MOMSMONEY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini berpotensi bergerak mixed dan cenderung terbatas. Pergerakan pasar saham domestik sepekan ini, yang lebih singkat dari biasanya, diperkirakan akan diwarnai perkembangan sejumlah dinamika geopolitik.
Menurut Hari Rachmansyah, Equity Analyst, Indo Premier Sekuritas (IPOT), baru-baru ini, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow.
Sementara, kekhawatiran terkait potensi wabah hantavirus tampak tidak terlalu mengganggu pasar. Data dari platform prediksi Kalshi, menunjukkan probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya 21%. Angka ini mengindikasikan pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan.
Di sisi lain, perhatian pasar global kini tertuju pada pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, di mana isu perang Iran diperkirakan akan mendominasi agenda pembahasan.
"Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat," jelas Hari mengutip siaran pers, Senin (11/5).
Baca Juga: Pasca-Trump Tolak Proposal Iran, Harga Emas Hari Ini Tumbang di bawah US$ 4.700
Dari sisi domestik, lanjut Hari, terdapat sejumlah agenda dan perkembangan kebijakan yang akan dicermati pelaku pasar dalam waktu dekat.
"Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” tuturnya.
Dari sisi kebijakan, kata Hari, usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak, menjadi sentimen pelemahan.
Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada rencana kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan, turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi sub sektor nikel dan batubara. Sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek.
Rekomendasi trading saham sepekan
Menurut Hari, agenda rebalancing MSCI pada 12 Mei berpotensi memicu rotasi portofolio, dapat menciptakan volatilitas jangka pendek pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Sementara, bayang-bayang kebijakan kenaikan royalti mineral serta wacana bea ekspor dan windfall tax, diperkirakan akan terus menekan saham-saham sektor pertambangan dan energi secara struktural.
Baca Juga: IHSG Turun Lagi ke Level 6.800-an, Saham Kesehatan Malah Menduduki Top Gainers
Dengan investor asing yang masih mencatatkan jual bersih atau net sell dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang meyakinkan, maka penguatan indeks akan sangat bergantung pada kekuatan aliran dana domestik dan kemampuan saham-saham big caps di luar sektor minerba untuk mengimbangi tekanan. Ini menjadikan selektivitas sektor sebagai kunci utama navigasi portofolio pekan ini.
"Dalam kondisi ini investor disarankan tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar masih relatif tinggi serta potensi perubahan sentimen yang cepat," saran Hari.
Berikut rekomendasi saham sepekan dari IPOT:
- Buy PNLF (Target harga: Rp 290 dan Stop loss: Rp 268).
Emiten PT Panin Financial Tbk atau PNLF masih berpotensi bergerak uptrend. Potensi minggu ini PNLF bisa bergerak dalam range area Rp 268-Rp 290.
- Buy BDMN (Target harga: Rp 5.250, Stop loss: Rp 4.030).
Secara teknikal, saham emiten PT Bank Danamon Indonesia Tbk atau BDMN masih bergerak uptrend, yang disebabkan oleh rumor akuisisi Bank Danamon dengan MUFG selaku pemegang saham pengendali.
- Buy MAPI (Target harga: Rp 1.605, Stop loss: Rp 1.385).
Emiten PT Mitra Adiperkasa Tbk atau MAPI membentuk candle marubozu bullish. Ditambah juga ada akumulasi asing selama 1 minggu terakhir mencapai Rp 11,8 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News