MOMSMONEY.ID - Simak panduan literasi keuangan ini agar paham uang, kredit, dan utang, serta lebih bijak mengambil keputusan finansial sehari-hari.
Literasi keuangan kini bukan lagi topik eksklusif bagi pakar ekonomi, melainkan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia usia 18 tahun ke atas.
Di tengah kenaikan harga kebutuhan dan kemudahan akses kredit, pemahaman tentang uang menjadi penentu kestabilan hidup sehari-hari.
Literasi keuangan membantu seseorang mengambil keputusan yang rasional, bukan emosional, dalam mengatur penghasilan dan pengeluaran.
Melansir dari Britannica Money, literasi keuangan berperan besar dalam mencegah kesalahan finansial yang sering tidak disadari dampaknya dalam jangka panjang. Dengan pemahaman yang tepat, siapa pun bisa membangun rasa aman finansial secara bertahap dan realistis.
“Literasi keuangan adalah kemampuan dasar memahami keputusan uang sehari-hari yang secara langsung membentuk arah hidup seseorang,” ujar Debbie Carlson, penulis dan pemerhati edukasi keuangan Britannica Money.
Baca Juga: Cara Mudah Mengatur Daftar Belanja Bulanan Biar Uang Tidak Cepat Habis
Apa itu literasi keuangan dan mengapa penting?
Literasi keuangan adalah kemampuan memahami cara kerja uang dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bagaimana seseorang memperoleh penghasilan, mengelolanya, menabung, menggunakan kredit, hingga melindungi diri dari risiko keuangan.
Literasi ini tidak menuntut kemampuan membaca laporan ekonomi yang rumit, tetapi lebih pada kecakapan membuat pilihan yang masuk akal.
Tanpa literasi keuangan, banyak orang merasa sudah bekerja keras namun kondisi keuangan tidak pernah membaik. Hal ini sering terjadi karena keputusan kecil yang diambil tanpa pemahaman, seperti pengeluaran berlebihan atau penggunaan kredit tanpa perhitungan.
Memahami aliran uang lewat kebiasaan mencatat pengeluaran
Langkah paling praktis dalam membangun literasi keuangan adalah mengetahui ke mana uang pergi setiap bulan. Mencatat pengeluaran bukan berarti hidup serba dibatasi, melainkan menciptakan kesadaran finansial. Dengan data pengeluaran, seseorang dapat melihat kebiasaan yang selama ini luput dari perhatian.
Banyak orang baru menyadari adanya pemborosan setelah melihat catatan keuangan secara menyeluruh. Dari sinilah perubahan bisa dimulai secara bertahap tanpa tekanan berlebihan.
Skor kredit dan pengaruhnya terhadap kehidupan finansial
Skor kredit adalah gambaran seberapa baik seseorang mengelola uang pinjaman. Angka ini menjadi acuan pihak pemberi kredit dalam menilai risiko.
Skor yang baik menunjukkan kebiasaan pembayaran yang sehat, sedangkan skor rendah sering berujung pada biaya pinjaman yang lebih mahal.
Memiliki skor kredit yang sehat bukan hanya penting saat mengajukan pinjaman, tetapi juga mencerminkan kedisiplinan finansial. Selisih kecil pada suku bunga dapat berdampak besar pada total pembayaran dalam jangka panjang.
Baca Juga: 7 Hari Cara Praktis Menata Ulang Keuangan agar Lebih Aman dan Terkendali
Faktor utama yang memengaruhi skor kredit
Penilaian skor kredit umumnya mempertimbangkan beberapa aspek penting. Riwayat pembayaran menjadi faktor paling dominan karena mencerminkan konsistensi seseorang dalam memenuhi kewajiban.
Selain itu, jumlah utang yang digunakan, lamanya riwayat kredit, pembukaan akun baru, serta variasi jenis kredit juga turut berpengaruh.
Memahami faktor ini membantu masyarakat lebih bijak, misalnya dengan menghindari keterlambatan pembayaran dan tidak menggunakan batas kredit secara berlebihan.
Suku bunga dan konsep nilai waktu uang
Suku bunga adalah elemen penting dalam literasi keuangan karena efeknya sangat besar dalam jangka panjang. Saat berutang, bunga bisa memperberat beban pembayaran. Namun saat menabung atau mengembangkan dana, bunga justru menjadi alat pertumbuhan.
Konsep bunga majemuk menjelaskan bagaimana uang bisa bertambah atau justru membengkak tergantung keputusan yang diambil. Inilah alasan mengapa menabung dan mengelola keuangan sejak dini memberikan keuntungan signifikan di masa depan.
Risiko tersembunyi dari pembayaran minimum
Pembayaran minimum sering terlihat aman dan ringan, tetapi sebenarnya menyimpan risiko. Karena bunga terus berjalan, pembayaran minimum membuat utang sulit berkurang secara signifikan.
Banyak orang terjebak dalam siklus pembayaran panjang tanpa menyadari bahwa sebagian besar dana hanya menutup bunga.
Dengan memahami mekanisme ini, masyarakat dapat mengambil langkah lebih bijak, seperti membayar lebih dari jumlah minimum untuk mempercepat pelunasan.
Waspada biaya kecil yang berdampak besar
Biaya tambahan seperti keterlambatan pembayaran atau administrasi sering dianggap sepele. Padahal jika terjadi berulang, biaya ini dapat menggerus keuangan secara perlahan.
Literasi keuangan membantu seseorang lebih teliti membaca ketentuan dan memahami konsekuensi finansialnya.
Tidak semua utang bersifat buruk. Utang dengan perencanaan matang bisa membantu mencapai tujuan, sementara utang berbunga tinggi tanpa strategi justru berisiko menekan kondisi keuangan.
Baca Juga: 6 Resolusi Keuangan Keluarga di 2026 agar Sang Anak Lebih Siap Mengelola Uang
Literasi keuangan adalah keterampilan hidup yang relevan di segala usia dewasa. Dengan memahami aliran uang, kredit, bunga, dan biaya tersembunyi, masyarakat dapat terhindar dari kesalahan finansial yang merugikan.
Prosesnya tidak harus sempurna atau instan, cukup dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Di era modern, literasi keuangan bukan lagi pilihan, melainkan bekal penting untuk hidup lebih tenang dan berdaya secara finansial.
Selanjutnya: Menimbang Investasi Valas dalam Portofolio Pribadi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News