M O M S M O N E Y I D
Bugar

6 Makanan yang Meningkatkan Risiko Kanker Jika Dikonsumsi Berlebihan

Penulis: Rezki Wening Hayuningtyas  |  Editor: Rezki Wening Hayuningtyas


MOMSMONEY.ID - Apa saja jenis makanan yang meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi berlebihan? Ini dia daftarnya!

Meskipun banyak faktor yang dapat memengaruhi risiko seseorang mengidap kanker, pola makan adalah salah satu faktor penting yang dapat diubah untuk mencegahnya.

Beberapa jenis makanan jika dikonsumsi secara berlebihan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker, lho.

Melansir dari laman Healthline, ini dia beberapa makanan yang meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi berlebihan:

1. Daging Olahan

Daging olahan mencakup berbagai jenis daging yang diawetkan dengan cara diasapi, diasinkan, atau dikalengkan. Contoh daging olahan adalah hot dog, sosis, bacon, ham, dan dendeng sapi.

Proses pengolahan daging ini bisa menghasilkan karsinogen, seperti senyawa N-nitroso dari nitrit, atau hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dari pengasapan. Daging olahan telah terbukti meningkatkan risiko kanker kolorektal, perut, dan bahkan kanker payudara.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mencegah Kista Ovarium pada Wanita? Simak Selengkapnya di Sini

2. Makanan yang Digoreng

Makanan bertepung yang digoreng pada suhu tinggi, seperti kentang goreng dan keripik kentang, dapat mengandung senyawa berbahaya bernama akrilamida.

Akrilamida terbukti bersifat karsinogenik pada tikus. Meskipun pada manusia belum dapat dipastikan, badan kesehatan internasional menganggapnya bersifat karsinogenik.

Mengonsumsi makanan gorengan juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas, yang berkontribusi pada peningkatan risiko kanker.

3. Makanan yang Terlalu Matang

Memasak makanan, terutama daging, dengan panas tinggi hingga terlalu matang dapat menghasilkan senyawa karsinogenik seperti PAH dan amina heterosiklik (HCA). Senyawa ini dapat merusak DNA dan meningkatkan risiko kanker.

Penggunaan metode memasak seperti memanggang atau menggoreng dengan suhu tinggi dapat meningkatkan pembentukan karsinogen ini, terutama pada makanan bertepung seperti kentang.

Baca Juga: Apa yang Tubuh Rasakan saat Terdapat Kista Ovarium ya? Yuk, Ketahui di Sini

4. Susu

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi susu, terutama produk susu seperti susu, keju, dan yogurt, dapat meningkatkan kadar IGF-1 (insulin-like growth factor 1) dalam tubuh.

Kadar IGF-1 yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker prostat. Meskipun bukti ini belum konsisten, hal ini menunjukkan bahwa konsumsi susu berlebihan dapat berisiko.

5. Gula dan Karbohidrat Olahan

Makanan manis dan karbohidrat olahan, seperti minuman manis, roti putih, dan nasi putih, dapat meningkatkan risiko kanker dengan cara yang tidak langsung.

Makanan-makanan ini dapat memicu obesitas dan diabetes tipe 2, yang pada gilirannya meningkatkan peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh. Kedua kondisi ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko kanker kolorektal, payudara, ovarium, dan endometrium.

Baca Juga: 5 Cara Mengecilkan Kista Ovarium secara Alami Tanpa Operasi

6. Alkohol

Alkohol dapat meningkatkan risiko kanker karena saat diproses oleh tubuh, alkohol menghasilkan asetaldehida, senyawa karsinogenik yang merusak DNA dan mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Pada wanita, alkohol dapat meningkatkan kadar estrogen yang berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara tipe estrogen positif.

Nah, itu dia beberapa makanan yang meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi berlebihan. Daging olahan, makanan yang terlalu matang, dan makanan yang digoreng dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker karena mengandung karsinogen.

Selain itu, alkohol dan konsumsi susu, gula, dan karbohidrat olahan juga dapat meningkatkan risiko kanker. Untuk menurunkan risiko kanker, disarankan untuk membatasi makanan-makanan tersebut dan mengadopsi pola makan yang lebih sehat dengan lebih banyak konsumsi makanan yang dapat melindungi tubuh dari kanker.

Baca Juga: Apakah Buah Mangga Bagus untuk Diet Menurunkan Berat Badan?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Kris+ Rayakan Ulang Tahun, Tebar Promo dan Reward

Pengguna Kris+ berkesempatan mendapatkan hingga delapan miles per dolar Singapura, voucher diskon 50%, serta hadiah  selama Oktober 2026.

Rupiah Bertahan di Rp 18.000 atau Tembus Rp 18.200, Ini 5 Indikator Penentu

Analis EBC Financial Group mencermati lima indikator penentu arah rupiah, mulai dari harga minyak, arus modal asing hingga intervensi BI.  

Ini Tip Pengobatan dan Pencegahan Agar Suara Yang Hilang Kembali Bergema

Suara hilang bagi pekerja yang mengandalkan pita suara tentu menjadi persoalan, berikut ini langkah pengobatan dan pencegahannya.

5 Cara Mengatasi Badan Lemas saat Diet agar Tetap Bertenaga Sepanjang Hari

Ingin diet berhasil tanpa tersiksa rasa lemas? Terapkan cara mengatasi badan lemas berikut ini agar tubuh tetap bugar dan berenergi.

Kenali Amylophagia: Ini 5 Dampak Buruk Makan Tepung Terigu Mentah untuk Kesehatan

Ketahui alasan medis mengapa makan tepung terigu dalam kondisi mentah sangat berbahaya bagi saluran pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.

Ada 6 Tokenized Stocks Baru dari Tokocrypto, Cek yuk

Tokenized stocks memberikan eksposur terhadap underlying asset dan bukan merupakan kepemilikan langsung atas saham atau ETF yang mendasarinya.

Rekomendasi Pilihan Obat Influenza Tipe A yang Efektif Percepat Proses Penyembuhan

Kenali berbagai rekomendasi obat influenza tipe A mulai dari antivirus hingga pereda gejala untuk bantu tubuh pulih lebih cepat.

IHSG Berbalik Naik ke 6.036 pada Jumat (2/10), Cek Saham Top Gainers

IHSG pada Jumat ditutup menguat meskipun asing mencatat jual bersih alias net sell Rp 1,17 triliun. 

Update Harga Buyback Emas Hari Ini: UBS Naik, Antam Masih Tertinggi Rp 2.38 Juta

Emas UBS mencatat kenaikan harga buyback paling besar hari ini, sementara Antam turun, tetapi masih yang tertinggi.

Bank Indonesia Kurangi Intervensi Spot, Efektif Menjaga Rupiah?

Bank Indonesia menggeser strategi intervensi di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar, sekaligus menghemat cadangan devisa.