MOMSMONEY.ID - Aksara menjadi aplikasi yang membantu pemerintah daerah mencatat, memantau, dan mengevaluasi berbagai upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).
Melalui satu platform, data dari berbagai sektor dapat dikumpulkan sehingga menjadi dasar penyusunan kebijakan lingkungan dan pengelolaan anggaran yang lebih tepat sasaran.
Aksara merupakan singkatan dari Aplikasi Perencanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Aksi Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim yang dikembangkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas.
Cara kerjanya dimulai dari penginputan data oleh pemerintah daerah. Data tersebut berasal dari berbagai sektor, seperti kehutanan, pertanian, energi, transportasi, hingga pengelolaan limbah.
Selanjutnya, seluruh data dipetakan dan dievaluasi secara berkala untuk melihat perkembangan upaya penurunan emisi di masing-masing daerah.
Baca Juga: Langkah Membumi 2026, Ini Rangkaian Programnya yang Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan
Tak hanya mengumpulkan data, Aksara juga membantu meningkatkan kualitas pelaporan. Dengan data yang lebih akurat dan terintegrasi, pemerintah dapat mengukur capaian pembangunan rendah karbon sekaligus menyusun kebijakan yang lebih efektif untuk mendukung target ekonomi hijau.
Keunggulan lainnya, Aksara telah terhubung dengan fitur Climate Budget Tagging melalui platform CONNECT yang dikembangkan bersama Kementerian Keuangan.
Integrasi ini membantu menghubungkan data aksi penurunan emisi dengan anggaran daerah sehingga pembiayaan program terkait iklim dapat dipantau secara lebih transparan.
Kemitraan GIZ mendukung penuh penguatan kapasitas kelembagaan menuju pembangunan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Aplikasi Aksara memiliki peran strategis dalam mengubah catatan administratif aksi penurunan emisi menjadi basis data yang valid untuk memperkuat daya saing ekonomi dan terhadap iklim.
"Penguatan kapasitas daerah ini krusial demi mewujudkan pembiayaan hijau yang tepat sasaran," ujar Karin Allgoewer, Commission Manager Climate and Biodiversity Hub Indonesia GIZ Indonesia & ASEAN, dalam keterangan resmi Kamis (1/7).
Baca Juga: Ingin Lingkungan Lebih Hijau, Ini Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Karin menambahkan Aksara dikembangkan atas dukungan teknis dan pendanaan dari Pemerintah Jerman melalui GIZ sebagai bagian dari kemitraan strategis jangka panjang antara Indonesia dan Jerman dalam mempercepat transisi energi hijau dan pembangunan ekonomi rendah karbon.
Melalui dukungan ini, GIZ membantu memperkuat penyusunan metodologi penghitungan emisi Gas Rumah Kaca yang akurat dan berstandar internasional, integrasi sistem pemantauan, peningkatan kapasitas daerah, serta transisi menuju sistem pelaporan penurunan emisi yang lebih transparan.
Untuk mendukung penerapan Aksara, ratusan perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Lingkungan Hidup dari 38 provinsi mengikuti Lokakarya Nasional Pelaporan Aksi Pembangunan Rendah Karbon di Bogor pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempraktikkan penginputan data emisi dan simulasi perhitungan Indeks Ekonomi Hijau agar pelaporan dari daerah semakin akurat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News