MOMSMONEY.ID - Menanti kehamilan anak pertama jadi impian banyak pasangan muda. Ada yang hamil lewat cara normal, ada juga yang memilih mengikuti program kehamilan, salah satunya in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung.
IVF merupakan metode program kehamilan dimana reproduksi dibantu dengan proses pembuahan sel telur dan sperma yang dilakukan di laboratorium. Setelah itu nantinya embrio dipindahkan ke rahim untuk proses kehamilan. Program IVF semakin diminati, khususnya menjadi solusi bagi pasangan yang mengalami gangguan kesuburan tertentu.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Primaya Evasari Hospital, Darma Syanty, menjelaskan bahwa setiap pasangan biasanya memiliki tantangan fertilitas yang berbeda, namun peluang kehamilan tetap dapat diupayakan melalui pendekatan medis yang tepat.
Pada kasus dengan kerusakan tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, Darma bilang, IVF menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh kehamilan.
Salah satu yang melakukan program IVF dan berhasil yakni aktor, model sekaligus pesepakbola Rifky Alhabsyi dan istri, Yulia Rahmayani. Setelah sembilan tahun menanti dan melalui perjuangan panjang menghadapi infertilitas, pasangan ini akhirnya menyambut kelahiran putra pertama mereka dengan berat 2,45 kg dan panjang 45 cm, melalui program bayi tabung (IVF) bersama Smart Fertility Clinic dan proses persalinan di Primaya Evasari Hospital.
Pasangan ini memilih program IVF karena Yulia mengalami gangguan pada saluran reproduksi hingga harus menjalani operasi pengangkatan kedua tuba (salpingektomi). Kondisi tersebut menyebabkan kehamilan secara alami maupun inseminasi tidak memungkinkan, sehingga program bayi tabung menjadi satu-satunya harapan untuk memperoleh kehamilan.
Baca Juga: Manfaat Belly Oil untuk Perawatan Kulit Ibu Hamil, Bye-Bye Stretch Mark
Keputusan untuk menjalani program IVF sebenarnya sudah dipertimbangkan sejak tahun 2022. Namun, Rifky dan Yulia baru benar-benar mempersiapkan mental dan memulai proses tersebut pada tahun 2025.
Program IVF Yulia dimulai pada Februari 2025 melalui prosedur Ovum Pick Up (OPU) dan dilanjutkan dengan Frozen Embryo Transfer (FET) pada September 2025. Dua minggu kemudian, kantong kehamilan mulai terlihat sebagai tanda awal kehidupan baru.
Rifky bilang perjalanan mendapatkan buah hati bukan proses yang mudah. Selama bertahun-tahun dirinya dan sang istri belajar untuk tetap kuat, pasrah namun tidak menyerah, dan saling mendukung satu sama lain.
“Setelah operasi pengangkatan tuba falopi, kami sempat mencari referensi ke 7 dokter dan 1 profesor untuk menjalani program IVF, dan akhirnya berjodoh dengan Smart Fertility Clinic,” ujar Rifky dalam keterangan resmi, Senin (18/5).
Menurut Darma Syanty, hal yang paling tak terlupakan saat menemani perjalanan Rifky dan Yulia adalah dukungan positif dari keluarga dan orang terdekat. “Dukungan sangat berpengaruh terhadap kondisi emosional selama program berlangsung. Padahal dalam kasus ini, hanya ada satu embrio yang berhasil, sehingga kehamilan yang terjadi benar-benar menjadi anugerah yang sangat berarti,” jelasnya.
CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan Rifky dan Yulia dalam mewujudkan impian memiliki buah hati. “Kami berharap kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi para pejuang garis dua bahwa harapan untuk memiliki buah hati selalu ada,” imbuhnya.
Baca Juga: Begini Manfaat Ganda Vaksinasi RSV Saat Kehamilan
Selain keberhasilan program IVF, proses persalinan Yulia juga didukung melalui layanan maternal terintegrasi di Primaya Evasari Hospital. Dalam proses persalinan, pasien mendapatkan metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) yang dikombinasikan dengan TAP Block (Transversus Abdominis Plane block) untuk membantu mengurangi nyeri pasca persalinan dan mempercepat proses pemulihan ibu.
Direktur Primaya Evasari Hospital, dr. Wily Kurniady, MARS, menegaskan layanan kesehatan ibu dan anak membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Sebagai bagian dari layanan maternal terintegrasi, Primaya Evasari Hospital juga memberi edukasi laktasi, pemeriksaan OAE (Otoacoustic Emissions) untuk bayi baru lahir, vaksinasi awal bayi, hingga pendampingan keluarga selama proses persalinan dan masa pemulihan ibu.
“Kami percaya pengalaman pasien tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan tindakan medis, tetapi juga oleh kualitas pendampingan yang diberikan selama proses perawatan. Layanan maternal dan fertility terintegrasi ini diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi lebih banyak pasangan yang tengah berjuang mendapatkan buah hati,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News