M O M S M O N E Y I D
BisnisYuk

Reproduksi Sidat di Penangkaran, Tonggak JAPFA dalam Inovasi

Reporter: Jane Aprilyani, Lidya Yuniartha  |  Editor: Lidya Yuniartha


MOMSMONEY.ID - Unagi bisa dikatakan jadi menu pilihan kala penikmat kuliner menyambangi restoran Jepang. Rasanya yang manis dan teksturnya yang empuk membuat menu ini banyak disukai kalangan masyarakat.

Kendati populer, masih banyak yang salah paham dengan bahan baku unagi. Tak sedikit yang mengira menu ini terbuat dari belut. “Selama ini saya kira unagi itu terbuat dari belut, karena bentuknya mirip,” ujar Yuni, salah satu penggemar kuliner Jepang.

Meskipun mirip, rupanya unagi bukan menu yang terbuat dari bahan baku belut. Melainkan ikan sidat. Sidat masuk dalam ordo Anguilliformes. Tubuhnya yang ramping dan memanjang membuatnya mirip dengan belut. Padahal, ikan ini memiliki sirip dan sisik yang tak dimiliki oleh belut. Sidat pun hidup di air yang lebih jernih dan mampu hidup di dua jenis perairan, sementara belut bisa ditemukan di wilayah berlumpur.

Populer sebagai sajian Jepang, rupanya sidat juga bisa ditemukan di Indonesia. Disebut, ada 7 jenis ikan sidat yang bisa ditemui di Indonesia dari 18 jenis yang ada di dunia.

Walaupun begitu, Kementerian Kelautan dan Perikanan sempat mengatakan, bila sidat dimanfaatkan secara komersial, ini bisa menekan kestabilan populasi sidat di alam. Pasalnya, tingkat kelangsungan sidat sangat rendah. 80% konsumsi ikan sidat di dunia pun berasal dari hasil budidaya, tetapi bibitnya masih berasal dari tangkapan alam.

Reproduksi sidat dalam penangkaran menjadi tantangan besar lantaran siklus hidupnya yang kompleks dan misterius. Sidat melakukan perjalanan ribuan kilometer dari sungai air tawar ke laut dalam, sehingga kondisi reproduksi mereka sangat sulit untuk ditiru di luar habitat aslinya. 

Baca Juga: Manfaat Ubi Jalar untuk Tubuh Berdasarkan Penelitian, Bisa Hilangkan Kantung Mata

Melihat tantangan ini, tim peneliti Aquaculture Research Center (ARC), fasilitas yang didirikan oleh PT Suri Tani Pemuka, anak usaha JAPFA, berhasil dalam langkah awal mereproduksi sidat tropis, Anguilla bicolor. Bersama Senoo Shigeharu, mereka menemukan langkah pertama dalam reproduksi sidat tropis di tempat penangkaran.

Caranya, mereka memanfaatkan teknologi akuakultur dan metode pemeliharaan yang dikembangkan oleh ARC dan mampu menetaskan 70.000 larva, dengan pemeliharaan larva selama 11 hari. Ini menunjukkan adanya potensi memproduksi sidat tropis dalam skala besar di penangkaran.

“Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam upaya kami untuk mengelola populasi sidat secara berkelanjutan, karena untuk pertama kalinya kami berhasil menetaskan sidat tropis di lingkungan yang terkendali,” ujar Ardi Budiono, Direktur Utama STP dalam keterangan tertulis.

Dia optimistis, kemampuan untuk mereproduksi sidat di penangkaran pun akan berdampak signifikan di industri akuakultur. Bukan hanya itu, keberhasilan dalam langkah pertama reproduksi sidat tropis ini juga memberi harapan baru bagi konservasi sidat jenis ini yang sudah diklasifikasikan hampir terancam.

JAPFA menyebut, penelitian ini dapat berkontribusi pada konservasi populasi sidat tropis sekaligus memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Adanya penelitian ini juga turut mendukung praktik akuakultur berkelanjutan yang bisa melindungi populasi sidat alami dari penangkapan berlebihan.

Lebih lanjut, inovasi dalam pembiakan sidat tropis ini juga sejalan dengan komitmen JAPFA terhadap produksi pangan yang efisien dan berkelanjutan di seluruh portofolio produk protein yang beragam. Ardi juga menyebut pihaknya akan terus menerapkan praktik budidaya sidat yang berkelanjutan juga melakukan berbagai penelitian mengenai sidat.

“Kami terus mendukung upaya untuk meningkatkan populasi sidat di habitat alami mereka, sebagai bagian dari komitmen kami terhadap budidaya perairan yang berkelanjutan,” kata Ardi.

Kaya protein

Bukan hanya lezat, ikan sidat menyimpan banyak manfaat. Guru besar Pangan dan Gizi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Ali Khomsan menjelaskan, sidat dan ikan-ikanan mengandung 18% hingga 20% protein sehingga bagus untuk menunjang pertumbuhan anak.

“Karena sidat berada di persimpangan air laut dan air tawar maka kandungan omega 3-nya tidak setinggi ikan laut dalam seperti sarden, mackerel dan lain-lain,” terang Ali.

Walaupun kaya akan protein, Ali menduga, sidat tak populer di Indonesia berhubungan dengan sumber dayanya yang tidak melimpah. Menurutnya, ini membuat sidat sulit diperoleh, serta menyebabkan harganya lebih mahal. Dia menyebut, dibandingkan ikan lain, sidat memang memiliki jumlah populasi yang lebih kecil.

Dia juga mengaku bahwa peningkatan populasi sidat tergantung pada lingkungan alam. “Kalau lingkungan tidak mendukung, maka sidat tidak berkembang juga. Karena kondisi lingkungan yang dikehendaki adalah antara laut dan muara air tawar,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Anda Sering Mengetik? Ini 7 Cara Mencegah CTS agar Pergelangan Tangan Bebas Nyeri

Bekerja di depan laptop seharian bisa meningkatkan risiko nyeri pergelangan tangan. Ketahui langkah praktis dan cara mencegah CTS sejak dini.

Benarkah Lemak Itu Jahat? Ini 5 Mitos Tentang Lemak yang Wajib Anda Tahu

Jangan langsung memangkas habis asupan lemak saat diet. Pahami berbagai mitos tentang lemak dan ketahui cara memilih jenis lemak yang tepat.

Promo PSM Alfamart Periode 24-31 Agustus 2026, Nescafe Beli 2 Lebih Hemat

Manfaatkan promo PSM Alfamart periode 24-31 Agustus 2026 untuk belanja lebih hemat. Cek promonya di sini.

Kenalan dengan Senam Zapin, Olahraga Berbalut Gerakan Tari Melayu

​Bagi Anda yang mencari alternatif olahraga ringan dan menyenangkan, senam zapin bisa masuk dalam pilihan.

Ada Restoran Jepang Baru di Senopati, Sajikan Spicy Tomato Sukiyaki

​Sukiyaki umumnya memiliki cita rasa manis dan gurih. Namun, ada varian yang menggunakan tomat dan cabai rawit untuk rasa asam dan pedas.

Prakiraan Cuaca DKI Jakarta Besok Selasa (25/8), Diprediksi Cerah

​BMKG memperkirakan cuaca besok di DKI Jakarta akan didominasi cuaca cerah. Sementara lusa, hujan ringan akan turun di daerah Jakarta Selatan.

Prakiraan Cuaca Banten Besok Selasa (25/8), Sebagian Besar Wilayah Cerah

​BMKG memperkirakan cuaca besok di wilayah Banten akan didominasi cuaca cerah. Sementara lusa, hujan ringan akan turun di beberapa daerah.

Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (25/8), Provinsi Ini Masih Alami Hujan Lebat

BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca besok Selasa 25 Agustus 2026 dengan status Waspada hujan lebat di provinsi berikut ini.

Bitcoin Rebound 32%, Sinyal Tren Naik atau Reli Sementara?

Bitcoin telah rebound 32% dari level terendah Juli. Peluang berlanjutnya tren naik, bergantung pada kemampuan menembus 50-week EMA.

Prakiraan Cuaca Bali Besok Selasa (25/8), Cuaca Cerah Mendominasi

Cuaca cerah mendominasi Bali besok, Selasa (25/8). Simak kondisi cuaca di seluruh kabupaten dan kota.