M O M S M O N E Y I D
Bugar

Langkah yang Perlu Dilakukan Jika Menemukan Gejala Mpox

Langkah yang Perlu Dilakukan Jika Menemukan Gejala Mpox
Reporter: Benedicta Prima  |  Editor: Benedicta Alvinta


MOMSMONEY.ID - Seseorang yang terinfeksi Mpox tetap membutuhkan pengobatan. Lakukan langkah ini jika Anda menemukan gejala Mpox ya Moms!

Melansir situs resmi Kementerian Kesehatan, salah satu gejala khas dari Mpox adalah pembengkakan kelenjar getah bening di beberapa anggota tubuh. Pembengkakan bisa terjadi pada bagian leher, ketiak maupun selangkangan. 

Baca Juga: Jennifer Bachdim Ungkap Rahasia Rawat Anak

Gejala Mpox yang perlu diketahui

Gejala awal Mpox biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 21 hari setelah terpapar virus. Gejala mencakup demam, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening dan ruam kulit yang berkembang secara bertahap. 

Ruam kulit dimulai satu sampai tiga hari sejak demam. Kemudian berjembang menjadi bintik kemerahan seperti cacar, lepuh berisi cairan bening dan nanah, kemudian mengeras lalu rontok. 

Beberapa orang yang terkonfirmasi positif Mpox mungkin saja bergejala ringan, sementara mereka yang berisiko tinggi seperti orang-orang dengan penyakit kekebalan tubuh dapat mengalami gejala lebih berat sehingga memerlukan perawatan di fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Dapatkan BB Ideal dengan Konsumsi Menu Diet Cepat Kurus Berikut Ini, Yuk!

Langkah yang perlu dilakukan jika menemukan gejala Mpox

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH menjelaskan, pengobatan untuk seseorang yang terinfeksi virus Mpox (MPXV) difokuskan untuk meredakan gejala yang dialami.

Pernyataan ini sekaligus merespons narasi di media sosial yang menyebut bahwa kalau terkena Mpox, tidak membutuhkan obat apapun karena tidak ada obat untuk virus tersebut. Narasi tersebut juga menganjurkan orang yang terkonfirmasi positif Mpox hanya perlu tidur dan memperbanyak konsumsi protein hewani.

Lebih lanjut, Kementerian Kesehatan menyarankan agar seseorang yang mengalami gejala Mpox segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan. Tujuan utama dari pemeriksaan ini untuk memastikan apakah gejala yang muncul disebabkan oleh Mpox atau penyakit lain.

Sebab, seseorang yang menunjukkan gejala Mpox belum tentu terkonfirmasi positif. Jika seseorang dinyatakan positif, dokter atau tenaga kesehatan dapat secepatnya melakukan perawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Baca Juga: 4 Fakta Tentang Vitiligo yang Harus Anda Tahu, Apakah Vitiligo Menular?

Jika seseorang mengalami ruam yang disertai demam atau sakit, orang tersebut harus segera menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan setempat dan memberikan informasi yang dibutuhkan.

Selanjutnya, jika seseorang memenuhi kriteria suspek, probable, dan terkonfirmasi positif Mpox, orang tersebut harus segera isolasi diri hingga gejalanya hilang. Selama periode ini, pasien dapat menerima perawatan suportif untuk meringankan gejala yang dialami.

Jika hasilnya positif Mpox, pasien harus mengisolasi diri hingga semua ruam atau lesi pada kulit telah menjadi keropeng, keropeng terkelupas, dan lapisan kulit baru terbentuk. Upaya ini guna mencegah penularan virus Mpox kepada orang lain.

Pengobatan yang dilakukan bagi penderita Mpox

Penyakit Mpox memang karena virus dan masa inkubasinya 21 hari. Setelah melewati masa inkubasi, ruam atau lesi akan kering, mengelupas, dan menjadi kulit baru. 

Baca Juga: BMKG Deteksi Bibit Badai Siklon Tropis 93W, Cuaca Hujan Deras di Provinsi Ini

Akan tetapi, pada saat perjalanan inkubasinya, seseorang bisa mengalami demam tinggi, sakit kepala. Inilah yang ditangani dengan menggunakan obat simptomatik.

Obat simptomatik adalah jenis obat yang digunakan untuk meredakan gejala umum pada suatu penyakit. Selain obat simptomatik, pengobatan Mpox dapat melibatkan penggunaan antivirus. 

Berdasarkan “Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Mpox (Monkeypox)” yang diterbitkan Kemenkes pada 2023, antivirus yang dikembangkan dan disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk penanganan Mpox, yaitu tecovirimat, cidofovir, dan brincidofovir.

Pemberian antivirus dilakukan setelah pasien berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Hal ini mempertimbangkan kondisi pasien dan gejala yang dialami.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

5 Efek Samping Berlebihan Minum Matcha bagi Kesehatan

Tahukah bahwa ada beberapa efek samping berlebihan minum matcha bagi kesehatan, lo. Cari tahu selengkapnya di sini, yuk!

Desainer Interior Ungkap Rahasia Rumah Terasa Tenang Tanpa Renovasi

Cek cara mudah membuat rumah terasa lebih tenang tanpa renovasi yuk. Berikut langkah sederhana dari desainer interior yang sering diabaikan.​

Cara Mengelola Kekayaan Jangka Panjang biar Stabil dan Terus Bertumbuh

Simak cara mengelola kekayaan jangka panjang ini agar aset tetap berkembang, tahan inflasi, dan membantu mencapai tujuan finansial masa depan.​

5 Ide Dapur Kuno yang Kembali Tren di Rumah Modern, Hangat dan Fungsional

Simak, yuk, ide dapur kuno nostalgia yang kembali tren di rumah modern, dari terakota hingga sudut sarapan yang bikin dapur Anda terasa hangat.​

Pengertian Krisis Ekonomi: Penyebab, Dampak, dan Cara Cerdas Menghadapinya

Simak penjelasan tentang krisis ekonomi, mulai dari penyebab, dampak bagi banyak orang hingga cara bijak menghadapi kondisi ekonomi tidak stabil.​

12 Rekomendasi Ikan yang Mengandung Banyak Protein, Bagus untuk Kesehatan

Cek beberapa rekomendasi ikan yang mengandung banyak protein berikut ini, yuk! Mau coba konsumsi?        

10 Kebiasaan yang Bantu Menjaga Gula Darah Tetap Stabil

Ini, lo, beberapa kebiasaan yang bantu menjaga gula darah tetap stabil. Intip selengkapnya di sini, yuk!

7 Jenis Ikan Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Otak

Ternyata ini, lho, beberapa jenis ikan terbaik untuk menjaga kesehatan otak. Apa sajakah itu?        

8 Makanan Sumber Lemak Sehat yang Dapat Anda Coba Konsumsi

Ada beberapa makanan sumber lemak sehat yang dapat Anda coba konsumsi. Mari intip selengkapnya di sini!

8 Rekomendasi Sayuran yang Tinggi Zat Besi, Cek di Sini!

Intip beberapa rekomendasi sayuran yang tinggi zat besi berikut ini, yuk! Ada apa saja, ya?