MOMSMONEY.ID - Berapa persen gaji suami untuk dapur? Simak cara tentukan anggaran makanan yang pas tanpa membuat keuangan keluarga sesak.
Berapa persen gaji suami untuk dapur sering menjadi pertanyaan ketika pasangan mulai mengatur keuangan bersama.
Sebagian keluarga mungkin merasa 10% sudah cukup, sedangkan keluarga dengan anak atau kebutuhan makan lebih banyak bisa membutuhkan anggaran yang lebih besar.
Karena itu, menentukan biaya dapur tidak cukup hanya melihat nominal gaji suami, tetapi perlu memperhitungkan pendapatan dan kebutuhan rumah tangga secara utuh.
Melansir dari WalletHub, anggaran makanan lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pengeluaran rumah tangga dibandingkan menetapkan jatah berdasarkan penghasilan salah satu pasangan saja.
“Tidak ada satu persentase ideal yang berlaku untuk semua rumah tangga,” dikutip dari WalletHub.
Baca Juga: Tips Moms Mengatur Waktu dan Keuangan agar Bisnis Tetap Berjalan
Berapa persen gaji untuk biaya dapur?
Kalau membutuhkan angka sebagai patokan awal, anggaran makanan dapat berada di kisaran 10% sampai 12% dari pendapatan bersih rumah tangga. Perhitungan ini mencakup kebutuhan makanan seperti belanja bahan masakan dan makan di luar.
Misalnya, pendapatan bersih suami dan istri jika digabung mencapai Rp10 juta per bulan. Dengan patokan tersebut, anggaran makanan berada di kisaran Rp1 juta sampai Rp1,2 juta.
Namun, angka itu bukan aturan wajib. Keluarga yang tinggal di daerah dengan biaya hidup tinggi, memiliki banyak anggota keluarga atau mempunyai kebutuhan makanan khusus mungkin membutuhkan anggaran berbeda.
Cara membagi biaya dapur antara suami dan istri
Di sinilah perhitungan berdasarkan pendapatan bisa terasa lebih adil. Suami tidak otomatis harus menanggung seluruh kebutuhan dapur hanya karena memiliki penghasilan lebih besar.
Contohnya, suami memperoleh Rp6 juta dan istri Rp4 juta setiap bulan. Total pendapatan keluarga berarti Rp10 juta. Jika biaya makanan ditetapkan Rp1 juta, kontribusi dapat dibagi berdasarkan persentase pendapatan.
- Suami memiliki porsi 60%, sehingga kontribusinya Rp600 ribu.
- Istri memiliki porsi 40%, sehingga kontribusinya Rp400 ribu.
Cara seperti ini membuat beban pengeluaran mengikuti kemampuan finansial masing masing.
Menurut dari The Ways to Wealth, anggaran makanan sekitar 10% sampai 12% dari pendapatan bersih dapat menjadi salah satu acuan. Meski begitu, kebutuhan rumah tangga tetap menjadi faktor utama sebelum menetapkan nominal akhirnya.
Kenapa anggaran dapur tidak boleh terlalu kaku?
Kebutuhan dapur bisa berubah dari bulan ke bulan. Harga bahan pangan, jumlah anggota keluarga, acara keluarga hingga frekuensi makan di luar dapat membuat pengeluaran naik atau turun.
Kondisi harga di Indonesia juga perlu diperhatikan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 sebesar 3,34%. BPS juga mencatat indeks konsumsi rumah tangga pada Juni 2026 mengalami kenaikan 0,49% dibandingkan bulan sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan mengapa anggaran dapur sebaiknya fleksibel. Ketika harga kebutuhan meningkat, keluarga dapat mengevaluasi pos belanja tanpa harus memaksakan persentase yang sama setiap bulan.
Baca Juga: Uang Habis Total? Ini Cara Bertahan Sambil Menata Keuangan dari Nol
Langkah simpel menghitung anggaran dapur
Agar tidak sekadar menebak, pasangan dapat membuat perhitungan berdasarkan kondisi keuangan sendiri.
- Jumlahkan pendapatan bersih suami dan istri.
- Catat seluruh belanja makanan selama satu bulan.
- Pisahkan kebutuhan dapur dari pengeluaran lain.
- Bandingkan biaya makanan dengan total pendapatan.
- Tentukan batas pengeluaran yang masih nyaman.
- Bagi kontribusi sesuai proporsi pendapatan jika kedua pasangan bekerja.
- Evaluasi setiap bulan ketika harga kebutuhan atau pendapatan berubah.
BPS sendiri secara berkala menerbitkan data pengeluaran dan konsumsi rumah tangga berdasarkan Susenas untuk memberikan gambaran pola konsumsi masyarakat Indonesia.
Jadi, berapa persen gaji suami untuk dapur?
Tidak ada angka saklek yang bisa disebut sebagai persentase gaji suami untuk biaya dapur. Jika membutuhkan patokan, kisaran 10% sampai 12% dari pendapatan bersih rumah tangga bisa digunakan untuk menghitung anggaran makanan secara keseluruhan.
Jika hanya suami yang berpenghasilan, tentu seluruh kebutuhan rumah tangga akan bergantung pada gajinya. Namun, apabila suami dan istri sama sama bekerja, pembagian secara proporsional dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Pada akhirnya, anggaran dapur yang sehat bukan yang terlihat paling kecil, melainkan yang mampu memenuhi kebutuhan makan keluarga tanpa mengorbankan cicilan, tabungan, dana darurat dan kebutuhan penting lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News