MOMSMONEY.ID - Generasi muda Indonesia kini menghadapi tekanan sosial yang mendorong mereka untuk merokok karena budaya yang menganggap rokok sebagai simbol keren dan maskulinitas.
Hal ini diungkapkan Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dedi Supratman dalam Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) ke-11 yang digelar di Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC) Tower, Kampus Universitas Airlangga Surabaya, Kamis (21/5).
Akibatnya, jumlah perokok aktif di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023 menembus angka 70 juta jiwa. Angka ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan konsumen tembakau tertinggi di dunia.
Dedi menjelaskan, sebagian pemuda bahkan kerap merundung rekan sebaya mereka yang tidak merokok, sehingga tekanan sosial ini semakin memperparah masalah.
"Ini memicu beban ganda penyakit katastropik seperti jantung, gagal ginjal, stroke, dan lain-lain," kata Dedi dalam keterangan resmi, Kamis (21/5).
Baca Juga: 74.000 Pelajar Semarang Terpapar Iklan Rokok, Paling Terdampak Siswa SD
Kondisi ini diperburuk oleh data WHO yang mencatat 7,4% perokok aktif di Indonesia berusia 10 hingga 18 tahun.
Ketua Tim Penyakit Tidak Menular WHO Tara Mona Kessaram menyebutkan, kemasan dan promosi rokok yang menarik sebagai salah satu pemicu utama tingginya angka perokok remaja.
"Maka, kebijakan untuk mencegah hal ini perlu segera dilakukan," tegas Tara.
Dedi menambahkan, kecanduan rokok juga berkaitan erat dengan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab 74% kematian di Indonesia.
Untuk memutus mata rantai ini, IAKMI mendorong tiga langkah strategis, yakni larangan total iklan rokok, kenaikan bea masuk, serta perluasan dan penegakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) secara konsisten.
Baca Juga: Benarkah Vape Lebih Aman dari Rokok Konvensional? Begini Penjelasan Ahli
Wakil Rektor Universitas Airlangga Muhammad Miftahussurur menegaskan, kampus juga memiliki tanggung jawab dalam pencegahan perilaku merokok di kalangan anak muda.
"Misalnya, Unair yang setiap tahun menganggarkan untuk sidak KTR, ini bisa ditiru oleh kampus lain," ucapnya.
ICTOH 2026 berlangsung selama dua hari pada 21-22 Mei 2026 dan diikuti oleh pengajar, peneliti, organisasi masyarakat sipil, serta pemerintah.
Konferensi ini memuat 3 pleno, 7 simposium, 12 diskusi paralel, serta 125 artikel ilmiah yang dipresentasikan dari 155 abstrak yang mendaftar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News