M O M S M O N E Y I D
AturUang

Gen Z Kini Lebih Cepat Menyiapkan Pensiun, Meski Rumah Masih Tertunda

Gen Z Kini Lebih Cepat Menyiapkan Pensiun, Meski Rumah Masih Tertunda
Penulis: Ramadhan Widiantoro  |  Editor: Ramadhan Widiantoro


MOMSMONEY.ID - Gen Z menghadapi mahalnya rumah dan biaya hidup, tetapi justru mulai menabung untuk pensiun lebih cepat. Apakah aman? Simak ulasan berikut.

Generasi Z kini menghadapi dilema keuangan yang cukup menarik. Di satu sisi, membeli rumah dan membangun keluarga terasa semakin berat karena biaya hidup terus menjadi pertimbangan. 

Di sisi lain, mereka justru mulai memikirkan investasi dan dana pensiun pada usia yang lebih muda dibandingkan generasi sebelumnya. 

Temuan terbaru dari Amerika Serikat ini memang tidak bisa langsung disamakan dengan kondisi Gen Z Indonesia, tetapi polanya relevan di tengah meningkatnya perhatian anak muda terhadap literasi dan perencanaan keuangan. 

Melansir dari Investopedia, rata rata pekerja Gen Z dalam survei terkait mulai menabung untuk pensiun pada usia 24 tahun, sementara laporan lain menunjukkan kecenderungan menyiapkan dana pensiun bahkan sejak usia 22 tahun. 

“Bagi Generasi Z, kesenangan kecil tetap menarik ketika pencapaian finansial yang lebih besar terasa semakin sulit dicapai,” dikutip dari Bank of America.

Baca Juga: Cara Atur Uang Royalti biar Penghasilan Pasif Tetap Stabi dan Terencana

Rumah bukan lagi satu-satunya ukuran sukses

Dulu, membeli rumah sering dianggap sebagai salah satu tanda seseorang sudah mapan. Namun, bagi sebagian anak muda sekarang, ukuran tersebut mulai berubah.

Dalam laporan yang menjadi sumber pembahasan, lebih dari 30% Gen Z di Amerika Serikat mengatakan persoalan keuangan membuat rencana membeli rumah tertunda. Sekitar 25% juga menunda rencana memiliki anak karena alasan serupa.

Situasinya tidak sepenuhnya asing bagi masyarakat Indonesia. Harga kebutuhan, biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, hingga tuntutan pekerjaan membuat generasi muda perlu menghitung lebih matang sebelum mengambil keputusan finansial besar.

Karena itu, belum memiliki rumah pada usia tertentu tidak otomatis berarti seseorang gagal mengatur keuangan. Bisa saja prioritasnya memang sedang diarahkan ke kebutuhan yang lebih mendesak atau persiapan jangka panjang.

Investasi mulai dilihat sebagai pilihan masa depan

Menariknya, keterlambatan mencapai sejumlah target besar tidak membuat Gen Z sepenuhnya mengabaikan masa depan. Justru, investasi menjadi salah satu area yang mengalami perubahan cukup mencolok.

Data JPMorganChase Institute yang dikutip Investopedia menunjukkan 37% orang berusia 25 tahun pada 2024 telah memindahkan sejumlah besar uang dari rekening transaksi ke rekening investasi sejak usia 22 tahun. Pada 2015, angkanya hanya 6%.

Perubahan ini menunjukkan bahwa sebagian anak muda mulai melihat pentingnya membangun aset lebih awal. Ketika harga properti dianggap semakin sulit dijangkau, pilihan untuk membangun kekayaan juga bisa bergeser ke instrumen keuangan yang lebih mudah dimulai dengan dana terbatas.

Namun, investasi tetap membutuhkan pengetahuan. Kondisi tersebut menjadi penting bagi masyarakat Indonesia karena OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional mencapai 66% dalam SNLIK 2025, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80%. 

Artinya, akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah tinggi, tetapi pemahaman mengenai produk dan risikonya tetap perlu diperkuat.

Baca Juga: Tips Mengatur Sedekah Subuh dalam Anggaran Bulanan agar Konsisten Setiap Hari

Pensiun dipikirkan sejak masih muda

Hal paling menarik dari tren Gen Z adalah perubahan cara memandang masa pensiun. Bagi sebagian anak muda, pensiun bukan lagi sesuatu yang baru dipikirkan ketika usia memasuki kepala empat atau lima.

Survei yang dikutip Investopedia menunjukkan rata rata pekerja Gen Z mulai menyiapkan tabungan pensiun pada usia 24 tahun. Studi lain yang diterbitkan sebelumnya bahkan menemukan Gen Z mulai menabung untuk pensiun pada usia 22 tahun.

Kebiasaan tersebut sebenarnya punya logika sederhana. Semakin panjang waktu yang tersedia untuk menabung dan mengembangkan aset, semakin besar kesempatan seseorang membangun dana masa depan secara bertahap.

Pelajaran yang bisa diterapkan Gen Z Indonesia

Warga Indonesia tidak perlu meniru angka dari Amerika Serikat secara mentah karena kondisi ekonomi kedua negara berbeda. Namun, prinsip mengatur uang sejak muda tetap dapat diterapkan. Beberapa kebiasaan yang cukup bisa dilakukan antara lain:

  • Pisahkan kebutuhan rutin dari keinginan.
  • Siapkan dana darurat sebelum mengejar target investasi.
  • Mulai menabung untuk tujuan jangka panjang meski nominalnya kecil.
  • Pelajari risiko setiap produk keuangan sebelum menggunakannya.
  • Jangan menjadikan tren media sosial sebagai patokan kondisi finansial.
  • Evaluasi pengeluaran ketika pendapatan berubah.

Di tengah perkembangan layanan keuangan digital, kemampuan memahami produk menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mengaksesnya. 

OJK sendiri terus mendorong edukasi keuangan masyarakat; hingga Februari 2026, lembaga tersebut mencatat telah menjalankan 251 kegiatan literasi keuangan yang menjangkau 299.119 peserta.

Gen Z bukan tertinggal, tetapi sedang mengubah prioritas

Fenomena Gen Z menunjukkan bahwa pencapaian finansial tidak selalu berjalan dalam urutan yang sama. Ada yang belum membeli rumah, tetapi sudah mulai membangun dana pensiun. Ada pula yang menunda keputusan memiliki anak sambil memperkuat kondisi ekonominya.

Bagi Anda, pesan terpentingnya bukan mengejar investasi karena takut tertinggal. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan finansial yang sesuai kemampuan, memahami risiko, dan memulai persiapan masa depan sedini mungkin.

Tujuan besar seperti rumah, keluarga, maupun pensiun tidak harus dikejar sekaligus. Keuangan yang sehat justru dibangun dari keputusan kecil yang konsisten dan masuk akal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Promo Guardian Super Hemat 15-28 Oktober 2026, Tambah Rp 1.000 Dapat 2 Lencir

Cek dan manfaatkan promo Guardian Super Hemat periode 15-28 Oktober 2026 untuk belanja produk kecantikan dan kesehatan.

Film Horor The Doll Ghawiah Tayang di Layar IMAX, Begini Sinopsisnya

Film horor Indonesia The Doll Ghawiah siap menyapa penonton di seluruh layar IMAX di Indonesia mulai 29 Oktober 2026.​

Ruang Mahjong Hadirkan Ruang Bermain sekaligus Bersosialisasi

Meningkatnya popularitas permainan mahjong membuka peluang bisnis penyediaan tempat bermain yang menggabungkan hiburan dan interaksi sosial.​

Ingin Kuliah Sambil Bangun Bisnis? Cek Tawaran Beasiswa Sandiaga Uno Ini

​Melalui kerja sama i3L University dan OK OCE, peserta bisa mengembangkan keterampilan bisnis sambil melanjutkan pendidikan tinggi.

Dari Dapur Rumah Jadi Ladang Cuan, Pelaku Usaha Kuliner Perlu Perhatikan Hal Ini

Banyak usaha kuliner berawal dari dapur rumah sehingga pelaku UMK perlu mendapat dukungan untuk mengembangkan usahanya.

Hapus File Duplikat, Memori HP Langsung Lega Tanpa Hapus Aplikasi Utama

File duplikat dan recycle bin terlupakan menjadi biang keladi memori HP penuh. Ikuti panduan lengkap membersihkannya segera.

Katalog Promo Alfamidi Hemat Satu Pekan Periode 19-25 Oktober 2026

Inilah berbagai merek produk yang termasuk dalam promo Alfamidi Hemat Satu Pekan periode 19-25 Oktober 2026.

IHSG Tertekan, Arus Keluar Asing Capai Rp 111 Triliun

Nett sell asing di pasar saham Indonesia secara year to date di angka Rp 111 triliun, perbesar risiko volatilitas dan menghambat pemulihan pasar.

Cek 13 Promo Hari Ini 19 Oktober 2026, Makan Enak Lebih Hemat di Starbucks hingga McD

Bingung cari menu makan siang atau teman jajan di hari Senin? Manfaatkan promo hari ini untuk menikmati paket hemat dari Starbucks hingga McD.

MR.D.I.Y. dan CIMB Niaga Dorong IKM Kembangkan Bisnis Hijau

Tantangan ini cukup besar mengingat jumlah IKM di Indonesia mencapai 4,52 juta unit usaha atau sekitar 99,7% dari total industri nasional.