MOMSMONEY.ID - Perluasan ekspor tidak hanya menjadi fokus bagi korporasi berorientasi ekspor, tetapi juga harus sudah menjadi salah satu tujuan bisnis bagi usaha mikro, kecil dan menengan (UMKM). Apalagi Indonesia menurut Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah memiliki 25 perjanjian perdagangan yang sudah berjalan serta masih ada 13 perjanjian perdagangan lagi yang masih proses negosiasi.
Sejalan dengan itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk masuk ke pasar global. Salah satunya, melalui program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor).
Melalui program tersebut, Kemendag memberikan fasilitasi mulai dari kurasi produk, pencarian dan pertemuan dengan buyer melalui penjajakan kerja sama bisnis (business matching), pendampingan desain, hingga dukungan perwakilan perdagangan Indonesia di negara tujuan ekspor.
Baca Juga: Program Pendampingan Usaha Masih Menjadi Penopang UMKM
Hasilnya pada Januari–Agustus 2026, UMKM BISA Ekspor telah mencatatkan nilai transaksi ekspor sebesar US$ 347 juta dan sebagian besar merupakan UMKM yang belum pernah ekspor.
Menteri Busan juga mengajak pelaku usaha, termasuk UMKM peserta Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SMEs Expo (JITEX) 2026 yang berlangsung 16—19 September 2026 untuk memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 pada 14–18 Oktober 2026.
Ia menekankan, TEI menjadi momentum bagi eksportir termasuk UMKM untuk memperluas pasar dan mendapatkan mitra dagang.
Selain mendorong ekspor, Kemendag juga memperluas akses UMKM ke pasar dalam negeri melalui kerja sama dengan ritel modern.
Baca Juga: Jualan Online Makin Ramai, Ini Tantangan UMKM di Era Digital
Kemendag memfasilitasi produk UMKM yang memenuhi persyaratan kualitas dan daya saing untuk masuk ke jaringan ritel modern, sehingga akses pasarnya lebih luas dan berkelanjutan. Untuk itu Kemendag bekerja sama dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).
“Produk-produk lokal kita sudah banyak dijual di ritel modern. Syaratnya, produk harus berkualitas dan berdaya saing. Kalau produknya memiliki standar, Hippindo sudah siap untuk menampung produk UMKM,” kata Mendag Busan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News