MOMSMONEY.ID - Pemerintah Indonesia resmi menawarkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel seri SR025 kepada investor individu secara online mulai Jumat, 21 Agustus 2026. Masa penawaran akan berlangsung sampai 16 September 2026 pukul 12.00 WIB.
Ada dua tenor yang dapat Anda pilih. Mengutip pengumuman DJPPR Kementerian Keuangan, 21 Agustus 2026, seri SR025T3 tenor tiga tahun mematok imbalan tetap 6,80% per tahun, dan SR025T5 tenor lima tahun menawarkan imbalan 6,90% per tahun.
Imbalan SR025 bersifat fixed rate dan dibayarkan secara berkala setiap bulan. Imbalan tersebut dikenakan pajak 10%.
Minimal pemesanan kedua seri tersebut adalah Rp 1 juta dan kelipatannya. Sementara, maksimal pemesanan SR025T3 senilai Rp 5 miliar, dan SR025T5 mencapai Rp 10 miliar.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Tiga Pekan, Tembus US$ 4.500
Minimum holding period selama satu kali pembayaran imbalan. Artinya, kalau investor butuh dana mendadak, SR025 bisa dicairkan setelah masa holding period.
Investor ritel dapat memesan SR025 melalui sistem elektronik yang disediakan oleh 33 mitra distribusi resmi yang ditunjuk oleh pemerintah.
Daya tarik dan risiko investasi SR025
Head of Fixed Income Sinarmas Sekuritas Aryo Perbongso, mengatakan, SBN ritel pada prinsipnya relatif aman dari risiko kredit atau default, karena pokok dan kupon dijamin pemerintah. "Namun, investor tetap menghadapi risiko pasar dan risiko likuiditas jika menjual instrumen sebelum jatuh tempo," katanya, Jumat (21/8).
Dari sisi imbalan, kisaran kupon 6,80%-6,90% masih menarik jika dibandingkan dengan yield curve tenor tiga dan lima tahun.
Dengan asumsi inflasi aktual 2,88%, Aryo memperkirakan real yield SR025 berada di kisaran 3,81%-4,00%."Level real yield tersebut relatif menarik untuk mengompensasi risiko inflasi, fiskal, suku bunga, dan fluktuasi harga pasar ke depan," jelasnya.
Dari sisi karakteristik kupon, SR025 menawarkan imbalan tetap sehingga investor dapat mengunci tingkat imbalan selama masa investasi. Namun, apabila instrumen dijual sebelum jatuh tempo, harga di pasar sekunder dapat berubah mengikuti kondisi pasar.
Baca Juga: BBCA Tebar Dividen Rp 25 per saham, Cek Jadwal Pembagiannya
Aryo bilang, risiko makroekonomi perlu dicermati. Potensi lonjakan inflasi domestik yang dapat memicu Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan untuk meredam tekanan harga.
Risiko eksternal juga dapat memengaruhi pasar SBN, terutama apabila terjadi perubahan suku bunga global yang berdampak pada nilai tukar dan arus modal.
"Skenario kenaikan suku bunga BI tersebut akan mengerek yield SBN pasar secara keseluruhan, yang berisiko menekan harga pasar sekunder SR025 hingga di bawah harga par (diskon) jika dijual sebelum jatuh tempo," beber Aryo.
Dari sisi strategi investasi, Aryo menilai SR025 lebih ideal untuk investor yang memiliki tujuan investasi sesuai dengan tenor yang dipilih dan mampu menahan instrumen hingga jatuh tempo. Secara strategi, penempatan pada SR025 paling ideal menggunakan pendekatan Hold to Maturity.
Dengan memegang SR025 hingga jatuh tempo, investor tidak perlu merealisasikan perubahan harga pasar sekunder akibat pergerakan suku bunga. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan kebutuhan likuiditas sebelum memutuskan berinvestasi pada SR025.
Baca Juga: Valuasi Obligasi Menarik, Investor Disarankan Tetap Jaga Daya Tahan Portofolio
Kata Aryo, beberapa pertimbangan mendasar perlu disesuaikan dengan strategi portofolio investor sebelum membeli SR025, seperti pilihan tenor, penggunaan dana, pajak, dan aspek syariah.
"Pilihlah tenor baik 3 tahun atau 5 tahun, yang sesuai dengan horizon investasi, dan pastikan dana yang digunakan adalah dana dingin dan bukan dana darurat harian," sarannya.
Karakteristik SR025
| Ketentuan | SR025T3 | SR025T5 |
|---|---|---|
| Tenor | 3 tahun | 5 tahun |
| Jatuh tempo | 10 September 2029 | 10 September 2031 |
| Imbalan | 6,80% per tahun | 6,90% per tahun |
| Minimum pemesanan | Rp 1 juta | Rp 1 juta |
| Maksimum pemesanan | Rp 5 miliar | Rp 10 miliar |
| Pajak imbalan | 10% | 10% |
| Pembayaran imbalan | Setiap bulan | Setiap bulan |
| Setelmen | 23 September 2026 | 23 September 2026 |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News