MOMSMONEY.ID - Nasi putih merupakan makanan pokok yang hampir selalu ada di meja makan masyarakat Indonesia. Kebanyakan orang lebih menyukai menyantap nasi putih dalam kondisi hangat atau panas karena rasanya yang lebih pulen dan nikmat.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul anggapan bahwa mengonsumsi nasi dingin jauh lebih sehat dibandingkan nasi panas, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan.
Apakah klaim tersebut benar secara medis atau hanya sekadar mitos?
Perbedaan utama antara nasi panas dan nasi dingin terletak pada struktur kimianya, yaitu terbentuknya pati resisten (resistant starch). Proses pendinginan nasi putih menyebabkan perubahan struktur pati yang memengaruhi cara tubuh mencernanya.
Baca Juga: Suka Kulineran? Kesadaran Jaga Kolesterol Perlu Dimulai Sejak Masih Muda
Meskipun keduanya berasal dari beras yang sama, dampak metabolisme keduanya terhadap kadar gula darah dan sistem pencernaan ternyata cukup signifikan.
Melansir Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition, Healthline, dan WebMD, berikut adalah ulasan mendalam mengenai perbandingan nasi panas dan nasi dingin beserta fakta medisnya.
1. Perubahan Struktur Kimia dan Terbentuknya Pati Resisten pada Nasi Dingin
Ketika nasi putih dimasak dan disajikan dalam kondisi panas, maka pati di dalamnya sangat mudah dicerna oleh enzim saluran pencernaan.
Namun, ketika nasi panas didinginkan (biasanya disimpan di dalam lemari es selama 12-24 jam pada suhu sekitar 4°C), terjadi proses kimia alami yang disebut retrogradasi pati. Proses pendinginan ini akan mengubah sebagian pati biasa menjadi pati resisten.
Sesuai namanya, pati resisten adalah jenis karbohidrat yang kebal atau tidak bisa dicerna oleh usus halus. Sehingga, melewati saluran pencernaan tanpa diubah menjadi glukosa.
2. Pengaruh terhadap Indeks Glikemik dan Lonjakan Gula Darah
Nasi putih panas memiliki nilai Indeks Glikemik (GI) yang relatif tinggi. Artinya, setelah dikonsumsi, nasi panas akan dipecah secara cepat menjadi glukosa oleh tubuh, yang kemudian menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara mendadak.
Sebaliknya, pembentukan pati resisten pada nasi dingin secara efektif menurunkan nilai indeks glikemiknya. Karena pati resisten tidak dicerna menjadi gula di usus halus, penyerapan karbohidrat pun berjalan jauh lebih lambat dan bertahap.
Hal ini membuat nasi dingin tidak memicu lonjakan gula darah yang drastis, sehingga sangat menguntungkan bagi penderita diabetes tipe 2 atau individu dengan resistensi insulin.
Baca Juga: 7 Daftar Buah Superfood yang Wajib Dikonsumsi Rutin Setiap Hari
3. Dampak terhadap Pembakaran Kalori dan Pengelolaan Berat Badan
Bagi Anda yang sedang berusaha menurunkan berat badan, nasi dingin menawarkan keunggulan dalam hal pengelolaan kalori harian.
Karena pati resisten pada nasi dingin tidak diserap sebagai kalori oleh tubuh (hanya berfungsi mirip serat), jumlah kalori efektif yang diserap tubuh dari nasi dingin menjadi lebih sedikit dibandingkan nasi panas dengan porsi yang sama.
Selain itu, proses pencernaan yang lambat dari pati resisten memberikan efek kenyang yang bertahan lebih lama di perut. Sehingga, membantu menekan keinginan untuk mengudap atau makan berlebihan secara tidak sadar.
4. Peran Nasi Dingin sebagai Prebiotik untuk Kesehatan Usus
Manfaat lain dari nasi dingin adalah perannya sebagai prebiotik alami bagi mikrobioma usus. Karena pati resisten lolos dari usus halus tanpa dicerna, zat ini akan masuk ke dalam usus besar.
Di usus besar, pati resisten difermentasi oleh bakteri baik (probiotik) dan diubah menjadi asam lemak rantai pendek, khususnya butirat.
Asam lemak butirat ini berfungsi sebagai sumber energi utama bagi sel-sel dinding usus, membantu meredakan peradangan, memperkuat benteng pertahanan usus, serta menjaga kesehatan sistem pencernaan secara keseluruhan.
Jika Anda ingin memanfaatkan kebaikan nasi dingin tapi kurang menyukai teksturnya yang agak keras, Anda sebenarnya boleh menghangatkan kembali nasi yang sudah didinginkan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa mendinginkan nasi selama 24 jam lalu menghangatkannya kembali akan tetap mempertahankan kadar pati resisten yang tinggi.
Namun, pastikan Anda menyimpan nasi dengan benar di dalam wadah tertutup di kulkas untuk menghindari risiko kontaminasi bakteri Bacillus cereus yang dapat menyebabkan keracunan makanan jika nasi dibiarkan di suhu ruang terlalu lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News