MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global stabil, karena para pedagang mempertimbangkan perang di Timur Tengah dan dollar AS yang melemah. Investor juga menilai laporan bahwa Badan Energi Internasional akan melakukan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah.
Mengutip Bloomberg, Rabu (11/3), harga emas spot naik tipis kurang dari US$ 3 menjadi US$ 5.194,06 per troi ons pada pukul 17.14 WIB.
Harga emas bertahan di bawah US$ 5.200 per troi ons, setelah naik 1% pada sesi Selasa. Harga minyak mentah tetap stabil, sementara indeks dollar AS merosot untuk hari keempat, yang membuat emas lebih murah bagi sebagian besar pembeli.
Tahun ini, harga emas sudah naik sekitar 20%, meskipun harganya belum menunjukkan kemajuan sejak pecahnya konflik antara AS, Israel dan Iran pada akhir Februari. Fase awal perang tersebut mendongkrak nilai dollar AS, yang melemahkan logam mulia. Emas juga mungkin juga telah dijual untuk menutupi kerugian pada instrumen lain.
Baca Juga: Harga Emas Rebound di tengah Potensi Perang Segera Berakhir
Bagi emas, volatilitas ekstrem harga minyak telah meningkatkan kekhawatiran tentang inflasi, yang pada gilirannya mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserves dan bank sentral lainnya akan mampu memangkas suku bunga. Nah, suku bunga yang tinggi menjadi hambatan bagi logam mulia, yang tidak memberikan bunga.
Menurut David Wilson, Direktur Strategi Komoditas di BNP Paribas SA, logam mulia agak kesulitan di bawah tekanan penguatan dollar AS dan jatuhnya harga saham AS pekan lalu, dengan emas dijual untuk menutupi kewajiban margin saham. "Minat terhadap emas fisik, khususnya di Asia, memberikan dukungan," imbuhnya mengutip Bloomberg, hari ini.
Sejak perang dimulai, dana berbasis emas yang diperdagangkan di bursa atau ETF mengalami arus keluar. Meski demikian, Alexandre Carrier, Manajer Portofolio di DNCA Invest Strategic Resources, mengatakan, emas menemukan dukungan sebagai aset aman selama periode pergolakan. "Ada baiknya membeli emas saat harga turun," katanya, melansir Bloomberg, Rabu.
Baca Juga: Melonjak Tinggi, Simak Daftar Harga Emas Antam Hari Ini Rabu (11/3)
Perang terus mengganggu produksi dan penyulingan minyak mentah di seluruh Timur Tengah. AS dan Israel telah melancarkan serangan paling intens terhadap Iran, dan tidak akan menyerah sampai Iran dikalahkan, kata Pentagon pada Selasa, sebagaimana dikutip dari Bloomberg. Mereka menunjukkan nada yang lebih agresif setelah indikasi sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump bahwa konflik tersebut dapat segera berakhir.
Para pedagang juga telah menurunkan ekspektasi jumlah pemangkasan suku bunga pada tahun ini, menjelang rilis data inflasi AS bulan Februari, yang diperkirakan menunjukkan inflasi tetap jauh di atas target bank sentral.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News