MOMSMONEY.ID - Literasi keuangan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi masa depan finansial yang semakin terdigitalisasi.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025 oleh OJK dan BPS, hampir 9 dari 10 anak muda Indonesia sudah terhubung dengan layanan keuangan digital.
Namun, hanya sekitar 7 dari 10 yang benar-benar memahami cara mengelolanya. Indeks inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 89,96%, sementara indeks literasinya berada di angka 73,22%.
Angka ini akses terhadap layanan keuangan umumnya semakin luas, tetapi edukasi tetap dibutuhkan agar akses tersebut diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijak dan aman.
Asep Haekal, Head of Strategy, Integrated Marketing Communication OVO, mengatakan, literasi keuangan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi masa depan finansial yang semakin terdigitalisasi.
“Fintech bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga bagaimana teknologi dapat membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang kuat dan lebih sehat,” ujar Asep Haekal dalam keterangan resmi Senin (18/5).
Baca Juga: Ini Perbedaan OVO dan OVO Finansial yang Wajib Pengguna Ketahui
Untuk terus mengedukasi generasi muda soal literasi keuangan, OVO menggelar program edukasi finansial berkolaborasi dengan MoneyFestasi.
Asep bilang, lewat Fintech Academy, OVO ingin mendorong mahasiswa agar tidak hanya aktif menggunakan layanan digital, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Inisiatif ini diakui Asep bertujuan untuk memperluas akses edukasi keuangan digital dengan pendekatan yang lebih relevan kepada generasi muda. Dengan menjangkau berbagai kampus di Indonesia, OVO berharap edukasi keuangan digital dapat hadir lebih merata bagi generasi muda di berbagai daerah.
Dalam Fintech Academy, mahasiswa diajak memahami peran fintech sebagai bagian dari kehidupan finansial sehari-hari. Tidak hanya sebagai alat pembayaran atau transaksi harian, fintech juga dapat membantu pengguna mengelola aktivitas finansial secara lebih praktis.
Melalui diskusi ringan, mahasiswa diajak mulai membangun kebiasaan finansial sehat sejak dini, mulai dari memahami prioritas kebutuhan, membuat perencanaan pengeluaran, memiliki tujuan finansial, hingga mengevaluasi pola konsumsi.
Pemahaman ini menjadi penting agar kemudahan promo, pembayaran cashless, dan akses layanan keuangan digital tidak justru mendorong perilaku konsumtif, melainkan dapat mendukung pengelolaan keuangan yang lebih seimbang.
Baca Juga: Hambatan Terbesar Generasi Muda Mulai Berinvestasi Bukan Soal Finansial, tapi Hal Ini
Selain membahas pengelolaan keuangan, program edukasi ini juga menyoroti pentingnya keamanan dalam menggunakan layanan fintech. Kewaspadaan ini menjadi semakin relevan di tengah maraknya kasus penipuan digital dengan modus social engineering yang banyak menyasar pengguna, termasuk anak muda.
Dengan literasi yang baik, generasi muda diharapkan dapat menjadi pengguna layanan keuangan digital yang lebih cermat dan bijak. Hal ini menjadi penting karena semakin tingginya pemanfaatan layanan berbasis digital juga perlu diikuti dengan kewaspadaan terhadap berbagai risiko, termasuk penyalahgunaan data dan modus penipuan digital.
Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia, menilai, kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital harus selalu diimbangi dengan pemahaman yang kuat mengenai perlindungan konsumen, keamanan data pribadi, serta cara menggunakan fintech secara bijak.
“Edukasi penting untuk membekali generasi muda agar mampu mengambil keputusan finansial yang lebih tepat dan sesuai kebutuhan mereka,” sebut Tulus.
Rangkaian roadshow Fintech Academy yang berkolaborasi dengan MoneyFestasi akan berlanjut ke sejumlah kampus lain, termasuk Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 20 Mei 2026 dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada Agustus 2026.
Melalui rangkaian ini, OVO akan menjangkau lebih dari 1.200 mahasiswa di berbagai kampus sepanjang 2026. Jumlah ini akan menambah total partisipan Fintech Academy sejak pertama kali diluncurkan menjadi lebih dari 6.200 mahasiswa.
Melalui inisiatif ini, OVO berharap, mahasiswa tidak hanya melek finansial, tetapi juga dapat mengelola keuangan dengan bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News