MOMSMONEY.ID - Ada beberapa tren kesehatan berisiko yang sebaiknya dihindari, lho. Kira-kira apa saja? Cek pembahasannya di sini, yuk!
Media sosial dipenuhi berbagai tren kesehatan yang diklaim mampu menurunkan berat badan, meningkatkan energi, hingga membuat tubuh lebih sehat dalam waktu singkat. Tidak sedikit konten yang menampilkan pengalaman pribadi atau testimoni yang terlihat meyakinkan. Namun, tidak semua tren tersebut didukung oleh bukti ilmiah.
Sebagian kebiasaan yang sedang populer justru dapat memicu gangguan kesehatan jika dilakukan tanpa pengawasan. Mulai dari kekurangan nutrisi hingga gangguan metabolisme, risikonya bisa lebih besar daripada manfaat yang dijanjikan. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk lebih selektif sebelum mengikuti tren kesehatan yang sedang viral.
Baca Juga: 8 Pilihan Minuman Sehat yang Bikin Risiko Kanker Menurun
Tren Kesehatan Berisiko yang Sebaiknya Dihindari
Melansir dari Verywell Health, berikut beberapa tren kesehatan berisiko yang sebaiknya dihindari:
1. Terapi Sengatan Lebah
Terapi sengatan lebah merupakan pengobatan alternatif yang sedang diteliti karena diduga memiliki efek antiradang pada beberapa penyakit autoimun.
Namun, ada pula orang yang menggunakannya sendiri dengan sengaja membiarkan tubuhnya disengat lebah sebagai cara alami mengatasi penyakit tertentu, seperti penyakit Lyme.
Padahal, cara ini sangat berisiko. Hingga saat ini belum ada pedoman yang jelas mengenai dosis, cara penggunaan, maupun keamanannya. Terapi ini juga dapat memicu reaksi alergi berat hingga anafilaksis yang mengancam nyawa. Selain itu, penelitian yang tersedia belum menunjukkan manfaat yang meyakinkan.
2. Mengonsumsi Banyak Suplemen Sekaligus
Tren lain yang cukup populer adalah mengonsumsi beberapa jenis suplemen sekaligus untuk mencapai tujuan kesehatan tertentu. Rekomendasi seperti ini mudah ditemukan di media sosial.
Padahal, menggabungkan berbagai suplemen tanpa pengawasan dapat membuat tubuh menerima vitamin atau mineral dalam jumlah berlebihan. Misalnya, seseorang mengonsumsi multivitamin, suplemen untuk rambut dan kulit, suplemen tidur, serta vitamin D secara terpisah. Tanpa disadari, semuanya bisa mengandung vitamin D.
Kelebihan vitamin D dapat meningkatkan kadar kalsium dalam darah dan memicu gangguan ginjal. Oleh karena itu, penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan atas saran tenaga kesehatan.
Baca Juga: 6 Makanan yang Jika Dikonsumsi Bisa Meningkatkan Risiko Kanker, Hindari ya!
3. Menghindari Karbohidrat Sepenuhnya
Karbohidrat sering dianggap sebagai penyebab utama kenaikan berat badan sehingga ada yang memilih untuk menghilangkannya sama sekali dari menu harian.
Padahal, karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Kebutuhan setiap orang memang berbeda, tetapi tubuh tetap memerlukan karbohidrat agar dapat berfungsi dengan baik.
Yang lebih penting adalah memilih sumber karbohidrat yang lebih sehat, seperti gandum utuh, beras merah, kentang, ubi, dan makanan tinggi serat lainnya, dibandingkan menghindari semua jenis karbohidrat.
4. Minum Susu Mentah
Susu mentah atau susu yang belum dipasteurisasi sering dipromosikan sebagai pilihan yang lebih alami dan lebih bergizi dibandingkan susu biasa.
Namun, hingga kini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa susu mentah memiliki nilai gizi yang lebih baik. Sebaliknya, susu mentah berisiko mengandung bakteri berbahaya, seperti Salmonella, E. coli, dan Listeria, yang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Proses pasteurisasi justru membuat susu lebih aman dikonsumsi tanpa mengurangi kandungan protein maupun kalsiumnya secara signifikan.
Baca Juga: 4 Risiko Membuat Tato di Tubuh, Bukan Cuma Reaksi Alergi
5. Menolak Vaksin
Keraguan terhadap vaksin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19. Akibatnya, angka vaksinasi di sejumlah negara mengalami penurunan.
Padahal, vaksin merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang paling efektif untuk mencegah berbagai penyakit menular. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaksin telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.
Menolak vaksin tanpa alasan medis dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Karena itu, informasi mengenai vaksin sebaiknya diperoleh dari tenaga kesehatan atau sumber ilmiah yang tepercaya.
Itulah beberapa tren kesehatan berisiko yang sebaiknya dihindari. Semoga bermanfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News