MOMSMONEY.ID - Tren usaha fesyen masih berkembang pesat. Di tengah perkembangan industri fesyen yang semakin dinamis, pelaku usaha kebaya tradisional berupaya menjaga warisan budaya indonesia tetap relevan. Gusti Ian, pemilik usaha kebaya Mbok Dhe asal Solo membuktikan bahwa di saat fesyen mancanegara banyak beredar di Indonesia, permintaan kebaya masih sangat tinggi. Dalam sehari saja, setidaknya dirinya bisa memproduksi 20 pieces kebaya dengan berbagai model.
Dirinya melirik potensi untuk fesyen kebaya di Indonesia masih tak kalah saing dengan fesyen lainnya. Menjual kebaya dengan kategori model medium dan premium dengan harga mulai dari Rp 475.000 sampai jutaan rupiah, Gusti Ian sudah mendapat pelanggan berbagai kalangan. Mulai dari Walikota Solo, Diaspora hingga artis seperti Dewi Persik, Siti Badriah Rina Nose dan masih banyak lagi. "Omzet per bulan minimal Rp 50 juta," katanya saat diwawancara di pagelaran The 2026 Asia Grassroots Forum, Jakarta, Kamis (4/6).
Raihan manis omzet itu menurut Gusti Ian tak akan dirasakan bila tak mendapat permodalan usaha. Ia bilang saat merintis usaha kebaya tahun 2021 lalu, tantangan utama yang dihadapi yaitu akses permodalan. "Ketika ada pesanan tetapi modalnya terbatas," imbuh Gusti Ian.
UMKM memang menyumbang lebih dari 90 persen unit usaha dan mayoritas lapangan kerja di banyak negara di Asia. Namun, jutaan pelaku usaha masih menghadapi tantangan produktivitas, akses pasar, keterbatasan modal, dan kesenjangan kemampuan digital yang menghambat pertumbuhan mereka.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Teknikal, Berikut Rekomendasi Saham yang Bisa Dipantau (5/6)
Dalam pidato pembukaan The 2026 Asia Grassroots Forum, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan peluang yang lebih luas bagi masyarakat.
“Di tengah perubahan global yang semakin cepat, negara-negara di Asia perlu terus mendorong produktivitas, kewirausahaan, dan inovasi. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan mampu menjangkau lebih banyak orang,” ujar SBY.
Sejalan dengan pesan tersebut, Amartha melihat bahwa masa depan pertumbuhan inklusif tidak hanya ditentukan oleh perluasan akses keuangan, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem untuk membantu masyarakat akar rumput menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh secara finansial.
Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha Financial, mengatakan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak optimisme dan tindakan nyata untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tetap inklusif. “Kita perlu terus percaya bahwa kewirausahaan dapat menciptakan peluang, inovasi dapat meningkatkan kualitas hidup, dan kolaborasi dapat membantu masyarakat menghadapi perubahan. Masa depan dipersiapkan oleh kita bersama yang memanfaatkan teknologi untuk memperluas kesempatan dan menciptakan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” jelas Andi Taufan.
Perwakilan International Finance Corporation (IFC), Euan Marshall, Country Manager for Indonesia, menekankan peran penting sektor keuangan dalam mendorong pertumbuhan inklusif dan menciptakan lapangan kerja.
Baca Juga: 7 Manfaat Kacang Merah yang Jarang Diketahui, Kunci Jantung Sehat & Gula Stabil
“Akses terhadap pembiayaan produktif tetap menjadi salah satu faktor utama dalam memperluas peluang di seluruh Asia. Perusahaan sektor swasta, khususnya UMKM, merupakan tulang punggung perekonomian di kawasan ini. Ketika mereka dilengkapi dengan pembiayaan, sarana, dan dukungan yang tepat untuk bertumbuh, mereka dapat menjadi penggerak kuat dalam menciptakan lapangan kerja, membangun ketahanan komunitas, dan mendorong kesejahteraan jangka panjang,” sebut Euan.
Selain akses terhadap modal, teknologi juga menjadi faktor penting dalam mempercepat produktivitas dan membuka peluang baru bagi UMKM akar rumput. Di tengah pesatnya perkembangan AI dan teknologi digital, tantangan utama bukan hanya menghadirkan inovasi, melainkan juga memastikan inovasi tersebut dapat digunakan secara relevan oleh masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.
Bagi kelompok akar rumput, khususnya perempuan, kesehatan finansial tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keluarga, usaha, dan komunitas di sekitarnya. Karena itu, Andi Taufan menegaskan agar ekonomi bisa berdaya tahan dan memiliki daya saing kuncinya terletak pada ekosistem keuangan dan mendorong entrepreneurship lebih berinovasi. Berbekal pemahaman yang mendalam terhadap profil risiko dan kondisi kesehatan finansial pelaku UMKM di Indonesia, Andi Taufan bilang Amartha ingin menjadikan Asia Grassroots Forum dan Indonesian Coalition for Financial Health sebagai wadah kolaborasi yang menghasilkan solusi nyata bagi ekonomi akar rumput.
"Melalui modal yang lebih inklusif, teknologi yang lebih relevan, dan komunitas yang lebih kuat, kita dapat membantu jutaan keluarga dan pelaku UMKM meningkatkan daya saing, memperkuat ketahanan ekonomi, dan meraih hidup yang lebih baik,” tutur Taufan.
Baca Juga: 5 Kombinasi Skincare Ini Bikin Wajah Glowing dan Aman Dipakai Bersamaan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News