MOMSMONEY.ID - Investasi kini semakin praktis dengan hadirnya fitur auto-debit. Fitur ini memungkinkan investor menyisihkan dana secara otomatis sesuai jadwal yang ditentukan, sehingga tidak perlu repot melakukan transaksi investasi setiap bulan.
Namun, kemudahan tersebut bukan berarti investasi bisa benar-benar ditinggalkan. Portofolio tetap perlu dipantau dan dievaluasi secara berkala agar strategi yang digunakan tetap sesuai dengan tujuan finansial dan profil risiko investor.
Prinsip ini dikenal sebagai set and don’t forget, yakni investasi dibuat otomatis untuk menjaga konsistensi, tetapi portofolionya tetap ditinjau secara berkala.
“Investasi bukan sekadar konsistensi menyisihkan uang, tetapi juga memastikan dana yang ditempatkan tetap relevan dengan tujuan finansial,” ujar Nyoman Sukmawati, Head of Wealth Management Bank Jago, dalam keterangan resmi, Senin (31/8/2026).
Menurut Nyoman, ada sejumlah alasan yang membuat investor perlu melakukan review portofolio. Tujuan keuangan dapat berubah, kondisi pasar bergerak, dan profil risiko investor juga dapat bergeser seiring perubahan kondisi kehidupan.
Baca Juga: Tak Perlu Tunggu Gaji Besar, Ini Cara Generasi Muda Mulai Bangun Aset Sejak Dini
Investor ritel pun tidak harus memantau portofolio setiap hari. Setidaknya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat melakukan review investasi.
1. Cek komposisi aset
Perubahan nilai aset dapat membuat komposisi portofolio ikut berubah. Karena itu, investor dapat melakukan rebalancing jika diperlukan agar alokasi aset tetap sesuai dengan strategi dan profil risikonya.
Sebagai contoh, investor yang masih single mungkin memiliki alokasi investasi yang lebih agresif. Namun, setelah menikah, memiliki tanggungan, atau mengalami perubahan kondisi keuangan, kebutuhan dan toleransi risikonya bisa ikut berubah.
Dalam kondisi tersebut, investor dapat menyesuaikan kembali alokasi investasi agar sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan terbaru.
2. Jangan hanya melihat investasi merah atau hijau
Kinerja investasi juga perlu dievaluasi dengan melihat periode investasi, kondisi pasar, serta benchmark yang sesuai.
Misalnya, sebuah reksa dana saham turun 8% dalam satu bulan, sementara benchmark pada periode yang sama turun 10%. Meski nilai investasi mengalami penurunan, kinerja reksa dana tersebut sebenarnya masih relatif lebih baik dibandingkan benchmark.
Karena itu, investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena melihat portofolionya sedang berada di zona merah.
Baca Juga: Uang Receh Belanja Bisa Jadi Investasi Lo, Begini Cara Melakukannya
3. Sesuaikan dengan tujuan penggunaan dana
Semakin dekat waktu penggunaan dana, semakin penting bagi investor untuk mempertimbangkan kembali tingkat risiko investasinya.
Misalnya, seorang investor menargetkan dana Rp100 juta untuk uang muka rumah dalam tiga tahun. Strategi investasi yang sesuai ketika target masih jauh belum tentu cocok ketika waktu penggunaan dana semakin dekat.
Penyesuaian diperlukan agar fluktuasi pasar tidak mengganggu kebutuhan dana yang sudah semakin dekat.
Di sisi lain, melakukan review investasi juga bisa menjadi tantangan ketika aset investor tersebar di berbagai platform. Investor harus membuka beberapa aplikasi untuk melihat kepemilikan reksa dana, saham, maupun instrumen investasi lainnya.
Untuk memudahkan hal tersebut, Aplikasi Jago menyediakan tampilan portofolio investasi yang terhubung dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Melalui fitur tersebut, investor dapat melihat nilai total aset yang tersebar di berbagai platform brokerage yang terdaftar di KSEI dalam satu tampilan. Investor juga dapat melihat secara lebih rinci aset yang dimiliki pada masing-masing platform brokerage.
Dengan begitu, konsep set and don’t forget bukan berarti investor mengatur investasi kemudian benar-benar melupakannya.
Otomatisasi dapat dimanfaatkan untuk membantu membangun kebiasaan investasi secara konsisten, sementara review berkala tetap diperlukan untuk memastikan dana yang diinvestasikan masih berada di jalur yang sesuai dengan tujuan finansial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News