MOMSMONEY.ID - Tren konsumsi suplemen di masyarakat kian meningkat, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Namun, ahli gizi mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan dalam mengonsumsi suplemen tanpa memahami kebutuhan tubuh.
Ahli Gizi dari Universitas Esa Unggul, Nazhif Gifari, menegaskan bahwa tidak semua orang membutuhkan suplemen. Menurutnya, suplemen umumnya diperlukan oleh kelompok tertentu, seperti ibu hamil, perempuan yang sedang menstruasi, lansia, individu dengan kondisi kesehatan khusus, atau mereka yang memiliki aktivitas fisik tinggi.
Selain itu, tren diet tertentu seperti vegan juga dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi, misalnya vitamin B12. Kekurangan nutrisi ini bisa ditandai dengan gejala seperti kesemutan.
“Gejala lain yang perlu diperhatikan antara lain mudah lelah, rambut rontok, kram otot, hingga kulit kering. Ini bisa menjadi indikasi adanya defisiensi vitamin atau mineral,” kata Nazhif dalam acara Talkshow Kesehatan yang digelar Darya-Varia di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Suvei: Kebutuhan Kesehatan & Keuangan Pribadi Mayoritas Wanita Indonesia Terabaikan
Nazhif menjelaskan, maraknya konsumsi suplemen juga tidak lepas dari pola makan masyarakat yang belum seimbang. Dalam ilmu gizi, makanan idealnya terdiri dari karbohidrat, protein, serta sayur dan buah yang saling melengkapi.
Namun dalam praktiknya, masih banyak masyarakat yang belum memenuhi asupan tersebut, terutama konsumsi sayur dan buah.
“Saat ini Indonesia menghadapi tiga masalah gizi utama, yakni gizi lebih seperti obesitas, gizi kurang, dan defisiensi mikronutrien,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola makan memiliki dampak besar terhadap kondisi kesehatan. Perubahan pola konsumsi, seperti meningkatnya konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam, turut berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membatasi asupan gula, garam, dan lemak (GGL), serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up setidaknya setahun sekali.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Sabtu 11 April 2026, Saatnya Fokus
Lebih lanjut, Nazhif menegaskan bahwa suplemen tidak bisa menggantikan pola makan sehat.
“Suplemen hanya bersifat melengkapi, bukan menggantikan. Sayur dan buah tidak hanya mengandung vitamin dan mineral, tetapi juga serat dan zat lain yang tidak selalu ada dalam suplemen,” katanya.
Di sisi lain, konsumsi suplemen juga kerap dipengaruhi oleh tren, terutama dari media sosial. Banyak masyarakat membeli produk hanya karena rekomendasi di platform digital tanpa memahami kandungan, dosis, maupun kecocokannya.
Untuk itu, Nazhif membagikan tiga panduan sebelum membeli suplemen. Pertama, trust, yaitu memastikan produk memiliki izin BPOM dan dibeli di tempat resmi dengan tenaga kesehatan berlisensi.
Kedua, benefit, yakni memastikan kandungan suplemen sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan asumsi atau diagnosis sendiri. Ketiga, price, di mana harga tidak selalu mencerminkan kualitas sehingga perlu dikonsultasikan terlebih dahulu.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari overdosis dan kebiasaan self-diagnosis.
“Saat ini banyak orang mengonsumsi suplemen seperti vitamin D3 tanpa mengetahui dosis yang tepat. Sebaiknya lakukan pemeriksaan terlebih dahulu, lalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, Nazhif menekankan bahwa suplemen tetap memiliki manfaat, tetapi harus digunakan secara bijak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News