MOMSMONEY.ID - Dinamika hubungan asmara sering kali membawa kita pada konsep teori keterikatan (attachment theory). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang berinteraksi dan merespons kedekatan emosional.
Salah satu tipe keterikatan yang paling menantang dalam hubungan adalah tipe avoidant atau menghindar. Pasangan dengan gaya ini biasanya memiliki ketakutan bawah sadar akan kehilangan kemandirian atau merasa terbebani oleh keintiman yang terlalu dalam.
Perilaku avoidant sering kali terbentuk sebagai mekanisme pertahanan diri dari masa lalu untuk menghindari penolakan atau rasa sakit hati. Mengenali tanda-tanda ini sangat penting, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami cara berkomunikasi yang lebih efektif dengan mereka.
Baca Juga: 4 Tips Makeup Sesuai Bentuk Wajah, Perhatikan Letak Blush On!
Cari tahu lebih lanjut, berikut adalah 4 ciri-ciri pasangan avoidant sebagaimana dilansir dari laman Psychology Today dan Healthline.
1. Menjaga Jarak Emosional dan Menghindari Pembicaraan Serius
Ciri yang paling menonjol dari pasangan avoidant adalah kecenderungan mereka untuk menarik diri ketika hubungan mulai terasa terlalu intim atau serius.
Saat Anda mencoba membicarakan perasaan, masa depan, atau komitmen, mereka mungkin akan mengalihkan pembicaraan, menggunakan humor untuk menghindar, atau bahkan mendadak sibuk.
Secara psikologis, kedekatan emosional yang intens dianggap sebagai ancaman bagi kebebasan mereka. Pasangan avoidant sering kali membangun tembok pelindung agar tidak terlalu bergantung pada orang lain atau agar orang lain tidak terlalu bergantung pada mereka.
Hal ini sering membuat pasangan mereka merasa kesepian meskipun sedang berada dalam sebuah hubungan.
2. Mengutamakan Kemandirian dan Kebebasan Pribadi di Atas Segalanya
Pasangan dengan gaya avoidant biasanya sangat bangga dengan kemandirian mereka dan sering menekankan betapa mereka tidak membutuhkan siapa pun untuk merasa bahagia.
Orang avoidant cenderung menjaga jadwal dan aktivitas mereka tetap terpisah dari pasangan, dan mungkin merasa tercekik jika pasangan meminta terlalu banyak waktu atau perhatian.
Bagi mereka, kemandirian adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Mereka sering merasa bahwa memiliki pasangan yang terlalu dekat akan merampas identitas pribadi mereka.
Oleh karena itu, pasangan avoidant mungkin sering menciptakan jarak fisik atau emosional sebagai cara untuk mengklaim kembali rasa kendali atas hidup mereka sendiri.
Baca Juga: Ternyata Ini Bekal Penting Agar Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja Global
3. Memberikan Sinyal yang Campur Aduk atau Tarik Ulur
Dinamika hubungan dengan orang avoidant sering kali terasa seperti permainan tarik ulur. Di satu waktu, mereka bisa sangat manis, perhatian, dan terbuka.
Namun, sesaat setelah momen keintiman tersebut terjadi, mereka tiba-tiba menjadi dingin atau menjauh tanpa alasan yang jelas.
Fenomena ini terjadi ketika mereka merasa terlalu dekat dengan pasangan. Sehingga, sistem peringatan internal mereka berbunyi dan memicu keinginan untuk menciptakan jarak demi merasa aman kembali.
Sinyal yang campur aduk ini sering kali membuat pasangan mereka bingung dan merasa harus mengejar, yang ironisnya justru akan membuat si avoidant semakin lari menjauh.
4. Sulit Mengekspresikan Kebutuhan dan Menghadapi Konflik
Orang dengan tipe avoidant biasanya tidak nyaman dengan kerentanan. Mereka kesulitan untuk mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan atau dukungan emosional dari pasangan.
Alih-alih membicarakan masalah saat terjadi konflik, mereka lebih memilih untuk melakukan stonewalling atau mendiamkan pasangan.
Mereka cenderung memendam perasaan sendiri karena menganggap emosi sebagai sesuatu yang merepotkan atau tanda kelemahan.
Dalam pikiran mereka, menyelesaikan konflik dengan bicara secara mendalam justru akan memperburuk situasi. Sehingga, mereka lebih memilih untuk menarik diri sampai suasana mendingin dengan sendirinya tanpa benar-benar menyelesaikan akar permasalahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News