatkan rasa senang atau nyaman.
Misalnya, setelah bekerja seharian, seseorang merasa perlu membeli makanan favorit sebagai hadiah untuk dirinya sendiri.
Kebiasaan tersebut sebenarnya tidak selalu menjadi masalah. Namun, jika makanan terus dijadikan pelarian setiap kali menghadapi tekanan, pola makan seseorang bisa ikut berubah.
“Motivasi saja tidak cukup untuk menjelaskan masalah ini karena masih ada faktor lain yang turut memengaruhi,” ujar Putri dalam diskusi media Novo Indonesia di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, kebiasaan makan tidak hanya berkaitan dengan kemauan seseorang untuk mengendalikan nafsu makan. Kondisi emosional, stres, hingga mekanisme tubuh dalam mengatur rasa lapar dan kenyang juga ikut berperan.
Baca Juga: Cuma Makan Sekali Sehari saat Diet? Ini Risiko yang Perlu Diketahui
Karena itu, keinginan makan yang terus muncul meski perut sudah kenyang tidak selalu berarti seseorang kurang disiplin.
Pengaruh kondisi emosional terhadap pola makan juga bisa berbeda pada setiap orang. Stres, misalnya, tidak selalu membuat seseorang ingin makan lebih banyak. Pada sebagian orang, kecemasan justru dapat menurunkan nafsu makan hingga membuat berat badan ikut turun.
Putri menambahkan, kebiasaan makan dalam jumlah besar tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami binge eating disorder. Untuk mengenali gangguan tersebut, perlu dilihat lebih jauh dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari dan tekanan yang dialami.
Karena itu, penting untuk memahami apa yang mendorong seseorang untuk makan. Apakah karena tubuh memang lapar, sekadar ingin menikmati camilan, atau justru sedang mencari kenyamanan saat menghadapi stres dan kelelahan?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News