MOMSMONEY.ID - Bitcoin (BTC) bertahan dekat level US$ 80.000 di saat aset berisiko tumbang. Ini terjadi setelah tingkat inflasi AS mencapai level tertinggi tiga tahun.
Mengutip coinmarketcap.com, Rabu (13/5) pukul 20.22 WIB, Bitcoin dibanderol US$ 80.245. Dalam 24 jam terakhir, BTC hanya turun tipis sekitar 0,50%.
Pada Selasa, data inflasi konsumen (CPI) AS pada April 2026 dilaporkan mencapai 3,8% secara tahunan, level tertinggi sejak Mei 2023. Sementara, kenaikan bulanan 0,6%, melampaui ekspektasi Wall Street. Faktor kenaikan harga energi menjadi salah satu penyumbang utama inflasi.
Pasar saham langsung merespons, dengan Nasdaq anjlok hampir 2%, sebelum rebound. Sementara, indeks S&P 500 turun 0,4% dari rekor tertingginya.
Di sisi lain, harga minyak kembali tembus US$ 101 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran. Sementara, Bank of America langsung menggeser proyeksi pemangkasan suku bunga pertama The Fed menjadi paruh kedua 2027.
Baca Juga: Harga Emas Turun Dua Hari karena Suku Bunga The Fed Berpotensi Naik
Menurut Fahmi Almuttaqin, Crypto Analyst Reku, situasi ini menciptakan ketidakpastian baru meski tidak mengubah kondisi pasar secara struktural. Pasar saham yang baru saja mencetak rekor enam minggu berturut-turut tiba-tiba seolah kehilangan pijakan.
"Namun, jika mengacu pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dalam rilis laporan keuangan terkini, pertumbuhan di sektor-sektor strategis kemungkinan besar masih dapat dipertahankan," ujar Fahmi dalam siaran pers, Rabu (13/5).
Fahmi mencatat, di tengah tekanan terhadap instrumen berisiko, Bitcoin justru mengalami dinamika yang menarik. Bitcoin tidak bergerak mengekor indeks saham di Wall Street, melainkan lebih searah dengan yield US Treasury.
BTC mampu bertahan di level US$ 80.000, bahkan sempat recover ke area US$ 81.000. Bukan cuma itu, dominasi Bitcoin naik ke 60,3%, menandakan kapital tidak keluar dari kripto, melainkan berpindah dari altcoin ke BTC sebagai safe haven internal.
"Bitcoin sempat swing higher sesaat setelah data CPI dirilis, bergerak searah dengan yield Treasury, bukan searah dengan Nasdaq. Ini menyoroti perilaku harga yang semakin relevan untuk diperhatikan sebagai instrumen diversifikasi dan growth engine dalam portofolio investor," jelas Fahmi.
Tiga katalis besar
Pekan ini, akan ada tiga katalis yang masing-masing berpotensi menggerakkan pasar secara signifikan. Pada 14 Mei, Senate Banking Committee AS dijadwalkan menggelar markup hearing CLARITY Act, yakni RUU yang akan menentukan apakah Bitcoin diperlakukan sebagai komoditas secara hukum di AS.
Lalu, pada Jumat, 15 Mei, Jerome Powell resmi lengser dan digantikan oleh Kevin Warsh, yang akan menjadi Ketua Fed pertama dalam sejarah yang secara terbuka berinvestasi di kripto.
Baca Juga: Reli Pasar Terjegal, Ini Kripto yang Bertahan di 5 Kripto Top Gainers
Di samping itu, Trump sedang bernegosiasi dengan Xi Jinping di Beijing soal perdagangan dan AI. "Tiga katalis ini masing-masing memiliki potensi dampak yang besar dan arahnya masih terbuka. Investor perlu mencermati perkembangannya dengan seksama," tutur Fahmi.
Bagi investor Indonesia, inflasi energi 17,9% di AS berarti tekanan harga minyak global belum mereda. Sementara, rupiah telah melemah melampaui Rp 17.500 per dolar AS pada Selasa. Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan BBM, sehingga setiap kenaikan harga Brent memperlebar defisit APBN, yang memberikan tekanan terhadap daya beli dan pertumbuhan bisnis dalam negeri.
Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga 2027, kata Fahmi, dollar AS berpotensi tetap kuat dan semakin menekan seluruh mata uang emerging market termasuk rupiah.
Di tengah situasi ini, Bitcoin baru saja membuktikan diri bisa bertahan saat inflasi meledak dan pasar saham tertekan. "Meskipun ini bukan jaminan, data menunjukkan posisi Bitcoin yang semakin strategis, baik sebagai inflation hedge maupun reserve asset di tengah erosi daya beli mata uang fiat," tukas Fahmi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News