MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global fluktuatif, namun mencoba bangkit. Sinyal saling bertentangan dari AS dan Iran masih menyisakan keraguan atas solusi diplomatik untuk mengakhiri perang, yang memicu kekhawatiran tentang inflasi berkepanjangan.
Mengutip Bloomberg, Selasa (2/6), harga emas spot sempat turun pada pagi, sebelum memantul naik sekitar 0,51% menjadi US$ 4.508 per troi ons pada pukul 11.35 WIB.
Harga emas menguji naik, setelah turun lebih dari 1% pada sesi sebelumnya, di tengah latar belakang bentrokan yang kembali terjadi di dekat Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dengan kecepatan tinggi, sebagai tanggapan terhadap ancaman dari Teheran untuk menangguhkan diplomasi dan menutup jalur Hormuz sepenuhnya.
Namun, Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan keterangan yang berbeda mengenai percakapan telepon tentang pertempuran di Libanon. Ini menimbulkan kebingungan seputar pembicaraan untuk mengakhiri konflik, yang telah memicu krisis energi global.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Tergelincir, Tidak Ada Kemajuan soal Gencatan Senjata AS-Iran
Ketidakpastian mengguncang pasar pada Senin, dengan harga minyak mencatatkan kenaikan terbesar dalam sebulan, sementara imbal hasil obligasi dan dollar AS naik. Ini menyebabkan emas yang diukur dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi banyak pembeli. Pada Selasa, harga minyak Brent bertahan sedikit di bawah US$ 95 per barel.
Analis TD Securities, Ryan McKay dan Bart Melek, mengatakan, pasar energi kemungkinan akan tetap ketat dan didukung oleh harga yang lebih tinggi, bahkan di bawah potensi kesepakatan. Hal ini menunjukkan bahwa hambatan makro yang telah membebani logam mulia akan tetap ada.
Harga emas anjlok sejak konflik pecah pada akhir Februari dan masih 15% di bawah level sebelum perang. Belakangan, harga emas diperdagangkan dalam kisaran yang sempit.
Jika arus energi dan perdagangan melalui Hormuz kembali lancar, kekhawatiran mengenai inflasi global akan mereda, sehingga bank sentral berpeluang melonggarkan kebijakan moneter. Suku bunga yang lebih rendah merupakan pendorong bagi emas yang tidak memberikan bunga.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Selasa (2/6) Anjlok Rp 25.000 Jadi Rp 2.774.000
Namun, Federal Reserve mungkin memiliki alasan yang lebih sedikit untuk memangkas suku bunga, setelah aktivitas manufaktur AS meningkat. Aktivitas manufaktur bulan Mei meningkat dengan laju tercepat dalam empat tahun, dan telah tumbuh lima bulan berturut-turut.
Menurut Rhona O'Connell, Kepala analisis pasar untuk EMEA dan Asia di StoneX Financial Ltd., prospek harga emas tetap bergantung pada perkembangan di Timur Tengah.
"Meskipun beberapa kemajuan telah dicapai, isu utama tetap belum terselesaikan, yang berarti harga kemungkinan akan tetap berada dalam kisaran terbatas, berpotensi cenderung menurun karena ekspektasi suku bunga," katanya dalam catatan, yang dilansir Bloomberg, hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News