M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

IHSG Melorot Terkena Dampak MSCI, Saatnya Buy on Weakness?

IHSG Melorot Terkena Dampak MSCI, Saatnya Buy on Weakness?
Reporter: Sanny Cicilia  |  Editor: Sanny Cicilia


MOMSMONEY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpukul pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026 setelah kabar sikap MSCI terhadap bursa Indonesia. IHSG ditutup turun 7,35% ke level 8.320,56 pada sore ini. 

Namun, dalam perdagangan intrahari, IHSG sempat turun ke bawah 8% dan menyebabkan perdagangan dihentikan (trading halt) sementara selama 30 menit. 

Penurunan IHSG terutama disebabkan oleh pengumuman lembaga penyedia indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang meminta perbaikan transparansi dan regulasi penentuan free float di Indonesia. Sikap MSCI disinyalir akan mendorong dana asing lebih deras keluar dari pasar domestik.

MSCI mengumumkan akan memberlakukan interim freeze, di mana tidak akan ada penambahan saham baru atau addition untuk saham Indonesia pada evaluasi Februari ini. MSCI melihat ada struktur kepemilikan saham di Indonesia buram dan ada dugaan manipulasi harga secara terkoordinasi.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata melihat, penurunan hingga 8% tersebut mencerminkan lonjakan volatilitas dan aksi de-risking yang ekstrem dalam waktu singkat.

"Kejadian ini menegaskan bahwa sentimen MSCI langsung diterjemahkan pasar sebagai risiko struktural, bukan sekadar koreksi teknikal biasa," ujar Liza.

Menurut dia, asing terlihat sudah melakukan penyesuaian lebih dulu sembari menunggu konfirmasi pengumuman MSCI.  

Arus dana asing keluar di pasar reguler pada Selasa (26/1) sebesar Rp 1,65 triliun dan mengubah posisi asing year to date (YTD) menjadi net sell Rp 188,23 miliar, memperlihatkan bahwa sebagian investor asing, khususnya active global funds, sudah melakukan de-risking lebih dulu.

"Ini bukan panic selling, melainkan pre-emptive adjustment untuk mengurangi eksposur sebelum sentimen MSCI benar-benar dikonfirmasi dan berpotensi memicu arus pasif yang lebih besar," tulis Liza. Dengan demikian, front-running sudah mulai terjadi, meski skalanya belum agresif seperti forced selling.

Baca Juga: MSCI Ancam Saham Indonesia Masuk Frontier Market, Seberapa Buruk Dampaknya?

Ketika MSCI memberlakukan interim freeze, ini menghilangkan potensi kenaikan saham jangka pendek dari rebalancing, baik melalui kenaikan Foreign Inclusion Factor, perpindahan size dari Small ke Standard, maupun potensi inclusion saham baru. 

Artinya, Indonesia kehilangan satu katalis struktural penting yang biasanya menopang valuasi saham berkapitalisasi besar atau big caps

"Selama isu transparansi kepemilikan dan konsentrasi belum dibereskan, Indonesia akan dipandang sebagai market dengan risk premium lebih tinggi, bukan market yang sedang naik kelas," ujar Liza.

Dampaknya, active funds akan lebih selektif dan cenderung underweight Indonesia hingga ada sinyal perbaikan regulasi yang kredibel. Sementara passive funds atau dana pasif dalam posisi on hold

Menurut Liza, risiko terbesar bukan hanya freeze, melainkan ancaman downgrade ke Frontier Market, yang berpotensi memicu forced selling dari dana yang mandatnya hanya boleh berinvestasi di Emerging Market. Oleh karena itu, sentimen MSCI ini langsung menekan appetite asing dan bukan bersifat sementara.

Baca Juga: IHSG Anjlok, Ini Saham-saham Paling Banyak Dijual Asing di Sesi I (28/1)

Peluang buy on weakness

Di tengah penurunan IHSG, saham-saham berkapitalisasi pasar besar atau big caps terlihat menarik. Misalnya, saham BREN merosot 12,63% ke Rp 8.300, saham BBCA juga turun 6,33% ke Rp 7.025. Saham TPIA turun 5,71% ke Rp 6.600, dan BBRI terkoreksi 6,02% ke Rp 3.590.

Nah, ada peluang investor menyerok di harga lebih murah dengan strategi buy on weakness.

Namun, Liza menegaskan, pendekatan buy on weaknes ini harus sangat selektif. 

"Secara prinsip, buy on weakness hanya relevan untuk saham big caps dengan free float relatif bersih, struktur kepemilikan transparan, likuiditas tinggi, serta fundamental earnings yang defensif atau memiliki visibility kuat," kata dia.

Untuk pasar secara agregat, ini belum merupakan fase agresif buy, melainkan fase inventory building bertahap. 

"Selama IHSG masih berpotensi konsolidasi ke area 8.050–8.000, pendekatan paling rasional adalah wait and see, bukan catching falling knife," kata Liza. 

Valuasi big caps bisa mulai menarik, namun timing tetap krusial karena aliran dana asing belum stabil.

"Advise dari kami, holdwait and see sambil memantau respons regulator dan stabilisasi aliran dana," kata Liza.

Liza memprediksi, dalam jangka pendek, sekitar 1–4 minggu, sentimen MSCI berpotensi menjadi overhang utama pasar. Hal ini karena penghapusan katalis rebalancing Februari 2026, meningkatnya volatilitas akibat rotasi portofolio asing, serta melemahnya kepercayaan terhadap struktur pasar Indonesia.

Secara teknikal, tekanan ini cukup kuat untuk mendorong IHSG masuk fase konsolidasi lanjutan, dengan area 8.050–8.000 sebagai zona uji psikologis dan teknikal. Selama belum ada respons regulasi yang konkret dan kredibel dari BEI maupun OJK terkait transparansi kepemilikan, relief rally berpotensi rapuh dan cepat dijual.

Baca Juga: Trading Halt Dicabut, IHSG Lanjut Melorot Lebih dari 8%

Dalam jangka menengah, arah pasar akan lebih ditentukan oleh respons kebijakan dibanding narasi. Jika regulator mampu meningkatkan granularitas data kepemilikan, menekan risiko konsentrasi serta transaksi terkoordinasi, dan meyakinkan MSCI sebelum Mei 2026, maka tekanan dapat mereda dan risk premium mulai turun. 

"Sebaliknya, jika isu ini berlarut, IHSG berisiko underperform dibanding indeks di kawasan, meskipun kondisi makro domestik relatif stabil," kata dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Rayakan Hari Anak Nasional, Es Teler 77 dan Bobo Bikin Menu Spesial untuk Anak-anak

Es Teler 77 dan Bobo ajak orang tua bernostalgia sekaligus menciptakan kenangan baru dengan menghadirkan menu spesial untuk anak-anak.

5 Tren Desain Rumah yang Kembali Populer di Tahun 2026, Tertarik Model Ini?

5 tren desain rumah tahun 2026 kembali populer, dari wallpaper hingga warna cokelat, menghadirkan hunian nyaman dan penuh karakter.  

Sindrom Kekayaan Mendadak pada Moms? Sadari Hal Ini Sebelum Ambil Keputusan

Sindrom kekayaan mendadak membuat Moms perlu paham cara kelola uang besar dengan tepat biar gak salah ambil keputusan.

Sayur Dimakan Awal atau Akhir? Ternyata Ini Cara Makan yang Tepat

Siapa yang sangka jika urutan makan yang umum seperti saat ini bukanlah urutan makan yang tepat. Ini caranya.  

5 Tips Investasi Bijak dan Terukur bagi Perempuan biar Keuangan Tetap Aman

Mau mulai investasi? Yuk, simak tips investasi dengan bijak dan terukur untuk perempuan berikut ini dari Amartha.

7 Makanan Penambah Gairah Seks yang Bikin Hubungan Suami Istri Makin Lengket

Temukan berbagai jenis makanan alami yang ampuh meningkatkan gairah seks dan melancarkan aliran darah demi hubungan intim yang lebih berkualitas.

Kenapa Harus Berhenti Merokok? Ini Efek Buruknya pada Kesuburan Pria

Kebiasaan merokok tak hanya merusak paru-paru dan jantung, tetapi juga menjadi musuh utama kesuburan pria karena merusak kualitas sperma.

4 Kesalahan Membuat Donat yang Bikin Hasilnya Bantat dan Berminyak, Hindari Moms!

Agar hasilnya tidak bantat dan berminyak, ada 4 kesalahan membuat donat yang harus dihindari. Cari tahu di sini.

Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (22/7), Hujan Lebat Tetap Landa Provinsi Berikut

BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca besok Rabu 22 Juli 2026 dengan status Waspada hujan lebat di provinsi berikut ini.

Hasil China Open 2026, Putri KW dan 3 Wakil Indonesia Melangkah ke 16 Besar

Hasil China Open 2026 babak 32 besar hari pertama, empat wakil Indonesia melangkah 16 besar dan satu lainnya terhenti.