MOMSMONEY.ID - Rupiah mencatat rekor terlemah sepanjang masa, tembus ke atas Rp 17.400 per dollar AS, baru-baru ini. Apakah ini pelemahan kurs biasa atau alarm bahaya?
Di pasar spot, rupiah pada Selasa (5/5) mencapai level Rp 17.424 per dollar AS. Begitu pula di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia (BI) rupiah mencapai Rp 17.425 per dollar.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai pelemahan ini bukan sekadar fenomena nilai tukar biasa, melainkan sinyal bahwa pasar sedang menguji kredibilitas bauran kebijakan fiskal dan moneter Indonesia.
"Jadi, pelemahan rupiah saat ini harus dibaca sebagai alarm bahwa pasar sedang menguji kredibilitas bauran kebijakan fiskal-moneter Indonesia," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (5/5).
Baca Juga: Pasca-Trump Tolak Proposal Iran, Harga Emas Hari Ini Tumbang di bawah US$ 4.700
Rizal menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah terjadi justru saat indeks dollar (DXY) melandai dari posisi akhir tahun lalu di 100,51 menjadi kisaran 98, yang berarti pelemahan rupiah bersumber dari dalam negeri.
Pasar sedang memberi premi risiko tambahan terhadap Indonesia. Faktor utamanya berasal dari kombinasi tekanan domestik: defisit fiskal yang melebar, kebutuhan pembiayaan APBN yang meningkat, harga minyak tinggi, beban subsidi energi, serta menurunnya kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah dan pasar SBN.
Tekanan semakin kompleks, karena terjadi aksi jual bersih atau net sell asing di pasar saham. Sehingga, kata Rizal, aliran dana masuk atau infllow asing di pasar obligasi domestik pada April pun gagal menyokong rupiah.
Menurut Rizal, sebagian inflow bersifat jangka pendek, sementara kebutuhan valuta asing untuk impor energi, pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, dan hedging korporasi tetap besar secara struktural.
Peluang menguat?
Dalam skenario dasar, Rizal memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.000–Rp 17.500 per dolar AS hingga akhir tahun.
"Namun, jika tekanan fiskal membesar, yield SBN naik, dan aliran modal asing keluar lebih deras, rupiah bisa menembus Rp 17.500," tegasnya.
Baca Juga: Strategi Liburan 2026: Hemat Jutaan Rupiah dengan 5 Trik Cerdas Ini!
Dalam skenario terburuk, stress scenario, Rizal memperingatkan rupiah berpotensi mendekati Rp 18.000 per dollar AS. "Ini bisa terjadi jika tiga tekanan terjadi bersamaan: harga minyak tetap tinggi, defisit APBN melebar, dan investor asing keluar dari saham maupun SBN," katanya.
Meksi begitu, Rizal tidak menampik bahwa tidak tertutup bagi kurs rupiah pulih setidaknya ke kisaran Rp 16.500 per dollar AS. Namun, tidak bisa hanya mengandalkan intervensi BI.
Syaratnya, defisit fiskal harus lebih terkendali, harga minyak mulai turun, cadangan devisa menguat, dan arus modal asing kembali masuk secara konsisten.
Rizal juga mengingatkan bahwa evaluasi sovereign rating oleh S&P pada Mei ini menjadi momen krusial. Pasalnya, jika pasar membaca risiko fiskal meningkat, capital outflow tidak lagi hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga kekhawatiran terhadap fundamental domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News