MOMSMONEY.ID - Kanker dan tumor menjadi salah satu penyakit dengan beban kesehatan terbesar pada pekerja perempuan lo, ternyata.
Berdasarkan laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 dari Halodoc for Business, sebanyak 72% pasien kanker merupakan perempuan.
Data tersebut juga menunjukkan, sebagian besar kasus neoplasma atau tumor pada perempuan terjadi di payudara (25%), jaringan lunak (23%), dan rahim (8%).
Chief of Medical Halodoc dr. Irwan Heriyanto menjelaskan, tingginya kasus kanker dan tumor pada perempuan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perbedaan biologis, hormonal, genetik, hingga gaya hidup.
"Perempuan memiliki organ reproduksi dan sistem hormonal yang berbeda dengan laki-laki. Faktor biologis ini memang menjadi salah satu penyebab yang tidak bisa diubah," ujarnya dalam acara media gathering di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga: Kurang Tidur Bikin Metabolisme Lambat? Kenali 4 Penyebab Lain di Sini
Selain faktor biologis, ia mengatakan risiko juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti pola makan yang kurang sehat, paparan polusi atau zat tertentu, stres, hingga faktor keturunan. Namun, menurutnya, setiap individu memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda.
"Semua itu bersifat kompleks. Ada faktor genetik, gaya hidup, lingkungan, hingga hormonal. Setiap orang unik sehingga pemicunya juga bisa berbeda," katanya.
Meski demikian, Irwan menekankan, tidak semua tumor merupakan kanker. Berdasarkan data klinis WHO, sekitar 90% benjolan baru di payudara bukan merupakan kanker, sedangkan hanya sekitar 10% yang terdiagnosis sebagai kanker payudara.
Sebagian besar neoplasma yang ditemukan pada perempuan juga bersifat jinak, yakni tumbuh lambat, tidak menyebar ke organ lain, dan umumnya menetap di satu lokasi.
Tumor jinak paling sering ditemukan pada perempuan berusia 30-40 tahun, sedangkan insiden kanker mencapai puncaknya pada kelompok usia 40-49 tahun.
Baca Juga: Gatal Tak Kunjung Reda? Hati-Hati, Bisa Jadi Tanda Penyakit Ginjal lo, Ini Cirinya
Sejalan dengan itu, riset Cancer Research UK menunjukkan, risiko seseorang mengalami kanker meningkat seiring bertambahnya usia. Hal tersebut terjadi karena sel-sel tubuh secara alami mengakumulasi mutasi genetik dan kerusakan jaringan sepanjang hidup.
Karena itu, Irwan mengingatkan pentingnya melakukan skrining secara rutin agar kanker dapat dideteksi pada stadium awal.
“Kalau diketahui saat stadium lanjut atau sudah metastasis, penanganannya jauh lebih sulit. Karena itu lakukan skrining sedini mungkin, terutama jika muncul benjolan atau keluhan yang tidak kunjung sembuh dan terus berulang," ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, serta tidak menunda pemeriksaan ketika muncul gejala yang mencurigakan.
“Intinya ada faktor genetik, ada gaya hidup, ada lingkungan. Semuanya kompleks. Yang paling penting adalah melakukan skrining sejak dini agar peluang pengobatan lebih baik," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News