MOMSMONEY.ID - Ketika seseorang dinyatakan terkena kanker payudara, yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pengobatan. Tetapi juga mencakup deteksi dini, rehabilitasi, dan dukungan emosional untuk menjaga kualitas hidup pasien.
Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan perempuan adalah mengenali kondisi payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin setiap bulan.
Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi perubahan yang tidak biasa, seperti benjolan pada payudara atau ketiak, perubahan bentuk dan ukuran payudara, perubahan kulit, hingga perubahan pada puting.
Meski demikian, Sadari bukan metode untuk memastikan diagnosis kanker. Perempuan yang menemukan benjolan atau perubahan mencurigakan perlu segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan klinis, USG payudara, mammografi, atau metode pencitraan lain sesuai usia, faktor risiko, dan kondisi pasien. Jika ditemukan kelainan, biopsi dapat dilakukan untuk mengambil sampel jaringan yang kemudian diperiksa di laboratorium.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM menjelaskan, biopsi berperan penting dalam memastikan diagnosis dan mengetahui karakteristik tumor.
“Biopsi dan pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui karakteristik tumor sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai,” jelas dr. Jeffry dalam media & community gathering bertajuk Every Story is Unique, Every Journey Matters, Rabu (28/10).
Baca Juga: Cuma 10 Menit! Ini 5 Manfaat Pijat Payudara Termasuk Mendeteksi Kanker Lebih Dini
Menurutnya, kanker payudara memiliki beberapa subtipe, antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple-negative. Setiap subtipe mempunyai karakteristik biologis berbeda yang menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan terapi.
Sementara Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk bilang, penanganan kanker payudara perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan menyeluruh, termasuk stadium penyakit, karakteristik tumor, dan kemungkinan penyebaran kanker.
Pilihan pengobatan dapat mencakup operasi, kemoterapi, terapi hormonal, terapi target, radioterapi, atau kombinasi beberapa metode. Jenis dan urutan terapi ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Dalam tindakan bedah, terdapat mastektomi, yakni pengangkatan seluruh jaringan payudara, serta breast conserving surgery (BCS), yaitu operasi untuk mengangkat jaringan kanker dengan mempertahankan sebagian jaringan payudara.
Pada pasien tertentu, kemoterapi dapat diberikan sebelum operasi untuk membantu mengecilkan tumor. Namun, pendekatan ini tidak berlaku bagi semua pasien karena rencana terapi bergantung pada hasil pemeriksaan dan pertimbangan tim medis.
“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujar dr. Denni.
Ia menambahkan, perkembangan metode pengobatan memungkinkan dokter mempertimbangkan tindakan yang lebih terukur untuk mengendalikan penyakit sekaligus meminimalkan dampak terapi yang tidak diperlukan.
Baca Juga: 6 Manfaat Pijat Payudara untuk Perempuan, Bantu Deteksi Kanker Sejak Dini
Dengan pendekatan tersebut, pasien diharapkan tidak hanya mendapatkan pengobatan yang sesuai, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempertahankan fungsi tubuh dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Selain pengobatan, rehabilitasi medik menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan kanker payudara. Proses ini dapat dimulai sebelum operasi dan dilanjutkan setelah tindakan medis, sesuai kebutuhan pasien.
Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Subspesialis Kardiorespirasi) MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa rehabilitasi membantu pasien mempersiapkan kondisi fisik, mengatasi kelelahan, dan mendukung pemulihan fungsi tubuh.
Setelah operasi, rehabilitasi dapat mencakup latihan rentang gerak bahu, penguatan otot, serta penilaian dan penanganan limfedema atau pembengkakan lengan apabila diperlukan.
Menurut dr. Anita, terdapat tiga aspek latihan yang dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi, yakni latihan pernapasan (breathing), penguatan otot (strengthening), dan ketahanan fisik (endurance).
Latihan tersebut bertujuan membantu pasien mengelola ketegangan, mempertahankan massa otot, dan meningkatkan kemampuan beraktivitas secara bertahap.
“Setelah semua pengobatan selesai, bukan berarti dampak dari pengobatan pun selesai. Diperlukan rehabilitasi dini yang dilakukan secara kontinu dan direncanakan sesuai kondisi tiap pasien,” jelas dr. Anita.
Baca Juga: 8 Buah dan Sayur Sehat untuk Rawat Kesehatan Payudara, Bisa Cegah Kanker Payudara
Program rehabilitasi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, jenis pengobatan, serta kemampuan fisik pasien. Karena itu, latihan sebaiknya dilakukan berdasarkan arahan dokter atau tenaga rehabilitasi medik.
Pentingnya rehabilitasi dirasakan langsung oleh Flavia Sungkit, penyintas kanker payudara yang didiagnosis pada 2022 ketika usianya masih awal 30-an.
Flavia menemukan benjolan keras dengan bentuk tidak rata saat melakukan SADARI. Ia kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi, yang menunjukkan kanker payudara stadium 1.
Setelah menjalani pengobatan, Flavia juga mengikuti rehabilitasi medik untuk membantu memulihkan fungsi tubuh. Seusai operasi, ia sempat mengalami keterbatasan gerak sehingga tidak bisa mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Ia kemudian mulai berolahraga secara bertahap, diawali dengan berenang, dilanjutkan pilates, fisioterapi, dan latihan kekuatan dengan pendampingan pelatih pribadi.
Seiring waktu, kemampuan fisiknya meningkat. Pada 2026, Flavia mengaku telah dua kali mendaki gunung. Pengalaman ini menunjukkan, pemulihan setelah pengobatan kanker dapat berlangsung secara bertahap dan berbeda pada setiap pasien.
Rehabilitasi yang sesuai kebutuhan dapat membantu pasien kembali menjalani aktivitas sehari-hari maupun kegiatan yang mereka sukai.
Baca Juga: 6 Manfaat Pijat Payudara untuk Perempuan, Bantu Deteksi Kanker Sejak Dini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News