MOMSMONEY.ID - Di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) dan ekonomi digital, salah satu profesi di industri kreatif yang banyak dicari adalah desainer lo. Profesi ini diyakini mendukung kinerja bisnis sebuah perusahaan dalam menciptakan produk baru yang lebih kreatif.
Dean School of Design BINUS University Danendro Adi mengatakan, industri saat ini tidak lagi hanya mencari desainer yang mampu membuat visual menarik, tetapi juga mampu memecahkan masalah bisnis dan memahami kebutuhan pengguna.
“Kami mendidik desainer yang bisa menjelaskan mengapa sebuah keputusan kreatif akan memberikan solusi dari sebuah permasalahan, bukan hanya membuatnya terlihat bagus,” ujar Danendro dalam keterangan resminya Kamis (21/5).
Menurut data yang dipaparkan Binus, sektor industri kreatif Indonesia juga tumbuh 6,57% pada 2024 atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Nilai ekspor produk kreatif bahkan mencapai US$ 26,68 miliar dalam 10 bulan pertama 2025.
Selain itu, pasar platform pengalaman digital diproyeksikan terus tumbuh hingga 2032. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap talenta desain yang memahami teknologi, AI, hingga pengembangan produk digital.
Baca Juga: Pekerjaan Terancam AI: Ini Daftar Profesi yang Paling Rentan Diganti
Binus menilai, perubahan tersebut juga memengaruhi cara industri menilai lulusan desain. Dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Art & Design, School of Design BINUS University menempati posisi kedua di Indonesia untuk indikator Employer Reputation.
Indikator tersebut mengukur tingkat kepercayaan perusahaan dan rekruter terhadap kualitas lulusan perguruan tinggi berdasarkan survei global.
Menurut Danendro, kepercayaan industri tidak dibangun melalui promosi semata, melainkan lewat kualitas lulusan yang mampu langsung beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja.
"Kepercayaan industri tidak bisa dibeli dengan kampanye. Ia dibangun dari kualitas lulusan yang terbukti, tahun demi tahun,” katanya.
Dia juga menyebutkan, kurikulum desain saat ini mulai diarahkan pada project-based learning dan integrasi AI, agar mahasiswa lebih siap menghadapi kebutuhan industri kreatif modern.
Binus mencatat, sekitar 80,1% lulusan sarjananya bekerja saat kelulusan baik di perusahaan global atau membangun bisnis kreatif.
Binus berharap, mahasiswa tidak hanya belajar teknik visual, tetapi juga mengerjakan proyek nyata mulai dari pengembangan identitas visual, desain antarmuka digital, animasi, hingga produksi film bersama industri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News