MOMSMONEY.ID - Pasar saham domestik bereaksi terhadap hasil tinjauan index atau rebalancing index oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) per 12 Mei 2026.
Mengutip Bloomberg, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (13/5) pagi sempat tumbang ke level 6.705, sebelum mengakhiri perdagangan di level 6.723. Ini level penutupan terlemah indeks sejak April 2025.
Dengan penurunan hari ini sebesar 1,97%, maka tahun ini berjalan, level IHSG sudah terpangkas sebesar 22,25%.
Dalam rebalancing terbaru ini, lembaga penyedia indeks global asal negeri Uncle Sam itu mendepak enam saham dari MSCI Global Standard Indexes. Enam saham yang keluar dari indeks MSCI Global Standard yaitu:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Meski didepak dari MSCI Global Standard Indexes, namun saham AMRT masih menjadi konstituen MSCI Small Cap Indexes.
Baca Juga: IHSG Melorot 1,5% Pada Rabu (13/5), Saham Keluar dari MSCI Masuk Jajaran Top Loser
Di samping itu, MSCI juga mengeluarkan 13 saham dari MSCI Small Cap Indexes. Saham-saham tersebut meliputi:
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
- PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
- PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK)
- PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
- PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
- PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)
- PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
- PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
- PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
- PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC)
- PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
- PT Triputra Agro Persada Tbk (TPAG)
- PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN)
Hasil perubahan indeks ini akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 dan efektif mulai 1 Juni 2026.
Merespons hasil rebalancing ini, Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Co-Founder PasarDana, mengatakan, sebaiknya pelaku pasar lebih tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan jual (panic selling). Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut.
Selain itu banyak pelaku pasar dan fund manager sudah mengantisipasi penghapusan saham tersebut oleh MSCI dalam beberapa bulan terakhir. Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI.
"Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor Small Cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif," ujarnya, Rabu (13/5).
Baca Juga: MSCI Depak 6 Saham dari Indeks Gobal Standard, Ini 11 yang Bertahan
Menurut Hans, transparansi kini menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk mengikuti jejak sukses India. Dalam hal ini, peran OJK dan SRO (BEI, KPEI dan KSEI) sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi, guna memastikan pasar yang lebih adil.
Upaya SRO dalam mendorong keterbukaan informasi yang lebih real-time serta langkah tegas OJK dalam mereformasi perlindungan investor minoritas akan menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat global seperti MSCI.
India, misalnya, berhasil pulih dan menjadi primadona pasar berkembang dengan menyelaraskan batas kepemilikan asing serta memperkuat basis investor domestik melalui digitalisasi investasi yang masif. "Langkah tersebut membuktikan bahwa periode penyesuaian indeks adalah momentum pembersihan untuk menciptakan pasar yang lebih kredibel," beber Hans.
Bagi investor Indonesia, kata Hans, inilah saatnya melakukan evaluasi portofolio secara objektif, karena pasar yang mampu berbenah pasca-koreksi teknikal sering kali menghasilkan pertumbuhan yang jauh lebih tangguh dalam jangka panjang. "Pengumuman MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News