MOMSMONEY.ID - Sutradara kondang Joko Anwar kembali menghadirkan karya terbarunya berjudul Ghost in The Cell. Film bergenre horor komedi ini tak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menyisipkan kritik sosial, khususnya terhadap kondisi pemerintahan dan kehidupan bernegara di Indonesia.
Joko mengungkapkan, ide awal film ini sebenarnya sudah muncul sejak 2018. Saat itu, ia berharap kondisi Indonesia akan membaik dalam beberapa tahun ke depan. Namun, realitas yang terjadi justru memunculkan kegelisahan tersendiri yang kemudian dituangkan dalam film ini.
“Kita berharap dari 2018 ke 2025 itu Indonesia membaik, tapi ternyata enggak. Nah, terus kita mencoba untuk meng-encapsulate dalam satu film Ghost in The Cell ini. Bagaimana filmnya bisa merepresentasikan Indonesia,” ujar Joko dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Ia menyebut, satu kata yang terus muncul selama proses pengembangan cerita adalah “absurd”. Menurutnya, banyak fenomena di Indonesia yang terasa tidak masuk akal, tetapi justru dianggap biasa oleh masyarakat.
“Korupsi ratusan triliun, tapi kita seperti tenang-tenang saja. Itu kan absurd. Jadi kami mencoba menangkap itu dalam skenario,” jelasnya.
Baca Juga: Jangan Hanya Hemat! Ini Strategi Raih Keuangan Sehat Jangka Panjang
Meski sarat kritik, Joko menegaskan bahwa film ini tidak ingin berakhir dengan nuansa putus asa. Ia tetap ingin menghadirkan harapan, meski tidak berlebihan hingga terkesan delusional.
“Kami tidak ingin film ini hopeless, tapi juga tidak ingin terlalu hopeful. Karena banyak sekali challenge yang harus kita hadapi,” katanya.
Dari sisi konsep, Ghost in The Cell memadukan unsur komedi dan horor yang dinamis. Perpaduan ini, menurut Joko, mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia yang kerap berada di antara situasi serius dan ironi.
“Kadang lucu, kadang menyeramkan. Itu cerminan kehidupan kita sebagai warga negara,” ujarnya.
Baca Juga: 5 Ciri Ruang Makan Jadul yang Masih Dipakai, Padahal Bikin Rumah Terlihat Lebih Tua
Salah satu metafora utama dalam film ini adalah negara yang digambarkan sebagai “penjara”, sementara masyarakat adalah para “tahanan” di dalamnya. Joko menyoroti bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan untuk keluar dari kondisi tersebut.
“Hanya sebagian orang yang punya privilege untuk ‘kabur’. Tapi sebagian besar dari kita tidak punya pilihan lain. Mau ke mana lagi? Kita semua ada di ‘penjara’ itu,” ungkapnya.
Selain menghadirkan kritik sosial, film yang akan tayang pada 16 April 2026 ini juga menjadi ajang kolaborasi lintas profesi. Joko melibatkan enam ilustrator Indonesia untuk mendesain setiap adegan kematian dalam film.
Menurutnya, para ilustrator tersebut memiliki reputasi internasional dan pernah bekerja dengan brand besar seperti DC dan Marvel, meski namanya belum banyak dikenal di dalam negeri.
“Kami ingin film ini jadi showcase untuk semua orang yang bertalenta di Indonesia,” pungkas Joko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News