MOMSMONEY.ID - Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian tuberkulosis (TB).
Sebagai negara dengan beban kasus TB terbesar kedua di dunia setelah India, Indonesia diperkirakan mencatat 1,09 juta kasus TB dan 125.000 kematian setiap tahun pada 2024. Kondisi ini mendorong berbagai upaya untuk mempercepat deteksi dan pengobatan penyakit tersebut.
Sejalan dengan target eliminasi TB pada 2030, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengubah strategi pengendalian TB menjadi lebih preventif melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Salah satu langkahnya adalah mewajibkan pelacakan (tracing) 100% terhadap anggota keluarga dan kontak erat pasien TB untuk memutus rantai penularan.
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mendorong pemanfaatan teknologi computer-aided detection (CAD) atau perangkat lunak berbantuan komputer untuk membantu interpretasi hasil rontgen dada, terutama di daerah yang minim tenaga radiolog.
Mendukung upaya tersebut, Koneksi, platform kemitraan Australia-Indonesia untuk pengetahuan dan inovasi, bersama sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset mengembangkan platform berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama TBScreen.AI.
Teknologi ini mampu menganalisis hasil foto rontgen dada untuk skrining TB dalam waktu kurang dari lima detik.
Baca Juga: Jangan Tunggu Komplikasi, Perlu Deteksi dan Edukasi Diabetes Sejak Dini
Riset tersebut merupakan kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS), University of Melbourne, Universitas Monash Indonesia, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA), serta Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP).
Staf Tim Kerja Tuberkulosis dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Kemenkes Rita Aryati mengatakan, hingga 27 Juli 2026 capaian notifikasi kasus TB masih berada di bawah target pemerintah.
Hingga akhir Juni 2026, target penemuan dan pelaporan kasus minimal mencapai 45%, namun realisasinya baru 41%. Sementara itu, dari kasus yang telah ditemukan, target tindak lanjut berupa tata laksana atau pengobatan sebesar 95%, tetapi realisasinya baru mencapai 89%.
Kondisi ini perlu segera ditangani. Penemuan kasus harus diikuti dengan pengobatan yang cepat dan tepat untuk memutus rantai penularan TB, mengingat penanganan penyakit TB sendiri merupakan salah satu program yang menjadi fokus pada PHTC Presiden Prabowo Subianto.
"Jadi, penelitian TBScreen.AI dapat membantu Kementerian Kesehatan dalam upaya peningkatan skrining TB," ujar Rita dalam diskusi dan paparan hasil riset di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: Keluarga Indonesia Makin Digital, Internet Cepat Kini Jadi Kebutuhan Sehari-hari
Berbeda dengan teknologi CAD yang telah tersedia secara global, TBScreen.AI dikembangkan menggunakan karakteristik populasi Indonesia.
Sistem ini mempertimbangkan faktor usia, gender, ras, hingga kondisi disabilitas sehingga diharapkan menghasilkan skrining yang lebih akurat dan relevan dengan kondisi di dalam negeri.
Team Leader Koneksi Jana Hertz mengatakan, pengembangan TBScreen.AI merupakan salah satu dari 101 riset yang didukung Koneksi untuk menjawab tantangan pembangunan melalui pemanfaatan teknologi digital.
"TBScreen.AI diharapkan dapat membantu penanganan TB secara lebih cepat dan tepat. Kami mengapresiasi konsorsium penelitian dan seluruh pihak yang terlibat serta berharap teknologi ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas di Indonesia," katanya.
Peneliti utama sekaligus dosen Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM Dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati menjelaskan, saat ini dataset yang digunakan masih didominasi data dari DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Papua sehingga belum sepenuhnya mewakili keragaman populasi Indonesia.
Baca Juga: Jangan Takut Kepanasan! Ini 7 Penyakit Akibat Kurang Sinar Matahari termasuk Kanker
Karena itu, tim peneliti akan memperluas pengumpulan data dari berbagai provinsi lain. Selain itu, TBScreen.AI yang saat ini telah dapat diakses secara daring juga akan dikembangkan dalam versi luring agar dapat dimanfaatkan di daerah dengan keterbatasan akses internet.
Menurut Morita, berdasarkan hasil pengujian, TBScreen.AI memiliki tingkat sensitivitas mencapai 83,16%. Ke depan, akurasi tersebut akan terus ditingkatkan dengan penambahan data rontgen dada, termasuk mempertimbangkan berbagai penyakit penyerta dan kelompok rentan TB.
Selain meningkatkan akurasi deteksi, pengembangan teknologi AI secara mandiri juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada lisensi perangkat lunak asing serta memperkuat perlindungan data kesehatan masyarakat karena seluruh pengelolaannya dilakukan di Indonesia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi menilai, teknologi ini juga berpotensi meningkatkan akses layanan kesehatan bagi penyandang disabilitas yang selama ini masih menghadapi berbagai hambatan dalam proses skrining hingga pengobatan TB.
Menurutnya, setiap kelompok disabilitas memiliki tantangan yang berbeda, mulai dari proses pemeriksaan rontgen, diagnosis, hingga pengobatan. Karena itu, pendekatan yang inklusif diperlukan agar deteksi dini TB dapat dilakukan lebih optimal dan pengobatan bisa segera diberikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News