MOMSMONEY.ID - Peradangan pada pembuluh darah atau inflamasi kardiovaskular ternyata masih menjadi ancaman bagi penderita penyakit jantung.
Bahkan, dua dari lima penyandang penyakit kardiovaskular diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung dan stroke akibat kondisi tersebut.
Temuan itu berasal dari studi Poseidon yang dilakukan Novo Nordisk terhadap 18.904 pasien di 18 negara.
Hasilnya menunjukkan inflamasi kardiovaskular masih banyak ditemukan pada pasien penyakit kardiovaskular, meski telah menjalani terapi sesuai standar pengobatan.
Inflamasi kardiovaskular merupakan peradangan pada pembuluh darah yang umumnya tidak menimbulkan gejala.
Namun, bila berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
Baca Juga: 8 Jus Anti-Inflamasi yang Bagus untuk Kesehatan Usus dan Jantung
Studi tersebut menemukan dua dari lima penyandang penyakit kardiovaskular aterosklerotik yang juga memiliki penyakit ginjal kronis mengalami inflamasi kardiovaskular. Temuan serupa juga ditemukan pada dua dari lima pasien gagal jantung.
Di Indonesia, penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung iskemik masih menjadi penyebab utama kematian. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan penyakit kardiovaskular menyumbang sekitar 30% dari total kematian di Indonesia.
"Studi Poseidon yang dilakukan oleh Novo Nordisk menyajikan bukti penting bahwa inflamasi kardiovaskular merupakan sumber risiko yang signifikan dan tetap berlanjut pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik serta penyakit ginjal kronis atau gagal jantung, meskipun telah menerima terapi sesuai standar perawatan saat ini," ujar Filip Knop, Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk dalam keterangan resmi Kamis (2/7).
Dalam studi tersebut, inflamasi diukur menggunakan kadar high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) sebesar ≥2 mg/L.
Pemeriksaan darah ini merupakan salah satu metode yang umum digunakan untuk mengukur inflamasi kardiovaskular.
"Studi Poseidon yang dilakukan Novo Nordisk menunjukkan dengan jelas bahwa inflamasi bukanlah isu sekunder, melainkan faktor utama yang mendorong peningkatan risiko pada jutaan pasien penyakit kardiovaskular di seluruh dunia yang masih rentan mengalami komplikasi meskipun telah menerima terapi terbaik yang tersedia saat ini," ujar Profesor Carolyn S.P. Lam, Senior Consultant Department of Cardiology National Heart Centre Singapore.
Menurutnya, temuan tersebut membuka peluang pengembangan terapi yang secara langsung menargetkan inflamasi sehingga diharapkan dapat membantu menekan risiko komplikasi pada pasien penyakit kardiovaskular.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News