MOMSMONEY.ID - Momen Hari Anak Nasional 2026 bukan hanya menjadi ajang bagi anak-anak untuk berkarya dan menyampaikan aspirasi. Perayaan ini juga menjadi pengingat bahwa tumbuh kembang anak dimulai dari hal paling mendasar
Yakni, pemenuhan gizi yang didukung oleh informasi yang benar bagi orang tua. Pesan inilah yang kembali digaungkan dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026.
Selain menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi, peringatan tersebut juga menyoroti pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, hingga anak-anak sebagai bekal membangun generasi yang sehat dan berkualitas.
Menariknya, anak-anak Indonesia juga berharap, pemerintah terus memperkuat program pemenuhan gizi, memperluas edukasi, dan meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi.
Pesan tersebut sejalan dengan pandangan Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA) yang turut mendukung penyelenggaraan Hari Anak Nasional.
Baca Juga: Anak Kebanyakan Main HP Bisa Obesitas, Ini 5 Dampak Terlalu Banyak Screen Time
Direktur Eksekutif APPNIA Poppy Kumala mengatakan, pemenuhan gizi tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun kualitas generasi masa depan. Pemenuhan gizi pada setiap tahap usia merupakan fondasi tumbuh kembang anak.
Namun, fondasi tersebut hanya dapat terwujud apabila orang tua, khususnya ibu, memiliki akses terhadap edukasi gizi yang akurat dan berbasis ilmu pengetahuan.
Menurut Poppy, tantangan saat ini bukan hanya akses terhadap pangan bergizi, tetapi juga maraknya informasi mengenai gizi anak yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.
"Saat ini banyak informasi beredar di media sosial dan kita tidak selalu bisa memastikan seberapa bertanggung jawab informasi tersebut," ujar Poppy dalam keterangan resmi Kamis (30/7).
Karena itu, APPNIA bersama perusahaan-perusahaan anggotanya menggandeng akademisi, dokter anak, serta berbagai pakar untuk memperkuat edukasi mengenai kebutuhan gizi sesuai tahapan usia anak.
Baca Juga: Tak Cuma Kejar Nilai, Sekolah Juga Fokus Kembangkan Karakter dan Berpikir Kritis Anak
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu orang tua mengambil keputusan yang tepat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi buah hati. Poppy menilai, kolaborasi menjadi kunci agar edukasi gizi dapat menjangkau lebih banyak keluarga di Indonesia.
"Kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga industri, harus bersinergi agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak keluarga," tuturnya.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan menyebutkan, pemenuhan hak anak, termasuk hak memperoleh gizi yang baik, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
"Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena hak anak harus dipenuhi semua pihak. Kolaborasi menjadi kunci," kata Veronica.
Ia menambahkan, komitmen tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News