MOMSMONEY.ID - Membantu keluarga bisa jadi jebakan finansial. Ketahui ciri-ciri generasi sandwich dan cara lepas dari jeratan pengeluaran ganda sekarang!
Di tengah naiknya biaya hidup dan tuntutan keluarga yang semakin kompleks, generasi sandwich finansial menjadi realita yang dihadapi banyak masyarakat.
Istilah ini menggambarkan individu usia produktif yang harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus keluarga inti dalam waktu bersamaan.
Situasi tersebut membuat penghasilan yang ada sulit berkembang karena habis untuk kebutuhan hari ini. Melansir dari OCBC, kondisi ini kerap menghambat seseorang dalam membangun tabungan dan rencana keuangan jangka panjang.
Fenomena generasi sandwich bukan lagi kasus langka, melainkan gambaran nyata dinamika keluarga modern Indonesia.
“Generasi sandwich finansial berada pada posisi harus menopang dua generasi sekaligus di tengah keterbatasan penghasilan,” mengutip dari laman OCBC.
Baca Juga: 5 Aset Kelas Menengah yang Sekan Terlihat Kaya, Tapi Sebenarnya Mengancam Keuangan
Apa itu generasi sandwich finansial?
Generasi sandwich finansial adalah kelompok masyarakat yang berada di posisi terhimpit secara ekonomi karena memikul tanggung jawab keuangan lintas generasi.
Di satu sisi, mereka membantu memenuhi kebutuhan orang tua, mulai dari biaya hidup hingga kesehatan. Di sisi lain, mereka juga bertanggung jawab atas pasangan, anak, dan kebutuhan pribadi.
Kondisi ini banyak dialami oleh usia produktif yang seharusnya sedang fokus membangun stabilitas keuangan. Alih alih menabung atau berinvestasi, sebagian besar penghasilan justru habis untuk kebutuhan rutin keluarga besar.
Tidak heran jika generasi sandwich sering merasa berjalan di tempat secara finansial.
Mengapa generasi sandwich semakin banyak terjadi?
Ada beberapa faktor yang membuat fenomena ini semakin meluas. Pertama, meningkatnya usia harapan hidup membuat orang tua membutuhkan dukungan finansial lebih lama.
Kedua, biaya kesehatan dan kebutuhan hidup terus meningkat, sementara pendapatan tidak selalu bertumbuh seiring waktu.
Selain itu, masih banyak orang tua yang belum memiliki dana pensiun memadai. Akibatnya, anak menjadi tumpuan utama ketika orang tua tidak lagi produktif. Kombinasi faktor ini membuat satu sumber penghasilan harus menanggung beban yang semakin besar.
Tantangan utama generasi sandwich finansial
Menjadi generasi sandwich bukan hanya soal berbagi penghasilan, tetapi juga menghadapi tekanan finansial dan emosional yang berlapis.
Beban keuangan ganda membuat ruang menabung semakin sempit. Banyak yang harus memilih antara membantu orang tua atau mengamankan kebutuhan masa depan sendiri.
Selain itu, tekanan mental sering kali muncul tanpa disadari. Rasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi semua kebutuhan keluarga dapat memicu stres berkepanjangan.
Keputusan hidup pun menjadi kurang fleksibel karena setiap langkah harus mempertimbangkan dampaknya pada kondisi keuangan keluarga besar.
Baca Juga: Beban Utang Hilang: Ini 5 Langkah Mudah Capai Ketenangan Finansial
Dampak jangka panjang jika tidak dikelola dengan tepat
Jika kondisi ini dibiarkan tanpa perencanaan, generasi sandwich berisiko mengalami masalah finansial di masa depan. Dana darurat sulit terbentuk, persiapan pensiun tertunda, dan ketergantungan ekonomi bisa berulang ke generasi berikutnya.
Lebih dari itu, stres finansial yang berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Oleh karena itu, memahami risiko jangka panjang menjadi langkah awal untuk keluar dari lingkaran tekanan ini.
Strategi realistis mengelola keuangan generasi sandwich
Meski berada dalam posisi sulit, generasi sandwich tetap bisa mengambil kendali atas keuangannya. Langkah pertama adalah menetapkan prioritas dan batas kemampuan finansial.
Membantu keluarga tetap penting, tetapi harus dilakukan secara realistis agar tidak mengorbankan kebutuhan dasar sendiri.
Langkah berikutnya adalah mengamankan dana darurat dan perlindungan kesehatan. Dua hal ini menjadi penyangga utama ketika terjadi kondisi tak terduga.
Selain itu, memperkuat penghasilan melalui peningkatan keterampilan atau sumber pendapatan tambahan dapat memberi ruang napas yang lebih lega.
Yang tidak kalah penting, generasi sandwich perlu tetap memikirkan masa depan pribadi. Menyisihkan dana secara konsisten, meski kecil, adalah bentuk tanggung jawab jangka panjang agar siklus tekanan finansial tidak terus berulang.
Baca Juga: Transfer Uang ke Luar Negeri Masih Jadi Masalah? Ini Hambatan dan Solusinya
Generasi sandwich finansial adalah gambaran nyata tantangan ekonomi keluarga modern di Indonesia. Mereka berada di tengah tuntutan yang datang bersamaan, baik secara finansial maupun emosional.
Pemahaman yang tepat dan strategi keuangan yang realistis, posisi terhimpit ini bukan akhir dari stabilitas hidup. Justru, kesadaran dan perencanaan sejak dini bisa menjadi kunci agar generasi sandwich tetap bertahan hari ini dan lebih aman di masa depan.
Selanjutnya: BRI Insurance Seimbangkan Kinerja Bisnis dengan Tata Kelola
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News