MOMSMONEY.ID - Bertahan di industri kopi selama lebih dari satu dekade bukan perkara mudah. Di tengah persaingan yang semakin ketat, Toko Kopi Tuku membagikan sejumlah kunci yang membuat bisnisnya terus berkembang hingga memasuki usia ke-11.
Pertama, Tuku menempatkan hubungan dengan pelanggan sebagai fondasi utama bisnis. Perusahaan menilai pertumbuhan bukan hanya soal membuka gerai baru, tetapi juga menjaga kedekatan dengan pelanggan atau yang mereka sebut sebagai "tetangga" agar tetap relevan di tengah perubahan.
Kedua, Tuku tidak hanya mengejar ekspansi. Berawal dari satu toko di Cipete Raya pada 2015, kini Tuku telah memiliki 80 gerai di 11 kota, termasuk Amsterdam. Namun, perusahaan menegaskan setiap pembukaan toko baru juga menjadi cara membangun hubungan yang lebih luas sekaligus membuka lapangan kerja.
Baca Juga: Ada yang Baru di Starbucks, Minuman Berprotein hingga Football Bearista Cup
Ketiga, Tuku berupaya tetap bertumbuh meski industri menghadapi berbagai tantangan. Di tengah tekanan ekonomi, perubahan karakter kopi akibat cuaca, dan dinamika rantai pasok, perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 44% secara tahunan pada 2025. Sementara itu, laba bersih meningkat 8%.
Keempat, Tuku membangun bisnis dengan melibatkan seluruh ekosistem, mulai dari petani, barista, UMKM, hingga mitra pengelola limbah. Perusahaan juga menjalankan program penanaman lebih dari 13.000 pohon serta mengolah limbah kemasan kopi menjadi produk bernilai guna bersama pelaku UMKM.
CEO & Founder Tuku, Andanu Prasetyo, mengatakan perjalanan selama 11 tahun tersebut tidak lepas dari dukungan para pelanggan.
"Karena pada akhirnya, TUKU bukan hanya tentang kopi, tetapi tentang berbagi cerita, berbagi hari, dan berbagi hidup," ungkapnya Kamis (25/6) malam di perayaan hari jadi Tuku yang ke-11.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News