MOMSMONEY.ID - Banyak orang salah kaprah soal aset, cek penjelasan ini agar keputusan finansialmu lebih cerdas dan cocok untuk dilakukan sekarang juga.
Banyak orang percaya bahwa membeli barang mahal adalah tanda kemajuan finansial. Rumah besar, mobil baru, hingga gelar pendidikan sering dianggap simbol sukses sekaligus aset masa depan.
Masalahnya, tidak semua yang terlihat bernilai tinggi benar-benar bekerja untuk menambah kekayaan. Di tengah biaya hidup yang makin menekan, kesalahan memahami aset justru membuat keuangan jalan di tempat.
Melansir dari New Trader U, kekeliruan ini paling sering terjadi di kelas menengah yang pendapatannya stabil tetapi sulit berkembang.
“Jika sesuatu terus mengambil uang dari kantong Anda tanpa menghasilkan arus kas, itu bukan aset, meski terlihat bergengsi,” ujar Steve Burns, analis keuangan dan penulis New Trader U.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Finansial Kelas Menengah yang Bisa Menghambat Kemajuan Hidup
Rumah tinggal utama bukan mesin uang
Banyak orang menganggap rumah sebagai aset terbesar dalam hidup. Nilainya terlihat naik setiap tahun, bahkan sering dipantau seperti harga saham. Namun, dari sisi keuangan sehari-hari, rumah tinggal justru lebih mirip pengeluaran rutin berskala besar.
Pajak properti, asuransi, biaya perawatan, renovasi, dan bunga cicilan terus mengalir keluar tanpa menghasilkan pemasukan langsung.
Rata-rata biaya perawatan rumah bisa menghabiskan 1% hingga 4% dari nilai properti per tahun. Kenaikan harga rumah baru terasa nyata jika dijual dan pemilik siap pindah ke hunian yang lebih murah, sesuatu yang jarang terjadi.
Orang dengan pemahaman finansial matang melihat rumah sebagai kebutuhan hidup dan kenyamanan keluarga, bukan alat utama membangun kekayaan.
Mobil baru cepat turun nilai
Mobil sering dianggap pencapaian penting, apalagi saat sudah mampu mencicil kendaraan baru. Sayangnya, mobil termasuk barang dengan penurunan nilai paling cepat. Begitu keluar dari dealer, nilainya bisa langsung turun signifikan dan terus menyusut setiap tahun.
Di luar harga beli, pemilik masih menanggung biaya asuransi, bahan bakar, servis rutin, pajak, dan perbaikan. Cicilan bulanan yang besar membuat banyak orang kehilangan ruang untuk menabung atau berinvestasi.
Mobil memang penting untuk mobilitas dan produktivitas, tapi secara finansial ia tidak menambah kekayaan. Fungsinya adalah alat, bukan aset penghasil uang.
Gelar pendidikan tanpa dampak penghasilan
Pendidikan sering disebut investasi terbaik sepanjang hidup. Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak selalu benar.
Gelar akademik baru bisa disebut aset jika benar-benar meningkatkan penghasilan secara nyata dan berkelanjutan.
Masalah muncul ketika biaya pendidikan tinggi tidak sebanding dengan peluang pendapatan setelah lulus.
Utang pendidikan dapat membebani arus kas selama bertahun-tahun, sementara kenaikan penghasilan belum tentu terjadi.
Pengetahuan dan pengalaman tetap bernilai, tetapi dari sudut pandang keuangan, pendidikan harus dinilai secara realistis, bukan hanya berdasarkan gengsi atau ekspektasi sosial.
Baca Juga: Jaga Aset Berharga Kamu! Ini Strategi Refinancing untuk Stabilitas Finansial
Asuransi jiwa seumur hidup yang dikira investasi
Sebagian produk asuransi dipasarkan seolah bisa menjadi perlindungan sekaligus sarana menumbuhkan uang. Kenyataannya, banyak polis jenis ini memiliki biaya tinggi dan imbal hasil rendah.
Sebagian besar premi awal habis untuk biaya administrasi dan komisi, bukan untuk pertumbuhan nilai. Imbal hasil tahunan sering kali kalah dibandingkan instrumen keuangan yang memang dirancang untuk investasi.
Pendekatan yang lebih sehat adalah memisahkan tujuan. Perlindungan tetap penting, tetapi pertumbuhan kekayaan sebaiknya dilakukan melalui instrumen yang transparan dan terukur.
Barang konsumsi mahal untuk kesenangan pribadi
Barang seperti kendaraan rekreasi, motor besar, atau alat hobi mahal sering dibeli dengan alasan masih bisa dijual kembali. Padahal, nilai jual barang semacam ini biasanya turun cepat, sementara biaya perawatannya terus berjalan.
Dalam beberapa tahun, total biaya kepemilikan bisa lebih besar dari harga beli awal. Saat ingin dijual, pasar sering terbatas dan membutuhkan potongan harga besar agar cepat laku.
Barang ini memang memberi kebahagiaan dan pengalaman, tetapi fungsinya adalah konsumsi, bukan penyimpan nilai jangka panjang.
Aset sejati seharusnya membantu uang bekerja untuk Anda, bukan sebaliknya. Banyak hal yang selama ini disebut aset oleh kelas menengah ternyata hanyalah pengeluaran gaya hidup dengan tampilan meyakinkan.
Baca Juga: Kebutuhan Mendesak: KTA atau Multiguna, Mana yang Paling Tepat untuk Anda?
Memahami perbedaan antara kebutuhan, keinginan, dan aset bukan soal menahan diri, melainkan soal membuat keputusan yang lebih sadar. Saat sudut pandang ini berubah, arah keuangan pun ikut berubah.
Dari sinilah pondasi masa depan finansial yang lebih kuat mulai terbentuk, bukan hanya terlihat mapan, tapi benar-benar sehat.
Selanjutnya: Rencana Alokasi Saham Naik Jadi 20% Dinilai Bawa Dampak Struktural bagi Asuransi Umum
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News